Wisata Sumenep

Sejarah Sumenep

Sejarah Kabupaten Sumenep

 

 

LELUHUR DI TANAH MADURA

 

1.1     Awal Kedatangan Leluhur

Pada kurun waktu antara 4000-2000 SM, terjadi perpindahan bangsa-bangsa secara besar-besaran dari Asia Tenggara. Perpindahan itu terjadi, karena semakin pesatnya perkembangan kebudayaan mreka, sehingga memperluas ilayah kekuasaannya menuju ke arah selatan. Mengalirnya migrasi bangsa Cina itu, mengakibatkan bangsa Burma, Thai dan Vietnam terpaksa menyingkir ke arah selatan.

Perpindahan mereka melahirkan cikal bakal bangsa-bangsa Protomelayu yang pada saat itu bermukim di wilayah Burma, Siam dan Indochina. Perpindahan kelompok bangsa-bangsa tersebut menyebar ke bebagai wilayah, sebagian dari mereka terpaksa pindah ke daerah pantai. Namun tidak sedikit diantara mereka yang terus menuju ke arah selatan, mengarungi laut ataupun melewati Semenanjung Malaya, kemudian menyeberangi laut hingga mencapai pulau-pulau di Nusantara.

Proses perindahan melintasi lautan tersebut berlangsung secara bertahap. Umumnya dari mereka berangkat secara bekelompok dalam kurun waktu 2000 tahun. Karena mereka meninggalkan tanah asalnya tidak secara bersamaan, maka kelompok-kelompok tersebut tiba di berbagai pulau yang berbeda di kepulauan Nusantara. Pada mulanya mereka serumpun bangsa dan bahasanya, namun kemudian akibat dari perbedaan geografis menyebabkan terjadinya perbedaan yang semakin kentara. Pembauran dengan kelompok-kelompok berbeda (bangsa Deuteromelayu) yang datang belakangan, semakin memperkuat adanya perbedaan-perbedaan bahasa dan dialek.

Namun demikian, diantara perbedaan yang terbentuk masih dapat disaksikan adanya persamaan mendasar diantara mereka. Misalnya kesamaan dalam cara menamakan benda-benda yang ada di sekitarnya, padi, pandan, ubi, udang, hujan, batu di sekelilingnya, atau bentuk penyebutan nama seseorang berdasarkan nama anak sulungnya. Kesamaan itu dapat dijumpai pada penggunaan kata bantu (ekor, batang, lembar, buah) dalam menghitung suatu. Kemudaian mereka memeliki kesamaan dalam kesukaannya dalam mengkonsumsi ikan kering yang diasinkan dan dibusukkan (terasi, petis) atau makanan yang diragi. Mereka juga sama-sama senang mengadu ayam. Begitupula warna kulit bentuk muka, perawakan badan serta sifat fisik lainnya menunjukkan, bahwa orang-orang Nusantara itu berasal dari rumpun bangsa yang sama.

Salah satu dari kelompok bangsa yang berpindah dengan mengarungi laut itu terdampar ke suatu pulau kecil yang terletak di utara, ujung timur pulau Jawa. Para pendatang ini lalu menetap disana untuk kemudian menjadi nenek moyang bnagsa Madura. Seperti bangsa Piah, Campa dan Jai Kocincina, mereka mengacu pada apai dengan nama apoi, menyebut istrinya bine dan memakai kata ella untuk menyatakan sudah.

Berbeda dengan bangsa-bangsa lainyya. Bahasa mereka mengenal konsonan rangkap seperti bassa, cacca, daddi, kerrong dan pennai. Kalau dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang mendiami pulau-pulau di sekitarnya, karakteristik leluhur orang Madura ini umumnya memiliki tengkorak yang celah matanya lebar mendatar dengan tulang pipi lebih menonjol. Raut muka mereka tidak begitu halus dan warna kulitnya lebih gelap.

Penduduk aslai itu masih berkebudayaan batu tua (paeolitik). Sementara pendatang baru dari utara itu telah memiliki kebudayaan batu baru (neolitik), seperti ditunjukkan oleh peninggalan mereka yag ditemukan di Madura. Mereka telah memiliki kemampuan mengupam ataua mengasah batu menjadi beliung atau kapak persegi, yang dapat pula dijadikan pacul.

Setelah ratusan tahun di Madura, para pendatang baru itu beranak-pinak dan menyebar ke seluruh pulau. Bahkan pulau-pulau kecil di sekitar Madura dihuni nya juga, seperti pulau Sepudi dan Kangean di timur, pulau Mandangil di selat Madura, dan pulau Masalembu serta Bawean di laut Jawa. Mereka bermukim dalam kelompok–kelompok yang besarnya ditentukan oleh kesuburan tanah atau daya dukung ekologis setempat. Beberapa kelompok jumlahnya sampai ratusan orang, kemudian membentuk satuan pemukiman tersendiri. Namun antara kelompok yang terbentuk masih terikat satu sama lain oleh kesamaan bahasa. Keragaman kelompok itu kemudian memunculkan dialek setempat dari barat (Bangkalan), tengah (Sampang dan Pamekasan), timur (Sumenep) dan ujung paling timur (Kangean).

Peninggalan purbakala berupa kapak dan bejana perunggu (sebagai wuju peradapan Dongson) memiliki tipe yang sama dengan yang ada di daratan Cina selatan dan Asia Tenggara, juga ditemukan di wilayah Sampang. Peninggalan itu menjelaskan bahwa terjalinnya hubungan Madura dengan daratan Asia, yang mungkin dilakukan dalam hubungan perdagangan. Tetapi karena Madura tidak menghasilkan komoditas perdagangan yang berarti untuk dipertukarkan, maka diduga hubungan yang dilakukan sebagai perantara dalam perdangangan. Dengan bermodal pengetahuan tentang seni berlayar, maka pelaut-pelau Madura menyediakan perahunya untk membawa pedagang dari bangsa lain mengarungi lautan lepas.

Pada sekitar tahun 1017 M, Kerajaan-kerajaan kecil di Madura sempat menikmati kemerdekaannya sampai raja Airlangga berhasil mengkonsolidasi kekuasaannya. Keutuhan negara cepat pulih dan kesejahteraan rakyat segera dikelola kembali. Kegiatan perdagangan luar Negeri dengan Cina dan Negara Asia lainnya kembali ramai, di kerajaan airlangga pedagang asing membeli daging, cula badak, mutiara, kapur barus, gaharu, cendana, rempah-rempah serta kulit penyu dan burung. Beras merupakan komoditas hasil bumi jawa yang penting untuk bekal pelayaran yang memakan waktu berbulan-bulan. Saudagar asing membayar pembelianya dengan uang emas dan perak. Di samping itu mereka memasarkan sutra dan pecah belah dari porselen.

Airlangga sebagai seorang raja besar tidak lupa mengembangkan kesenian rakyatnya. Mahabarata dan ramayana yang telah diterjemahkan ke dalam Jawa Kawi diubah kembali sehingga kisah itu seakan-akan terjadi di bumi Nusantara. Karena itu Negara Madura yang diperintah raja Baladewa diidentifikasi dengan daerah Madura barat. Widarba, yang merupakan negara mertua Khrisna, disepadankan dengan kerajaan Bidarba yang beribu kota Pacangan tempat Bangsacara berjumpa Ragapadmi. Prabu Salya dikisahkan memrintah kerajaan Mandaraka yang terletak di Madura ttimur, mirip dengan perkampungan bernama Mandaraga di dekat Ambunten. Pewayangan sebagai wahana pengajian karya agung yang disajikan sebagai tontonan ke hadapan khalayak raqmai, keberadaannya semakin mapan.

Peradaban orang Madura purba itu semakin maju dan berkembang, sejalan dengan perkembangan yang dialami bangsa-bangsa lain di Nusantara. Majunya peradaban di masa itu ditandai oleh kemampuan menguasai teknologi pengolahan biji logam. Munculnya sgolongan orang yang memiliki keahlian khusus membuat barang-barang kerajinan. Mereka memiliki keterampilan mereka membuat gerabah, juga pengetahuan yang bagus tentang pemeliharaan ternak.

Rumah-rumah adat masyarakat Madura pada umumnya dibangun dengan posisi bangunan menghadapa ke arah selatan. Posisi bangunan ini menjelaskan bahwa sejarah perjalanan leluhur datang datang dari arah utara menuju ke arah selatan. Karena nenek moyang mereka terdesak dari daerah asalnya. Sedangkan rute perjalanan yang ditempuh untuk menyelematkan diri melalui jalur laut menuju daerah selatan. Laut merupakan simbol, keselamatan, dan masa depan yang penuh harapan. Akan tetapi ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa masyarakat Madura yang dikenal sebgai pelaut-pelaut tangguh menganggap laut sebgai cerminan hidup yang penuh dengan tantangan yang harus dihadapi dalam mengarungi kehidupan serta memenuhi harapan masa depannya. Laut juga menjdai lambang kebebasan jiwa petualangan dan rasa merdeka. Dalam perjalan sejarah kehidupan, leluhur mereka pernah mendapat ancaman bahaya yang datang dari pedalaman di daerah utara. Karena itu dapat dipahami, jika mereka selalu menggapai ke arah selatan yang berupa laut. Orientasi ke laut secara luas dapat di maknakan ka lao’ dalam bahasa Madura (yang berarti ke selatan, yaitu petunjuk arah lawan utara).

 

1.2.    Budaya dan Tradisi Pertanian

Kemampuan mereka menguasai teknologi dalam pembuatan pacul mengisyaratkan bahwa mereka telah mampu bercocok tanam. Jenis tanaman yang dibudidayakan disesuaikan dengan lingkungan alam Madura yang memiliki musim kemarau panjang. Tanaman pertanian yang dibudidayakan mereka terbatas pada ubi, gembili, gadung, suweg dan pisang. Di hutan monsoon tropic pulau Madura, mereka menemukan labing atau kecunda (Tacca palmate), kesambi (Schleichera oleosa), duwet (Syzgium cumini), sukun dan keluwih (Artocarpus altilis), siwalan (Borassus Sundaicus), kelapa (Cocos nucifera) dan tumbuhan lain yang langsung dapat di panen hasilnya.

Mereka sudah mampu beternak ayam dan sapi serta memelihara anjing untuk keperluan berburu. Untuk keperluan mengolah makanannya mereka mengusai teknologi pembuatan gerabah dari tanah liat. Mereka memiliki periuk belanga untuk memasak dan laya untuk digunakan sebagai piring tempat makan.

Ladang-ladang sederhana semakin berkembang menjadi lahan pertanian yang hasilnya bisa diandalkan. Tanah pertanian umumnya diolah oleh pria sedangkan penanaman, pemeliharaan serta panen dikerjakan oleh para wanita. Pada waktu itu telah menunjkkan pentingnya peranan ibu dalam kehidupan keluarga.

Semua ajaran yang dibawa bersama kebudayaan pendatang itu lambat laun menyatu dengan akar tradisi Kebudayaan lokal Madura asli. Akar budaya setempat tadi diperkuat dengan ladnasan Falsafah yang bersifat lebih memantapkan terhadap dinamika kebudayaan masyarakat Madura. Pengaruh kebudayaan baru itu menyempurnakan sistem tatanan sosial yang sudah terbentuk sebelumnya.

Adanya kidung-kidung penghormatan terhadap ibu melebihi penghormatan terhadap Bapak. Hal ini tercermin dalam ungkapan Bhupa’, bhabbu’, guru, Rato = Bapak, Ibu, Guru, Raja.

Penghormatan ini sudah ada sejak masa nenek moyang. Pada umumnya para lelaki memiliki perkerjaan mata pencaharian sebagai nelayan. Mata pencaharian nelayan ini menyebabkan mereka (kaum laki-laki) sering meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama. Sampai saat ini kebiasaan merantau masih dilakukan para lelaki atau suami di pulau-pulau sekitar Sumenep, seperti pulau Tonduk, pulau Gua-gua dan lan sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari ibu memegang peran penting dalam mengasuh dan mendidik anak. Hal ini yang menyebabkan mereka lebih dekat kepada ibu daripada kepada ayah. Dalam kehidupan sehari-hari perempuan juga bekerja seperti menyabit rumput untuk makanan ternak atau membatik serta membuat anyaman tikarm dan lain sebagainya. Dengan demikian di Sumenep atau Madura kedudukan ibu sangat berarti dalam kehidupan rumah tangga.

 

1.3.    Mata Pencaharian Penduduk

Penduduk yang menghuni wilayah yang kurang subur menitikberatkan mata pencaharian mereka pada kehidupan laut sebagai nelayan. Karenanya, orang Madura dikenal sebagai pelaut yang tangguh. Karena arus pelayaran atau perdagangan melalui ramai di Nusantara, pelaut-pelaut Madura menunjukkan kepiawaiannya. Mereka memiliki peran penting dalam arus perdagangan itu sebagai pedagang di tempat perantauan. Pekerja sebagai pelaut, mengakibatkan mereka seringkali berhadapan dengan ombak dan badai, sehingga dalam perkembangan fisiknya orang Madura (Sumenep) memilik otot lebih kekar dan berwatak lebih keras dalam menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan.

Di tanah yang subur mereka bercocok tanam dengan sistem pengairan yang sederhana. Perkembangan ini sejalan dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam memilih cultivars dengan jenis tanaman budi daya. Pengetahuan mereka tentang musim dan iklim semakin berkembang, bahwa bila bintang waluku muncul di langi, pada saat itulah waktu terbaik untuk mulai bercocok tanam. Pengetahuan mereka terhadap ilmu perbintangan juga semakin maju. Mereka memanfaatkannya untuk menentukan araha angin dalam mengarungi lautan, baik untuk menangkap ikan atau untuk keperluan lainnya.

Miskinnya sumber daya alam Madura yang dapat diolah untuk diperdagangkan merupakan faktor penentu perkembangan arah sejarah penghuni pulau itu selanjutnya. Kondisi alam lingkungan yang kurang menguntungkan bagi suku bangsa Madura mendorong timbulnya jiwa petualang yang sangat sesuai sebagai pelaut, perantau, pedagang ataupun pekerja yang ulet.

Perahu-perahu yang dipergunakan pelaut berukuran kecil, sehingga pelayaran yang dilakukan pelaut Madura sangat dipengaruhi oleh musim dan araha angin. Lambat laun tata niaga itu semakin berkembang, hubungan perdagangan semakin lancar dengan adanya alat transaportasi yang memadai serta didukung pula oleh kegigihan para pelaut (pedagang) Madura. Pengaruh di kegiatan perdagangan berdampak luas terhadap pola perkembangan kebudayaan sukubangsa di Nusantara pada umunya, dan khususnya di Sumenep.

 

1.4.    Agama Dan Kepercayaan

Kepercayaan yang ada pada masa Madura purba, kemudian melalui terdesak oleh agama Hindu yang baru dikenalnya. Acara-acara ritual yang berbau animisme mulai ditinggalkan. Semisal Kepercayaan purba kadang-kadang memperkenankan kanilbalisme untuk mewariskan sukma dan wibawa orang berpengaruh yang baru meninggal. Sementara agama baru yang dibawa dari India sangat menghargai jiwa manusia. Kepercayaan baru itu tidak menentang pemujaan nenek moyang yang sudah membudaya di Nusantara. Agama Hindu dan Budha yang masuk ke tengah kehidupan masyarakt segera mendapat penganut, karena mampu memberikan arti dan tujuan kehidpan yang lebih baik.

Pada tahap ini, penyebar-luasan agama bertumpu pada para Cendekiawan pendartang yang mengajarkan kemampuan baca tulis kepada pada rohaniawan di Nusantara. Dari peninggalan yang ada diketahui, bahwa yang diajarkan mereka, mula-mula adalah huruf Pallawa seperti yang dipakai di India. Namun dalam perkembangannya di Madura, Jawa, Sunda, dan Bali huruf tersebut menjadi huruf Hana caraka, berasal dari kisah Aji Saka. kedatangan Aji Saka ke pulau Jawa di tandai dengan awal perhitungan tahun yang disebut Tarikh Saka. Sejak masa itulah bangsa di Nusantara memulai masa sejarah. Bahasa Samsekerta yang dibawa oleh para pemuka keagamaan kaum pendatang, serta mempengaruhi beberapa kosa kata bahasa Madura. Seperti area, genta, lekkas, parekasa, raddin, ropa dan sakte. Bahakan ada pendapat nama Madura berasala dari bahasa sansekerta yang artinya molek atau cantik. Nama Madura juga dikenal sebagai nama salah satu Mathurai kota di India selatan (Mathurai), yang iklimnya juga menyerupai Madura.

Peninggalan tenpat pemujaan berupa candi yang utuh memang hampir tidak ada di Madura tetapi bekas-bekasnya masih dapat ditemukan. Dari namanya dapatlah diduga bahwa desa Candi di Kecamatan Dungkek semula adalah tempat pemujaan. Begiru pula nama desa Mandala di Kecamatan Gapura dan Mandalam Kecamatan Rubaru, memberikan petunjuk bahwa tempat itu di zaman kuna merupakan tempat pendidikan, atau perkampungan pertapa agama Hindu Budha.

Kehidupan masyarakat Madura semakin berkembang, dengan makin meningkatnya kesadaran mereka mengenai ketergantungannya pada tanagh, sungai, pohon, ikan dan benda-benda alam lainnya. Mereka sebagai penganut animisme beranggapan, bahwa segala sesuatunya memiliki anima atau jiwa. Kepercayaan ini menumbuhkan kebudayaan yang bersifat spiritual, yang lebih mementingkan rohani dibandingkan materi. Dilain pihak juga tumbuh kepercayaan tentang adanya hubungan antar yang mati dengan yang hidup.

Untuk keperluan ritual kepercayaan tersebut, mereka mendirikan bangunan-bangunan megalithic, seperti batu menhir (batu besar tegak memanjang yang dibiarkan kasar tidak digarap/dihaluskan) seperti yang pernah diketemukan di daerah Kamal Kabupaten Bangkalan. Batu tadi sengaja didirikan untuk dijadikan medium dalam memperingati orang yang dihormati dengan memperlakukannya seabgai wahana tempat menampung arwahnya. “Batu Kennong” atau batu gong – kumpulan batu yang berbentuk silinder pendek dengan tonjolan diatas nya seperti gong kecil, juga terdapat di Sepudi. Peninggalan itu merupakan salahs atu tradisi pemujaan leluhur pada zaman purba Madura. Bila dibandingkan dengan temuan serupa di Daerah Besuki maka Batu gong di pulau Sepudi tersebut hanya merupakan bagian yang tersisa dari suatu komplek bangunan megalithic yang luas.

 

1.5.    Perkembangan bidang Pemerintahan

Salah satu kemajuan penting dengan masuknya Kebudayaan India terjadi dalam bidang pemerintahan. Kaum Brahamana yang datang dari India memperkenalkan bentuk Birokrasi pemerintahan yang mengatur birokrasi, atasan dan pegawai atau bawahan, Mereka menejelaskan pemantapan sistem kasta yang akan menumbuhkan kemapanan pola tata cara kehidupan dan hubungan kemasyarakatan.

Proses akulturasi kebudayaan India memperkenalkan peranan kaum Brahamana sebagai guru, tabib (dukun) dan pembina rohani, serta raja sebagai ksatria merupakan puncak kekuasaan. Guru sebagai panutan lebih dekat dan akrab dengan kehidupan memiliki sistem peran yang amat signifikan dalam pengembangan ilmu khususnya, ilmu pengetahuan agama dan kebudayaan.

Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya kerajaan kecil-kecil di Madura itu, tidak dapat menyaingi kekuasaan kerajaan-kerajaan dengan daerah yang lebih makmur, yang berpusat di Jawa. Pada perkembangannya di waktu selanjutnya, Madura memang hampir tidak pernah dapat bebas secara politik dan ekonomi dari pengaruh pulau Jawa. Cerita tutur tentang Madura seringkali menghubungkan awal masa lalunya dengan tapak Medang Kamulan, ibu kota kerajaan Kalingga dan Mataram kuno. Dalam legenda Madura, Raden Segara dianggap sebagai penghuni pertama pulau Madura itu dikisahkan sebagai cucu Raja Gilingwesi. Kisah ini merupakan indikasi adanya hubungan ketergantungan pemerintahan kuno Madura terhadap kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah pada abad VII-IX. Pada masa itu bertahta keluarga raja-raja Syailendra yang menganut ajaran Budha, dan Sanjaya yang beragama Hindu.

Dari berita-berita Cina dijelaskan, bahwa kerajaan Mataram kuno itu menguasai sekitar 30 kerajaan bawahan yang ditaklukkannya. Pada masa itu proses akulturasi kebudayaan India terus berlangsung, sehingga birokrasi sistem tata pemerintahan mulai tertata rapi. Walaupun kerajaan-kerajaan kecil di Madura tunduk pada Maharaja yang bertahta di Jawa, para penguasanya masih memiliki otonomi pemerintahan. Di setiap daerah, setiap penguasa setempat mempunyai wibawa sebagai sebagai raja. Mereka dapat menentukan dan memungut upeti, membebaskan suatu desa dari kewajiban membayar pajak atau memberi anugerah wilayah dan berbagai penghargaan. Pole pemerintahan seperti itu bertahan lama sampai akhir abad XIX. Walaupun kedudukan para penguasa raja bawahan di Madura hanya setingkat Bupati, namun mereka juga menggunakan gelar Panembahan, Raja atau bahkan gelar Sultan.

Bentuk pemerintahan seperti itu sangat memberatkan rakyat kecil, terutama para petani harus menanggung beban gaya hidup sistem feodal. Pola pemerintahan ini menimbulkan upeti bertingkat, pada akhirnya harus ditanggung oleh rakyat. Hasil upeti bertumpuk itu menyebabkan raja-raja Syailendra dan Sanjaya berturut-turut mampu mendirikan kompleks percandian Borobudur dan Prambanan yang sangat mengagumkan. Namun dibalik kemegahan itu terbaca pengerahan tenaga secara terus-menerus. Merupakan hasil jerih payah rakyat.

 

1.6.    Pola Pemukiman Penduduk

Kehidupan masyarakat yang mengandalakan pada bidang pertanian dan sebagai nelayan, mereka cenderung hidup sederhana, terdiri dari atas satu keluarga. Lama-kelamaan menjadi gabungan beberapa keluarga, sehingga membentuk kelompok antara keluarga yang dikenal dengan istilah “tanean lanjang”.

Di jaman kerajaan hindu sistem penataan ruang tanean lanjang yang melandasi tata letak kompleks perumahan Madura menjadi semakin mantap. Seperti diketahui rumah-rumah tradisional masyarakat Madura dibangun berjajar dari arah barat ke timur dalam suatu pekarangan. Rumah pertama terletak di barat daya menghadap ke selatan dan rumah-rumah berikutnya dibangun di kiri atau sebelah timurnya. Rumah pertama ditempati orang tua sedangkan rumah berikutnya ditempati anak perempuan pertama yang berkeluarga. Di arah yang berlawanan dia araha utara didirikan dapur, lumbung padi, kandang sapi dengan tujuan supaya mudah diawasi oleh pemiliknya. Sekarang di ujung barat halaman hampir selalu ditempatkan langgar yang berfungsi sebagai mushalla keluarga merangkap tempat tidur para tamu yang berasal dari jauh. Sedangkan pagarnya merupakan belahan bambu yang diikatkan pada tanaman hidup, seperti pohon nagasari (Mesea ferrea), bodi (Ficus religiosa), melati (Jasminum sambac) dan lain-lain. Semua tanaman itu secara khusus dibawa dari India dan diperkenalkan ke Nusantara sebagai tanaman pendatang. Sekarang tanaman yang sering dijumpai di tanean lanjang adalah kelor (Moringan pterigosperma), kelapa gading (Cocos nuciphera), kayu palembang (Lannea coromandaliga), sirih (Piper betle) serta pohon buah-buahan.

1.7.    Asal mula kata Sumenep

Sebutan kata sumenep sampai saat ini masih terdapat perbedaan dalam memaknainya. Di kalangan kelompok terpelajara yang tinggal di sekitar pusat Kabupaten Sumenep, umumnya menyebut dengan kata sumenep. Sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan menyebutnya dengan songennep. Persoalan manakah sebutan yang paling tua, Sumenep atau Songennep? Kitab tertua yang mencantumkan nama wilayah ini adalah buku Pararaton yan ditulis pada tahun 1475-1485, dalam Bab VI disebutkan Asal-Usul Nama Sumenep.

  1. …, Kinon Adipati Ring Sungeneb, anger in Madura Wetan, artinya : …disuruh menjadi Adipati di Songenneb, bertempat tinggal di di Madura Timur.
  2. …, Alama raden Wijaya haneng Sungennep, artinya : Cukup lama Raden Wijaya tinggal di Songenneb.

J.L. Banders yang menerjemahkan Pararaton, pada indeks nama dan catatan-catatan di bawah Sumenep dan Songenneb, menuliskan bahwa Songenneb ialah bentuk nama yang sebenarnya menurut cara Madura. Pararaton diterjemahkan oleh Banders pada abad XIX. Kata sungenneb yang dipergunakan J.L Banders berasal dari kata Songenneb. Alasan yang menguatkan keyakinan tersebut, ialah kata Songenneb lebih sesuai dengan lidah/logar kebiasaan orang Madura, huruf “O” lebih banyak digunakan daipada huruf “O”.

Mengingat sumber Pararaton adalah sumber tertua yang mencantumkan kata Sungennep, makin menguatkan dugaan bahwa kata Songenneb dikenal atau lahir lebih awal dari pada sebutan Sumenep. Bukti-bukti yang mendukung antara lain :

  1. sebutan Songenneb lebih banyak dipakai dan dikenal oleh sebagian besar penduduk Kabupaten Sumenep.
  2. Pengarang buku sejarah dari Madura R. Werdisastro menggunakan istilah Songennep seperti “Babad Songenneb”
  3. Penyebutan nama Sumenep yang muncul kemudian kurang populer di masyarakat pedesaan Sumenep (80% dari jumlah penduduk Sumenep tinggal di desa).

 

Perubahan dari Songenneb menjadi sumenep

Perubahan nama Songenneb menjadi Sumenep terjadi pada masa penjajahan Belanda, permulaan abad XVII (1705). Belanda sudah memulai peran dalam menentukan politik kekuasaan pemerintahan di Madura termasuk Sumenep.

Pada awal abad XVII Belanda mengubah sebutan Songenneb menjadi Sumenep, terbukti dengan adanya buku-buku karangan atau terbitan Belanda pada amsa itu telah menggunakan sebutan nama Sumenep. Perubahan tersebut dilandasi oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Menurut Tata Bahasa, hal ini dilakukan oleh Belanda untuk penyesuaian atau kemudahan dalam pengucapan agar lebih sesuai dengan aksen Belanda. Bagi mereka lebih mudah mengucapkan Sumenep daripada melafalkan Songenneb.
  2. Untuk menanamkan pengaruhnya, pihak Belanda merasa perlu mengadakan perubahan nama Songenneb menjadi Sumenep. Sebagai komparasi nama kota Jayakarta diubah menjadi Batavia, dan lain-lain.

Nama Sumenep menjadi baku di kalangan pemerintahan, karena setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama kabupaten ini disebut dengan kabupaten Sumenep.

 

Arti kata Songenneb

Dalam kenyataannya menjadi jelas bahwa kata Songennep adalah nama asal pada masa kuno. Songennep menurut arti etimologis (asal-usul kata), yaitu :

  1. Song berarti relung, geronggang (bahasa Kawi), Ennep berarti mengandap (tenang). Jadi Songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang.
  2. Song berarti sejuk, rindang, payung. Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi Songennep berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang.
  3. Song berarti relung atau cekungan, Ennep berarti tenang. Jadi Songennep berarti cekungan yang tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang.

Setalah menelaah Songennep dari arti katanya (etimologi). Beberapa pendapat ayng berkembang di masyarakat Sumenep mengenai arti kata Sumenep.

  1. Songenneb berasala dari kata-kata Moso ngenep, Moso dalam bahasa Madura berarti lawan atau musuh, ngenep berarti bermalam. Jadi Songenneb berarti lawan atau mush menginap atau bermalam. Cerita mengenai asal-usul nama “Songennep” berdasarkan versi ini amat populer di lingkungan masyarakat Sumenep. Cerita bersejarah di Sumenep pada tahun 1750, yaitu saat diserangnya dan didudukinya keraton Sumenep oleh Ke Lesap yang berhasil menaklukkan sumenep dan di sempat selama setengah bulan tinggal di Keraton Sumenep.

Karena peristiwa tersebut (musuh bermalam di keraton Sumenep), maka dinamakan Moso Ngenep artinya musuh bermalam. Cerita ini tentunya tidak benar, sebab kitab Pararaton yang ditulis tahun 1475-1485 sudah menuliskan nama Sungenneb. Ini berarti nama Songennep sudah lahir jauh sebalum Ke Lesap menyerang Sumenep.

  1. Songenneb, berasal dai kata-kata Insun ngenep. Ingsun artinya saya, sedangkan nginep berarti bermalam. Pendapat ibi kurang popular dikalangan rakyat dibandingkan dengan versi lainnya. Ada orang yang menghubungkan peristiwa ini dengan kejadian 700 tahun yang lalu ketika Raden wijaya mengungsi ke Madura akibat dikejar-kejar oleh Jayakarwang.
  2. Kemudian berkembang di kalangan masyarakat, pendapat-pendapat kependekan asal kota Songennep, seperti, Songenneb berasal dari kata Ngaso nginep, Songennep berasal dari kata Lesso nginep, Songennep berasal dari kata Napso nginep. Pendapat ini hanya sekedar permainan kata yang tidak didukung dengan peristiwa yang melata belakanginya.

Selanjutnya kalau kita menelusuri sejak kapan sebutan Songennep MULAI dikenal Satu-satunya sumber yang menyebutkan mama wilayah ini, ialah kitab Pararaton (Sumber tema). Ini berarti bahwa wilayah dengan nama Songenneb sudah ada jauh sebelum kitab pararaton ditulis (pada abad XV). Pengertian wilayah yang dimaksud, bisa berarti desa, kabupaten ataupun kerajaan.

          Untuk pelacakan ini hares mulai dari awal terbentuknya pemukiman di pulau madura. Menurut pendapat Dr. Adi Sukadana (Antropolog) berdasarkan penelitian-penelitiannya di Madura, pemukiman awal di Madura terdapat di bagian tengah (punggung) pulau Madam yang umumnya terdiri dari pegunungan atau bukit­-bukit kecil. Sedang di daerah-daerah yang terletak di dataran rendah (termasuk wilayah Sumenep), pada masa Wu sebelum abad XIII masih tergenang oleh air, laut (rawa-rawa).

          Baru pada abed XIII sesudah terjadi proses pengeringan rawa­-rawa yang tentunya berjalan setahap demi setahap, daerah dataran rendah di Madura mulai di tempati atau di hulu. Jadi wilayah Sumenep peda mesa itu sebagian besar terdiri dari tanah bekas endapan rawa. Oleh sebab itu wilayah ini dinamakan Songennep yang berarti lembah bekas endapan yang tenang.

          Pusat pemerintahan di wilayah madura timur (Sumenep) pada abad XIII (sebelum Majapahit) terletak di dataran tinggi kemungkinan-kemungkinannya di Benasare, Mandaraga atau di Bate Putih. Maka sementara ini bahwa nama sumenep mulai dikenal sejak awal abed XIII, sedangkan sebelumnya nama wilayah ini belum diketemukan.

     Kemudian bare pada akhir abad XV ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah dataran rendah (Kecamatan Kota Siumenep saat ini), Songenneb tumbuh suatu pelabuhan yang penting diujung timur pulau Madura, mengingat tempatnya yang strategic terletak di antara jalur pelayaran Jawa-Maluku. Pelabuhan wilayah Sumenep pada masa itu terletak di desa Kertasada (tepatnya di muara sungai Kali Marengan). Pelabuhan Kertasada pada masa itu merupakan tempat untuk mengisi perbekalan dan air minum.

          Bukti-bukti yang mendukung nama-nama desa di sekitar wilayah (1). Marengan dari kata marenge aeng yang berarti tempat mengambil perbekalan air (2) Pabean yang berarti tempat untuk menarik bea atau cukai bagi kapal yang masuk di pelabuhan.

          Selain bukti-bukti di atas, di Kertasada juga terdapat sebuah benteng yang diperkirakan berasal dari jaman VOC (akhir shad XVII). Bukti-bukti lain sebagai pendukung ialah nama-nama tempat-tempat di wilayah Sumenep yang hingga kini masih ada atau jadi tempat hunian seperti: (1) Kampung Karangraba di kelurahan Pajagalan kecamatan kota Sumenep (dalam bahasa Madam raba berarti rawa). (2) Kampung Mas Tase’ (dalam bahasa Madam, tare’ berarti taut) berada di den Pabian kecamatan kota Sumenep. (3) Kampung Sagaran (dalam bahasa Madura Sagara berarti laut), berada di kelurahan Pajagalan kecamatan Kota Sumenep.

          Selain dari nama-nama kampung tersebut sampai sekarang kita masih dapat menjumpai adanya bekas rawa-rawa di daerah Nambakot, Saroka, Kotte, serta di belakang gedung RRI Sumenep.

          Juga perlu diperhatikan legenda mengenai terjadinya pulau Madura seperti yang diceritakan Zainal fatah dalam buku “Sejarah Caranya Pemerintahan Di Daerah-Daerah Di Kepulauan Madura, bahwa pulau Madura ini bermula terlihat oleh pelayar-pelayar pada zaman purbakala sebagai pulau terpecah pecah yang merupakan beberapa puncak-puncak tanah yang tinggi (sekarang jadi puncaknya bukit-bukit di Madura) dan beberapa tanah datar yang rendahan yang apabila air laut surut terlihat dan apabila pasang tidak terlihat (ada di bawah permukaan air). Puncak-puncak yang terlihat itu, di antaranya sekarang disebut Gunung Geger di daerah kabupaten Bangkalan (bandingkan dengan pendapat Dr. Adi Sukadana, seorang Antropolog). Dan pegunungan Pajudan di kecamatan Guluk-guluk Kabupaten Sumenep.

 

2

 

SEJARAH AWAL PEMERINTAHAN DI SUMENEP

 

2.1 Aria Wiraraja

          Pencarian terhadap data yang sangat tua dari adanya pemerintahan di pulau Madura sulit diketemukan. Data yang otentik, baru terdapat pada prasasti Mula Malurung yang bertarikh 1255. Dalam prasasti itu disebutkan tentang adanya kerajaan di Madura. Namun karena hilangnya lempengan VI A dan B 12 dari prasasti tersebut, penguasa atau kepala pemerintahan di Madam itu tidak diketahui namanya. Di samping tidak disebutkan pusat kerajaannya. Sultan Abdurrahman, Adipati Sumenep abed XVIII, pernah memberi keterangan, bahwa sebelum zaman Majapahit, di Madura Timur (Sumenep) sudah ada pusat pemerintahan yang berada di Purwareja yang sekarang bernama dusun Mandaraga, Kecamatan Ambunten. Kepala Pemerintahan tersebut bernama Pangeran Ram. Keterangan Sultan Abdurrahman itu terdapat dalam buku Reis Over Java, Madura end Bali, in het midden van 1847. Keterangan tersebut kiranya perlu mendapat kajian dan penelusuran lebih lanjut mengingat Sultan dikenal sebagai cendekiawan yang menguasai dan mampu menguraikan tulisan-tulisan prasasti zaman kuna. Ia tercatat dalam sejarah sebagai informan yang banyak membantu Gubernur Jendral Inggris Thomas Stamford Riles, pads saat menulis buku The History Of Java.

          Sedangkan sumber-sumber yang berasal dari “Babad Songenep” karangan R. Werdisastra, sebagian isinya kurang akurat untuk menjadi acuan dalam penelusuran sejarah Sumenep. Hal ini disebabkan karma penulisan tersebut, tidak banyak mencantumkan waktu dan tahun kejadian sejarah. Di samping tidak mencannnnk2n referensi pendukung yang rnelatar belakangi penulisan buku tersebut, sebagaimana diakui sendiri oleo R Werdisastra dalam pengantar buku tersebut.

          Yang perlu dicatat, bahwa dalam kitab Pararaton disebutkan, bahwa pada jaman Singasari, Prabu Kertanegara mengangkat Aria Wiraraja (Banyak Wide) sebagai Adipati pertama di Sumenep. Menurut Doktor Abdurrachman, sebelum Aria Wiraraja pulau Madura hanya diperintah oleh seorang yang berpangkat Akuwu yang namanya tak pernah tercatat dalam sejarah.

 

2.2.    Asal-Usul Aria Wiraraja

          Penguasa di Madura yang pertama dikenal namanya ialah Aria Wiraraja. Mengenai asal-usul Aria Wiraraja, memang banyak dijelaskan bahwa ia sebagai keturunan dari Nangka. Hal itu disebutkan dalam beberapa sumber, antara lain dalam kitab Pararaton Bab – V halaman 27:.

“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka aran Banyak Wide,

Sinungan pasangguhan Aria Wiraraja”.

Artinya    :    “Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Aria Wiraraja”.

 

Pararaton juga menerangkan bahwa Nambi adalah putera Aria Wiraraja sedangkan Ranggalawe disebutkan keturunan bangsawan Singasari.

Dalam Kidung Panji Wijayakrama Pupuh I nomor 12 :

“Wonten wangian babatang Buyut Nangka, Banyak Wide anami, sinung abiseka, Aria Wiraraja………”

Artinya    :    “Ada seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, Banyak Wide, diberi sebutan Aria Wiraraja”.

Dalam Kidung Panji Wijayakrama dikatakan bahwa Ranggalawe adalah anak dari Aria Wiraraja yang berasal dari desa Tanjung, Madura. Sedangkan dalam Kidung Sorandaka, dijelaskan bahwa Nambi adalah anak dari Pranaraja.

Dr. Abdurrahman dalam bukunya “Peranan Madura Menuju Puncak Kebesaran Kerajaan Majapahit”, menerangkan bahwa Aria Wiraraja berasal dari Madura. Atas dasar keterangan yang didapat sumber di atas makin kuat dugaan, bahwa Aria Wiraraja memang berasal dari Madura. Desa Nangka yang disebut – dalam Pararaton sebagai asal-usul Aria Wiraraja diperkirakan desa Karang Nangka, cerita tutur, Rubaru memang pernah disebutkan dalam sejarah sebagai salah satu pusat pemerintahan di Sumenep. Di desa Banasare dalam wilayah kecamatan Rubaru pernah ditemukan potongan patung yang berasal dari awal jaman Majapahit.

Menurut Zainal Fatah dalam buku Sejarah “Caranya Pemerintahan di Daerah-daerah di Kabupaten Madura dengan Hubungannya”, dijelaskan bahwa Aria Wiraraja adalah keturunan Aria Pamekas, yaitu Raja Pajajaran. Namun setelah ditelusuri, sumber tersebut mengandung kelemahan, sehingga sulit untuk diakui kebenarannya. Zainal Fatah cenderung menganggap bahwa Banyak Wide yang diceritakan dalam buku Babat Tanah Jawa sama dengan Aria Wiraraja dalam kitab Pararaton. Pendapat ini disangsikan karena buku Babat Tanah Jawi ditulis pada abad XVIII, agaknya tak banyak disetujui oleh beberapa pakar sejarah sebagai sumber penulisan sejarah Majapahit.

Pekerjaan Aria Wiraraja yang disebut babatangan diperkirakan sama dengan penasehat rohani, yaitu orang yang pekerjaannya menerangkan atau membukakan segala sesuatu yang sifatnya bersifat penuh misteri atau rahasia.

Kidung Harsa Wijaya, menyebutkan bahwa Aria Wiraraja pada zaman Singosari adalah seorang yang berpangkat Demung. Sedangkan Kidung Panji Wijayakrama tidak menyebutkan dengan pasti apa jabatannya. Pararaton yang diterjemahkan oleh Ki Patmapuspita (1956), menyebutkan Aria Wiraraja adalah seorang bawahan atau abdi dari Prabu Kertanegara. Dr. Abdurrahman menyebutkan bahwa jabatan atau pangkat Aria Wiraraja adalah Demung Nayapati di Kerajaan Singasari.

Dari beberapa gambaran di atas dapat disimpulkan, bahwa gelar “aria” untuk Wiraraja menunjukkan, bahwa Banyak Wide (Wiraraja) termasuk pegawai tinggi atau orang penting di kerajaan Singasari.

Sedangkan pendapat Mangkudimeja, jabatan Aria Wiraraja sebagai penasehat spiritual (rohani) tidaklah sama dengan tukang ramal, karena pada dasarnya Wiraraja adalah seorang ahli strategi yang begitu cermat dalam membaca situasi. Kecemerlangan analisis-analisisnya menyebabkan orang mengira dia punya kelebihan sebagai seorang yang bisa meramal kejadian yang akan datang. Namun pada suatu ketika kecerdasan Aria Wiraraja itu membuat Prabu Kertanegara merasa kurang senang. Akhirnya ditugaskanlah Wiraraja menjadi Adipati di Sumenep tentunya tidak terlepas dari situasi politik yang sedang berkembang saat itu.

  • Penugasan Aria Wiraraja di Sumenep (31 Oktober 1269)

Prabu Kertanegara yang memerintahkan Singasari, sejak dari awal pemerintahannya telah melakukan perubahan besar-besaran dalam menjalankan roda pemerintahan. Antara lain dalam upaya perluasan wilayah kekuasaannya ia melakukan aksi yang dikenal dengan istilah cakrawala mandala. Demi terlaksananya cita-cita politiknya ia tak segan-segan mengadakan penggantian jabatan di kalangan pembantu-pembantunya, di samping pembaharuan dalam berbagai hal. Para menteri dan para pembantunya yang tidak cocok dengan langkah kebijakannya lalu disingkirkan atau dipindahkan agar jauh dari pusat pemerintahan Singasari.

Menteri-menteri yang diangkat pada masa pemerintahan Wisnu Wardhana yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan politik Kartanegara, banyak menjadi korban kemauannya. Misalnya Patih Raganatha, Tumenggung Wirakarti dan Demang Aria Wiraraja.

Peristiwa penggeseran atau pemindahan para menteri dan para pembantunya itu bisa dilihat pada Kidung Harsawijaya Pupuh I, yang menerangkan bahwa Prabu Kartanegara melengserkan Mpu Bagantha dari kedudukannya sebagai Patih Amangkubumi kemudian dipindahkan menjadi Ramadyaksa di Tumapel. Dalam kidung ini disebutkan pula bahwa Wiraraja digeser kedudukannya dari demung menjadi adipati di Madura Timur.

Dapat disimpulkan bahwa pemindahan Aria Wiraraja ke Sumenep sebagai adipati, adalah dengan beberapa alasan, antara lain, Kartanegara sangat ambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Hal ini dibuktikan di kelak kemudian hari terbukti ia mengadakan ekspedisi dan ekspansi dengan pasukannya yang terkenal “Pamalayu”.

Kebijakan itu menimbulkan pertentangan di kalangan para mentrinya dan pembantu-pembantunya yang sebagian lebih mengutamakan stabilitas politik di dalam negeri. Sebagai seorang pejabat, atau Demung yang dekat hubungannya dengan Raja Kertanegara, suatu ketika Aria Wiraraja mempunyai pendapat yang berbeda dengan Baginda sehingga menyebabkan dirinya tak disukai oleh Kartanegara. Akibatnya ia harus dijauhkan dari pusat kekuasaan Kerajaan Singasari.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kecurigaan terhadap Aria Wiraraja. Pertama, sebagai bekas pengikut setia Narasinghamurti, penguasa Singasari sebelum Kartanegara, sangatlah pantas kalau Aria Wiraraja kurang disenangi oleh Kertanegara. Kedua, sebagai penguasa tunggal, Kertanegara khawatir akan terjadi perebutan kekuasaan di kerajaan Singasari. Ketiga, Raden Wijaya (anak Diyah Lembu Taal) dijadikan menantu Kertanegara wupaya tidak terjadi intrik-intrik yang merugikan kerajaan.

Melihat kecakapan dan kecerdasan Wiraraja, serta kesetiaannya kepada Narasinghamurti, Kertanegara sangat khawatir kalau pada suatu saat Aria Wiraraja melakukan provokasi terhadap anak cucu Narasinghamurti untuk kembali menuntu haknya. Salah satu cara yang paling tepat bagi Kertanegara untuk menyelamatkan tampak pemerintahannya, maka Aria Wiraraja harus dijauhkan dari pusat kerajaan Singasari. Dengan ditugaskannya pulau Madura bagian timur (Sumenep). Penundahan itu akan membawa keuntungan, Sumenep sangat strategis maka Wiraraja sangat pantas untuk menjadi Adipati di sana untuk bisa menjaga ketahanan Negara dari kejauhan. Apalagi Kertanegara pada saat itu sedang berjaga-jaga akan datangnya ekspansi Khu Bilai Khan ke Singasari. Kertanegara pernah menghina utusan Kaisar Mongol itu dengan menyayat-nyayat telinganya.

Pararaton menceritakan dengan singkat dilantiknya Aria Wiraraja menjadi Adipati di Sumenep yang berkedudukan di Madura timur, seperti di bawah ini :

“Hana ta wongira, babatangira buyuting nagka, aran banyak Wide, sinungan Pasenggahan Aria Wiraraja, arupa tan kandel denira, dinobaken, kinon Adhipati ring Sumenep, anger ing Madura wetan.”

Artinya    :    “Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Aria Wiraraja, rupa-rupanya tidak di percaya, di jauhkan, disuruh menjadi Adipati di Sumenep, bertempat tinggal di Madura sebelah timur.”

Namun Pararaton tidak mencantumkan tanggal dari peristiwa pelantikan Aria Wiraraja tersebut. Yang diceritakan bahwa sesudah Wisnu Wardhana meninggal dunia, Kertanegaralah yang menggantikannya menjadi raja, kemudian Aria Wiraraja dipindahkan ke Sumenep.

Kedatangan Aria Wiraraja ke Sumenep menimbulkan aneka macam penafsiran di kalangan para ahli sejarah. Ada yang memberi penilaian, Aria Wiraraja sebagai orang yang tidak tahu diri atau pengkhianat. Argumen yang sangat kuat ialah, karena Kertanegara yang menganggap dirinya sebagai raja agung sudah selayaknya mempunyai kekuasaan tertinggi yang berkuasa tunggal dalam segala hal. Ayahandanya sendiri sebagai Raja Singasari dianggap kurang berkuasa penuh karena masih mengangkat saudara sepupunya sebagai raja muda dengan gelar Ratu Anghabhaya.

Karena Aria Wiraraja dianggap terlalu banyak menguasai politik pertahanan Negara, maka dianggap hendak menyaingi Kertanegara. Disamping dikhawatirkan akan mengurangi wibawa Raja, maka Wiraraja dipecat dari jabatan sebagai Demung Nayapati lalu ditunjuk sebagai Adipati Sumenep. Apalagi saat itu Sumenep menjadi pelabuhan yang banyak disinggahi perahu-perahu dan kapal-kapal baik dalam maupun dari luar negeri. Pelabuhan Sumenep saat itu termasuk pelabuhan transit, bagi kapal yang berlayar dari segala jurusan, misalnya, India, Cina, dan negeri-negeri lainnya.

Atas pengangkatannya menjadi Adipati Sumenep, Aria Wiraraja tidak puas terhadap kebijakan Kertanegara. Saat itu dia baru berumur kurang lebih 41 tahun. Sebagai orang yang banyak makan garam dalam dunia politik Aria Wiraraja mengetahui bahwa pada saat itu Jayakatwang, Raja Gelang-gelang menaruh dendam kepada Kertanegara. Dahulu Raja Kediri, Dandang Gendis dikalahkan oleh Ken Arok yang notabene nenek moyang Kertanegara. Akibatnya Daha harus tunduk berada di bawah kekuasaan Singasari. Hal itu dijadikan kesempatan perhitungan terhadap Singasari. Ia menulis surat yang isinya berbunyi :

“Patik memberitahukan kehadapan Sang Prabu Paduka-Nata yang sedang berburu, hendaklah waspada memilih saat dan waktu yang setepat-tepatnya. Pergunakanlah saat yang paling baik dan tepat. Tegal sedang tandus, tidak ada rumput, tidak ada alang-alang, daun-daun sedang gugur berhamburan di tanah. Bukit nya kecil-kecil jurang nya tidak berbahaya, hanya didiami harimau yang sama sekali tidak menakutkan. Tidak ada kerbau, sapi dan rusa yang bertanduk. Jika sedang menyenggut, baiklah mereka itu diburu; pasti tidak berdaya. Satu-satunya harimau yang tinggal adalah harimau guguh. Sudah tua renta, yakni Mpu Raganata.”

(tertulis dalam Kidung Panji Wijayakrama, salinan Prof. Dr. Slamet Moeljono)

 

Wiraraja mengutus anaknya Wiranjaya mengantarkan surat itu kepada Jayakatwang yang merasa dengan kepada keturunan Ken Arok, yang telah memporak-porandakan kerajaan Kediri dibawah tahta Prabu Kertajaya yang tak lain kakek moyang dari Jayakatwang. Dengan surat itu, Jayakatwang menyambut gembira.

Jayakatwang mulai menghimpun kekuatan untuk menyerang Singasari. Jika dulu tahta kakek moyang Jayakatwang yang jadi Raja Kediri dirampas oleh kakek moyang Kertanegara, tibalah kini saatnya untuk mengadakan perhitungan. Tampuk kekuasaan itu harus kembali kepada anak cucu Raja Kediri (Daha) yang tidak lain ialah Jayakatwang sendiri. Setelah dipikir dengan mantap, sangat pantaslah kalau Jayakatwang menuntut hak yang merupakan warisan nenek moyangnya.

          Setelah balatentara Daha terasa kuat, Jayakatwang mulai mengatur strategi untuk menaklukkan Kertanegara. Pasukan lalu diberangkatkan lengkap dengan senjata perangnya. Tiba di Singasari penyerangan pun dilancarkan. Karen pasukan Kertanegara banyak dikirim melakukan ekspansi ke luar Jawa (Sumatra), meskipun dipertahankan oleh tentara yang gagah berani, akhirnya balatentara Singasari harus menderita kekalahan. Raja Kertanegara menemui ajalnya.

          Kini, Jayakatwang yang mulai berjaya menguasai wilayah yang pernah dikuasai Prabu Kertanegara.

          Piagam Kudadu (1294) dan prasasti Sukamerta (1295), menceritakan pengungsian Raden Wijaya ke Madura. Dari sumber-­sumber yang disebutkan diatas juga, disebut tentang Jayakatwang, Raja Daha menyerang Singasani pada saat diperintah oleh Kertanegara. Dalam Serangan tersebut Kertanegara tewas, dan Singasari dapat ditaklukkan.

          Raden Wijaya menantu Kertanegara melanjutkan perlawanan namun karena kekuatan tentaranya terbatas, is terdesak oleh tentara Jayakatwang, selanjutnya untuk keselamatan dirinya akhirnya Raden Wijaya pergi mengungsi ke Madura Timur (Sumenep) untuk meminta bantuan kepada Arya Wiraraja.

          Di Sumenep inilah terjadi persekutuan antara Raden Wijaya dengan Aria Wiraraja, maka dengan bantuan serta siasat Aria Wiraraja dan orang Madura, Raden Wijaya akhirnya berhasil menaklukkan Jayakatwang serta mengusir tentara tartar dan mendirikan kerajaan Majapahit.

2.4      Peran Aria Wiraraja dalam berdirinya Kerajaan Majapahit

 Raden Wijaya atas jaminan Aria Wiraraja akhirnya diterima Jayakatwang untuk mengabdi di Kediri. Raden Wijaya terus berupaya untuk mengambil hati jayakatwang. Raja jayakatwang senang sekali dengan sikapnya. Akhirnya Jayakatwang mengabulkan permohonan RAden Wiajay untuk mendapatkan tanah di hutan Tarik dekat Mojokerto. Raden Wijaya lelu mengutus Wironjaya menghadap Wiraraja dan memberi laporan bahwa Sang Raja tidak keberatan memberikan daerah Tarik. Wiraraja mendengar berita itu segera memerintahkan orang-orang Madura untuk berangkat ke Tarik. Hutan Tarik lalu dibuka beramai-ramai. setelah selesai membuka hutan itu, orang-orang Sumenep terus menetap di Tarik. Karena di situ banyak pohon maja yang rasanya pahit, kemudian wilayah tersebut disebut “Majapahit”.

Setelah Raden Wijaya mendengar bahwa pembukaan hutan Tarik Selesai, ia minta izin pada sang Prabu untuk kesana menengoknya. Raden Wijaya dengan pengikutnya berangkat menuju Tarik. Wilayah baru itu mulai agak ramai, dan karena tempatnya di tepi Kali Brantas, para pedagang yang hilir mudik sudah ada yang mulai singgah.

Raden Wijaya lalu mengambil perhatian rakyat. Ia sering mengadakan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang pendatang baru. Selain orang-orang dai Madura, juga banyak orang-orang di Tumapel dan Daha yeng mulai bermukim di Tarik.

Setelah merasa dekat dengan rakyat, Raden Wijaya lalu mengutus orang melihat segala sesuatu yang direncanakannya. Ia lalu mengutus Mahisa Pawagal, untuk menjumpai dan menceritakan segalanya kepada Aria Wiraraja. Lalu, Aria Wiraraja menyediakan kapal layar, untuk mengirimkan Putri Tribhuwana ke Majapahit. Wiraraja menyertakan mengutus putra dan istrinya yang bernama Deni Pinatih, untuk mengantarkan Putri Tribhuwana ke Majapahit.

Lewat putranya Aria Wiraraja berpesan kepada Raden wijaya diharap supaya jangan tergesa menyerang Daha. Raden wijaya diharap bersabar menunggu datangnya tentara Khu Bilai Khan yang dipastikan akan datang menyerang Singasari. Bila tiba saatnya, Aria Wiraraja Siap membatu mengirimkan orang-orang Madura untuk membela Raden Wijaya.

Dalam rangka penaklukan Daha, Raden wijaya selalu mengadakan perundingan dengan para panglimanya, kuda-kuda dan peralatan perang lainnya pun disiapkan. Aria wiraraja dengan tentaranya kemudian datang ke Majapahit untuk memimpin peperangan serta mengatur siasat perang untuk menggempur Daha (Kediri). Tentara Majapahit dibagi dua. yang pertama berangkat lewat utara, sepanjang jalan induk lewat Linggasana menuju Kediri, sedangkan pasukan yang lain lewat selatan melalui Singasari, Sidabawa dan Lawor. Kedua pasukan itu nantinya hasu bertemu di Brebek. Raden Wijaya menunjuk Sang Aria Wiraraja untuk memimpin yang lewat utara, sedangkan dia sendiri akan memimpin pasukan yang lewat jalur selatan. Semua dimuusyawaratkan dan dipersiapkan dengan matang.

Raja Jayakatwang mendapat laporan Akuwu Tuban, bahwa tentara Khu Bilai Khan (Tartar) datang dengan pasukan yang kuat. Sebagian pasukan Mongol itu telah dipengaruhi oleh Aria Wiraraja agar menyerang Daha. Setelah Jayakatwang menerima laporan, ia benar-benar menyadari adanya bahaya yang mengancam Kerajaan dansegera mengatur bala tentara Daha menjadi 3 bagian.

Setelah lengkap tentara Daha berangkat menuju medan pertempuran untuk menjemput musuh. Setelah bertemu terjadilah pertempuran. Medan perang di bagian selatan dari pasukan Majapahit dipimpin oleh Lembu Sora, Nambi dan Mahisa Pawagal. Kemudaian bertemulah dengan tentara Daha dibawah komando Patih Kebo Mundarang. tentara Daha sebagian dapat dikalahkan oleh pasukan Majapahit. Beberapa panglimanya gugur dan sebagian lagi lari dari medan pertempuran.

Di medan perang sebelah timur pasukan Majapahit dipimpin Ranggalawe, sedangkan Pihak Daha dipimpin oleh Sagara Winotan. Ranggalawe ingin membuktikan keperkasaannya, lewat perang tanding. Winotan gugur dalam perang tanding tersebut. Setelah tentara Daha dapat dikalahkan oleh pasukan Raden Wijaya, kemudian pasukannya dijadikan satu dengan pasukan Aria Wiraraja, namun Kebo patih Mundarang dari Daha terus menghimpun kekuatan dan mengadakan serangan baru.

Tentara Tartar dibawah komando Che Pi, Kau Hsing dan Ike Mishe, di Tuban, dan sebagian yang lain di Sedayu. Panglima Tarrtar menyampaikan pesan kepada Raden Wijaya agar mau tunduk dan mengakui kedaulatan Kaisar Khu Bilai Khan. Di samping itu Raden Wijaya mohon bantuan dalam berperang melawan Jayakatwang.

Panglima Ike Mei she dengan pasukannya segera datang ke Majapahit untuk membantu Raden Wijaya, dikawal oleh pasukannya dari Canggu. kemudian terjadilah peperangan sengit. Jayakatwang menyerang dari tiga jurusan. Pasukan Daha yang datang menyerbu dari jurusan tenggara dan barat di pukul mundur oleh kau Hsing. Tentara Tartar terus bersiap mengadakan serangan. Pertempuran terus berlangsung sampai akhirnya Kota Daha dapat dipukul mundur. Lebih lima ribu orang mati terbunuh. Prabu Jayakatwang mundur masuk kedalam Kota, diikuti oleh para pengikutnya. Namun setelah berhasil dikepung ia menyerah, dan akhirnya dibunuh.

Tentara Majapahit dibawah komando Raden Wijaya mendadak menyerang tentara Tartar yang sedang mendiami kubu di Canggu dan Daha. Mereka sedang merayakan pesta kemenangan dengan mabuk-mabukan. Tentara Tartar sebagian lari. Senbagian yang selamat lari ke kapalnya dan pulang ke negerinya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1293 M.

Setelah perang dengan tentara Tartar berakhir, dengan kekalahan tentara Khu bilai Khan, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit. Menurut kidung Harsawijaya penobantannya berlangsung pada Purneng Kartikamasa Panca Masa Sukleng Catur (tanggal 13, bulan Kartika, Oktober-November) tahun 1293, dengan gelar Abhiseka Kertarajasa Jayawardhana.

Dengan demikian jelas, bahwa Aria Wiraraja sangat berjasa dalam mengatur strategi dan membantu bala tentara untuk berdirinya kerajaan Majapahit. Tanpa bantuan Adipati Sumenep itu mustahil Raden Wijaya untuk naik tahta sebagai raja pertama di Majapahit.

2.5     Sumenep Setelah Pemerintahan Aria Wiraraja

Dalam Piagam Kudadu dunyatakan, setelah Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja di Majapahit dengan gelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana, maka Sang Aria Adhikara Wiraraja dijadikan Adipati dengan wilayah lebih luas dan hasil buminya lebih baik, yaiut daerah Jawa timur bagian timur antara lain meliputi wilayah Blambangan dan Lumajang.

Dalam Piagam gunung Butak disebutkan juga nama-nama pembesar Majapahit, bahwa Rakyan Menteri Aria Adhikara ialah Wiraraja atau Banyak Wide cerdas dalam berfikir dalam siasat perang dan politik. Dia adalah pahlawan utama yang mendapat simpati dari sahabat-sahabatnya. Dia juga disebut Babatangira,yang artinya Kekuatan Utama Negara.

Setelah Aria Wiraraja mendapat kekuasaan yang lebih luas di daerah Jawa Timur bagian timur dan berpusat di Lumajang, maka Sumenep diberikan kepada adik Aria Wiraraja yang bernama Aria Lembu Suranggana Danurwenda, keratonnya di Aengnyeor, Tanjung, Saronggi.

Sesudah Arya Lembu Suranggana pada tahun 1311 M. Diganti oleh putranya Arya Asrapati sampai 1319 M. Kemudian diganti oleh putranya yang bernama Panembahan Joharsari sampai tahun 1331 M. Lalau diganti oleh Panembahan Mandaraga (nama kecilnya Raden Piturut) dan keraton dipindahkan dari Aengnyeor ke Keles, ambunten. Panembahan Mandaraga yang memerintah sampai tahun 1339 M. mempunyai dua orang putra yaitu, Pangeran Natapraja yang bertahta di keraton Bukabu, ambunten dari tahun 1339 M. sampai tahun 1358 M. yang mengantikan kakaknya dengan keraton di Baragung, Guluk-guluk.

Pangeran Nataningrat mempunyai putra bernama Agung Rawit, bergelar Pangeran Secadaningrat I memerintah dari tahun 1358 M. sampai dengan tahun 1366. dengan keraton di Banasare.

Pangeran Secadaningrat I diganti leh putranya Tumenggung Gajah Pramada bergelar Secadaningrat II, memerintah dari tahun 1366 M. sampai 1386 M. Secadaningrat II kemudian diganti oelh cucunya Jokotole atau Arya Kudapanole.

Setelah pemerintahan Aria Wiraraja tidak banyak ditemukan adanya prasasti ataupun kitab-kitab yang bisa menjadi catatan sejarah pemerintahan sesudahnya. Catatan yang ada hanya berupa legenda dan ceritera tutur. Sumenep sejak itu menjdai wilayah bebas upeti (bebas pajak) dari pemerintahan Majapahit sampai pada pemerintahan Hayam Wuruk. Namun ketika Majapahit diperintah oleh Wikramuwardhana, sumenep ditarik untuk menyetor upeti lagi.

 

3

 

MASA PEMERINTAHAN JOKOTOLE (SECARADININGRAT III) 1415-1460 M

  • Raden Ayu Potre Koneng

Dikisahkan Pangeran Secaradiningrat II mempunyai seorang putrid yang amat elok parasnya, lemah lembut budi pekertinya, dan sangat dekat dengan masyarakat kecil, bernama Dewi Saini. Karena putri pangeran Secaradiningrat II tersebut berkulit kuning langsat di kalangan masyarakat terkenal dengan sebutan Potre Koneng. Setelah dewasa potre koneng bersuamikan Adipoday. Potre Koneng dengan Adipoday mempunyai putra bernama Jakatole, yang kisah hidupnya terkenal penuh dengan legenda. Sejak kecil Jakatole diasuh oleh Empu Kelleng seorang pandai besi yang berdomisili di Pakandangan, Bluto.

Potre koneng dalam cerita tutur kisahnya suka bertapa ke gua Payudan. Demikian pula suaminya, yang masih putera dari penguasa pulau Sepudi.

Jakatole diasuh dan dididik Empu Kelleng untuk menjadi manusia yang baik. Sejak kanak-kanak Jakatole senang memperhatikan Mpu Kelleng saat bekerja membuat alat-alat pertanian dari besi. Ketika Jakatole ingin membantu ayah angkatnya, karena dikhawatirkan terkena api maka Mpu Kelleng melarangnya. Suatu ketika dikala Mpu Kelleng pergi istirahat, Jakatole mencoba membuat alat-alat dari besi dan hasilnya ternyata bagus. Setelah Mpu Kelleng tahu karya Jakatole, ia sangat gembira dan mengagumi hasil karya anak angkatnya. Disamping itu juga Jakatole membuat keris, kemudian keris hasil buatan Jakatole terkenal dengan sebagai jennengan pakandangan.

Pada saat itu keraton Majapahit akan dibuat sebuah pintu gerbang. Prabu Brawijaya mengundang semua tukang bangunan dan pandai besi di wilayah kekuasaan Majapahit, untuk melaksanakan proyek besar tersebut. Dari Sumenep diundang Mpu Kelleng. Karena tugas tersebut dari merupakan undangan dari seorang Raja, ia lalu berangkat ke Majapahit. Di sana ia bekerja dengan tekun sesuai dengan kemampuannya. Beberapa minggu lamanya melaksanakan tugas pembangunan pintu gerbang itu. Mpu Kelleng menderita sakit. Berita sakitnya Mpu Kelleng sampai terdengar oleh istrinya di Pakandangan. Jakatolesegera diberi tahu. Dengan penuh rasa cinta kepada ayah angkatnya, Jakatole lalu berangkat ke Majapahit untuk menemui Mpu Kelleng. Di tengah perjalanan menuju Majapahit, Jakatole bertemu dengan paman adi ayahnya bernama Adirasa. Jakatole lalu diajak ke sebuah tempat. Di sana ia diberi ajaran.

Setelah beberapa hari jakatole menerima wjangan dari Adirasa, ia segera berangkat ke Majapahit. Ia tak lupa pesan pamannya,bahwa ia mempunyai adik kandung benama Aguswedi yang saat itu masih ada dalam asuhan Ki Pademawu. Jakatole lalu pergi menuju Pademawu untuk menemui Agus Wedi adik kandungnya. Setelah keduanya bertemu mereka saling melepas rasa rindu. Aguswedi menceritakan bahwa dirinya selalu menemui pamannya Adirasa di Jumiang tak jauh dari Pademawu. Dan keesokan harinya keduanya berangkat menuju Majapahit setelah pamit kepada ayah angkat Aguswedi.

Tidak banyak dikisahkan dalam perjalanan Jakatole dan Aguswedi sampailah mereka diujung barat pulau Madura. Disana mereka menumpang perahu untuk menyeberang menuju arah pulau Jawa. Mereka mendarat di Gresik. Di Gresik keduanya menjadi tamu Adipati Gresik. Oleh sang Adipati keduanya diajak tinggal di Gresik. Karena hendak mengurus ayahnya, hanya Agus Wedi yang tinggal di Gresik. Jakatole sendirian meneruskan eprjalanan ke keraton majapahit. Agus Wedi kelak kemudian hari dikawinkan dengan puteri Adipatu Gresik.

Selanjutnya Jakatole meneruskan perjalanan menuju ke pusat kerajaan Majapahit. Setibanya di Majapahit Jakatole langsung menemui para Mpu dan bertanya tentang keadaan ayahnya. Setelah ditunjukkan, maka jakatole segera menemui ayahnya, Mpu Kelleng. Mpu Kelleng dirawatnya dengan baik-baik.

Jakatole segera mengganti ayah angkatnya mengerjakan pintu gerbang. Akhirnya selesailah bangunan pintu gerbang yang dipesan Prabu Brawijaya tersebut. Parabu Brawijaya merasa senang serta puas dengan hasil karya para Mpu tersebut. Para Mpu menjelaskan bahwa keberhasilan pekerjaannya atas bantuan Jakatole putra Mpu Kelleng yang datang dari Sumenep. Prabu Brawijaya kagum atas keterampilan serta kepandaian Jakatole. Apalagi setelah Baginda tahu bahwa Jakatole masih muda belia. Kemudian jakatole dan para Mpu diberi hadiah oleh Prabu Brawijaya. Kemudian mereka mohon pamit untuk pulang ke daerahnya masing-masing, termasuk Mpu Kelleng. Tetapi Jakatole tidak diperkenankan pulang oleh Prabu Brawijaya.

Setelah para Mpu bersiap pulang ke daerahnya masing-masing, mpu Kelleng merasa berat untuk meninggalkan anak kesayangannya sendirian yang masih muda di ibukota suatu negeri yang besar seperti Majapahit.sebelum berpisah Mpu Kelleng tidak lupa memberikan wjangan terhadap Jakatole tidak melupakan tata krama dan sopan santun agar sesuai dengan tata cara kehidupan keraton. Di samping tidak melakukan tindakan yang merugikan nama baik orang Sumenep. Sebagai abdi Jakatole selalu bekerja dengan baik. Ia cerdas sehingga mudah beradaptasi.

Jakatole dititahkan Raja Majapahit untuk memimpin pasukan bersama dengan panglima yang lain. Dalam penyerangan itu akhirnya Blambangan dapat dikalahkan dan sebagian tentaranya melarikan diri ke hutan. Dalam pengejaran itu Raja Blambangan melarikan diri ke hutan. Dalam pengejaran itu Raja Blambangan terbunuh. Sedangkan putra Raja bersama beberapa keluarganya melarikan diri ke Pulau Bali.

Atas kemenangan yang gemilang itu jakatole mendapatkan anugerah dai Prabu Brawijaya, kelak akan dijadikan pengganti kakeknya, Pangeran Secadiningrat apabila Adipati Sumenep turun dari tahtanya. Selain itu Jakatole juga diberi anugerah nama yakni : Raden Arya Kudapanole. Anugerah tersebut merupakan suatu karunia yang tidak ternilai harganya bagi seorang kawula. Lebih dari itu semua, Jakatole diambil menantu oleh Prabu Brawijaya, yaitu dikawinkan dengan puterinya, bernama Dewi Ratnadi.

3.2.   Jakatole diangkat menjadi Adipati Sumenep.

Pada suatu ketika Jakatole pamit kepada raja Majapahit untuk pulang ke Sumenep. Tibalah jokotole dan Dewi Ratnadi di desa Pakandanan. Mpu Kelleng sangat gembira menyambut anak kesayangannya datang dengan membawa seorang istri yang sangat cantik, apalagi Dewi Ratnadi adalah putri seorang raja besar dari kerajaan Majapahit. Semua penduduk di sekitarnya datang berduyun-duyun ingin melihat rupa sang Dewi Ratnadi. Para warga desa Pakandangan merasa takjub terhadap kenyataan yang dilihatnya. Merkea kagum pada nasib peruntungan Jakatole yang seperti mustahil mendapatkan putri seorang raja. Tetapi, apabila memperhatikan sikap hidupnya yang sopan serta kecerdasannya memang wajar Jakatole menjadi menantu raja.

Setelah beberapa lama Jakatole di Pakandangan, pada suatu malam Jakatole memberitahukan kepada ayah angkatnya Mpu Kelleng, bahwa dirinya sekarang mengetahui siapa orang tuanya yang sebenarnya. Diceritakan kisah perjalanannya dikala menuju Majapahit yang bertemu dengan pamannya yang bernama Adirasa. Dari pamannya ia tahu nama ayah kandungnya adalah Adipoday yang sekarang bertapa di gunung Geger di daerah bangkalan, sedangkan ibunya ialah Dewi Saini atau Potre Koneng, yaitu putri dari Pangeran Secadiningrat, Adipati Sumenep. Betapa terkejutnya Mpu Kelleng terutama istrinya, mereka menangis karena takut ditinggalkan serta tidak diakui lagi oleh Jakatole sebagai orang tua angkatnya. Jakatole menjawab dengan lemah lembut bahwa dirinya tetap menganggap Mpu Kelleng bersama istrinya sebagai orang tuanya dan tidak akan melupakan jasa-jasanya. Dengan pernyataan itu Mpu Kelleng dan isteri merasa agak terhibur.

Beberapa hari kemudian Jakatole pamit kepada Mpu Kelleng untuk menemui ayah kandungnya Adipoday. Tanpa banyak cerita dalam perjalanan sampailah Jakatole ke puncak gunung Geger. Disana tidak tampak adanya kehidupan, meskipun panorama alamnya cukup indah menawan hati.

Setelah lama merenung menikmati keindahan alam sekitarnya, kemudian datanglah seorang laki-laki berpakaian putih bersih, rupanya tampan dan berwibawa. Orang tersebut tidak diketahui oleh Jakatole datang dari mana, tahu-tahu sudah ada dihadapannya. Dengan melihat wajahnya Jakatole yakin bahwa orang tersebut adalah ayahnya. Jakatole menunjukkan rasa hormat dengan takzimnya. Sebuah pertemuan yang sangat mengesankan, karena anak dan orang tua itu baru bertemu setelah anak sudah dewasa.

Selanjutnya Jakatole diajak menuju sebuah gubuk yang menjadi tempat peristirahatan Adipoday. Setelah sampai di gubuk ayahnya, Jakatole beristirahat dan keesokan harinya mulailah Adipoday memberikan bermacam-macam dan ajaran kepada Jakatole, mulai dari masalah keduniawian hingga masalah spiritual yang berupa pendekatan diri keapda Tuhan Sang Pencipta. Jakatole betul-betul digembleng oleh Adipoday agar kelak menjadi manusia berguna, bermanfaat terhadap masyarakat, agar tidak takabur dalam menjalani hidup baik di dalam menjadi seorang pemimpin ataupun menjadi manusia biasa.

Setelah kembali ke Pakandangan,berselang beberapa hari kemudian Jakatole pamit pada Mpu Kelleng untuk menghadap kepada Ibundanya, Potre Koneng serta menghadap kakeknya Pangeran Secadiningrat di keratonnya, yang kala itu terletak di Banasare. Dewi Ratnadi diajak serta untuk menghadap Ibundanya. Berangkatlah pasangan suami istri tersebut menuju banasare, sampai di banasare Jakatole meminta ijin kepada penjaga pintu untuk menghadap Pangeran Secadiningrat. Namun si penjaga pintu memberi tahu, bahwa Pangera Secadiningrat sedang melakukan perjalanan ke Majapahit untuk menghaturkan upeti kepada Raja Majapahit. Untuk kedua kalinya Jakatole minta agar dihadapkan pada Potre Koneng. Oleh penjaga pintu segera diijinkan karena melihat tampang Jakatole dan istrinya yang berwibawa serta penuh sopan santun.

Di keraton Banasare setelah bertemu ibunya, mereka saling melepaskan rasa rindu dan saling menceritakan pengalaman masing-masing. Kemudian Jakatole memberitahukan kepada ibunya bahwa adiknya yang bernama Aguswedi ada di Kadipaten Gresik, serta kawin dengan putri Adipati Gresik dan kemudian digantikan Aguswedi. Betapa bahagianya Potre Koneng karena kedua anaknya ternyata selamat dan telah dewasa. Yang satu telah menjdai Adipati dan yang satu lagi sedang menghadap dirinya bersama istrinya yang cantik jelita.

Ketika Pangeran Secadiningrat menghadap ke Majapahit untuk menyampaikan upati tahunan, Raja Brawijaya bercerita bahaw cucu Secadiningrat telah pernah membantu menumpas pemberontakan Blambangan. Diberitahukan juga bahwa Jakatole telah dikawinkan dengan putrinya Dewi Ratnandi. Pangeran Secadiningrat merasa heran dan penuh tanda tanya.

Dengan rasa tergesa-gesa Pangeran Secadiningrat mohon pamit kepada Raja Brawijaya untuk segera pulang ke Sumenep, dirinya sangat ingin cepat-cepat tiba di keraton, dan ingin bertemu cucunya yang bernama Jakatole. Mereka bertemu di keraton Banasare dalam suasana riang gembira.

Pangeran Secadiningrat merasa usianya semakin tua, maka dirinya berunding dengan menantunya Adipoday serta dengan cucunya Jakatole, agar Adipoday mau menggantikan dirinya sebagai Adipati Sumenep. Namun Adipoday menolaknya dengan alasan akan kembali ke Sepudi mengingat orang tuanya yang bernama Panembahan blingi juga sudah tua. Di samping itu dirinya dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya menjadi raja di pulau Sepudi dan sekitarnya. Kemudian Pangeran Secadiningrat menawarkan kepada Jakatole, untuk mengganti kedudukannya, rupanya Jakatole tidak bisa menolak, tapi dirinya meminta agar pusat pemerintahan dipindah ke timur yakni desa Lapataman, dengan tujuan agar dekat pelabuhan menuju Sepudi.

Adipoday dan Potre koneng kemudian bertolak ke Pulau Sepudi setelah mendapatkan ijin Pangeran Secadiningrat. Tiba di Sepudi Adipoday lalu ditugaskan untuk menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Panembahan Wirakrama. Perlu kiranya diketahui, bahwa Dipoday konon mempunyai banyak nama, antara lain Adipoday, Arya Baribin dan Panembahan Wirakrama. Kemungkinan nama-nama tersebut oleh para penutur disesuaikan dengan kisah-kisah perjalanan hidupnya.

Jakatole kemudian diangkat menjadi Adipati menggantikan kakeknya Pangeran Secadiningrat, dan berkedudukan di Lapataman sekarang masuk kecamatan Dungkek, sekitar 28 km dari pusat kota Sumenep (sekaran). Jakatole menjadi adipati dengan gelar Pangeran Secadiningrat III.

 

3.3.    Akhir pemerintahan Jakatole

 Masa pemerintahan Jakatole yang pusat pmerintahannya berada di Lapataman, rupanya banyak kejadian yang menarik bagi masyarakat untuk dijadikan bahan cerita, antara lain :

Setelah Jakatole berusia lanjut menderita sakit dan dirinya sudah merasaka bahwa tak lagi ajalnya akan tiba, lalu minta kepada putra-putranya agar secepatnya dibawa ke Banasare. Berangkatlah rombongan membawa Jakatole yang sakit ditandu menuju ke arah Barat, sampai di suatu tempat Jakatole menghembuskan nafasnya yang terakhir dan kemudian tempat tersebut konon diabadikan dengan nama Batang-Batang, yang maksudnya yakni kala itu para peniringnya mengambil bambu untuk dijadikan keranda jenazah yang dalam bahasa Madura halus disebut “korong batang”.

Setelah dimandikan kemudian perjalanan dilanjutkan mennuju ke arah Selatan, sampai di desa Lanjuk, pikulan jenazah Jakatole patah dan ditempat itu diabadikan dengan anam sa-asa yang maksudnya ella-sa atau sudah putus. Disanalah Jasad Jakatole dikuburkan. Kuburan itu dikeramatkan oleh masyarakat hingga sekarang. Pengunjungnya bukan hanya dari Sumenep saja, bahkan dari luar Madura yang datang untuk berziarah.

Jakatole dengan Dewi Ratnadi dikaruniai dua orang putra dan putri, yang bernama Raden Arya Wigandana, sedangkan yang kedua adalah seorang putri yang kemudian dikawinkan dengan seorang ulama putra Sunan Manyuran Mandalika yang bernama Raden Bindara Dwiryapadha. Raden Dwiryapadha kemudian dikenal dengan nama Sunan Paddusan, salah seorang penyebar agama Islam di Sumenep. Setelah Jakatole wafat maka Raden Arya Wigananda diangkat menjdai penguasa di Sumenep dengan gelar Pangeran Secadiningrat IV, Keraton dipindahkan ke desa Gapura, sekarang Gapura menjadi kota kecamatan terletak 13 Kilometer di sebelah timur kota Sumenep.

 

4

 

SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM

 

4.1 Agama Islam di Indonesia

Awal perkembangan dakwah islam di Nusantara abad XIII Islam lebih banyak menyentuh sisi instrinsik substansial dalam bentuk ajaran tasawuf. Implementasi agama lebih menekankan kepada nilai-nilai rohani daripada fisik. Pandangan filosofi instrinsik. Islam banyak tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sebagai substansi dalam menjalankan amal dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai rohaniah itulah yang kemudian menjdai spirit dan memberikan pencerahan dalam kehidupan.

Berbagai penelitian yang dilakukan Schrieke, Van Leur, dan Meilink-Roelofsz (dipublikasikan tahun 1925 M.) mengungkapkan semaraknya perkembangan Islam di Kepulan Indonesia pada abad XV. Catatan-catatan yang ditulis para perantau Arab dan Cina menjelaskan pula tentang lancarnya perdagangan dan pelayaran di kepulauan Nusantara bersamaan dengan awal perkembangan Islam.

Bandar-bandar sepanjang pantai utara pulau Jawa merupakan pelabuhan tempat para pelaut berlabuh membeli kebutuhan pokok untuk bekal perjalanan yang memakan waktu selama berbulan-bulan dengan menggunakan perahu layar. Bandar-bandar tersebut banyak disinggahi perantau, karena tersedianya beras dan air sebagai bahan kebutuhan pokok.

Selain dengan persediaan bahan pokok tersebut, bandar-bandar di pulau Jawa juga menjadi tempat perdangangan rempah-rempah. di bandar-bandar itu terjadi transaksi aneka macam barang yang ditawarkan kepada pedagang asing. di antara para pedagang itu kemudian ada yang tertarik menetap di salah satu tempat tersebut. kemudian terbentuklah perkampungan para pedagang. anak-anak mereka mengadakan perkawinan campur dengan orang pribumi baik pedagang, pegawai maupun bangsawan. Bandar-bandar luar sepanjang pantai utara pulau Jawa juga menjadi tempat usaha transportasi laut, perkapalan, dan pembuatan kapal, yang melayani keperluan angkutan dan perdagangan antar pulau.

Usaha ekspedisi perkapalan di bandar-bandar di pulau itu dilakukan oleh masyarakat kelas pedagang. Tidak jarang ada nakhoda kapal sendiri yang merupakan pemilik kapal beserta muatannya, sebagian lagi menguasai sebagian sahamnya. Kadangkala ada perahu yang dimiliki seorang bangsawan yang awak kapalnya terdiri-dari abdi-abdi denga ikatan kerja agak longgar.

Berkembangnya Islam di bandar-bandar itu banyak diterima oleh golongan menengah, kaum pedagang, dan kaum buruh. Para pedagang asing itulah yang membawa agamaIslam. Ajaran Islam oleh masyarakat bandar yang terdiri-dari berbagai latar belakang, etnik dan bangsa itu, diterima dengan baik karena sangat egaliter tanpa mempersoalkan perbedaan keturunan, golongan, suku bangsa dan kasta. Hukum pernikahan dalam Islam yang tidak mengenal perbedaan, golongan dan suku bangsa, dianggap langkah yang sangat maju dalam menata persaudaran dan kerukunan berdasarkan Iman dan Tauhid.

Dalam perkampungan-perkampungan baru itu mereka bersatu membangun mesjid sebagai tempat salat berjamaah sekaligus saling bertemu. Masjid merupakan pusat silaturrahim yang menjadi lambang kesatuan ummat

 

4.2 Kerajaan Islam di Jawa

 

Sejak dari masa kejayaan Hindu di Majapahit penyebaran agama Islam tidak dihalang-halangi untuk tumbuh dan berkembang, karena raja-raja beranggapan bahwa semua agama adalah sama. Kenyataan ini menunjukkan bahwa raja Majapahit amat toleran terhadap perbedaan agama. Sehingga meski raja Hindu tidak ada rakyat Majaphit yang dihalang-halangi untuk memeluk agama Islam.

Penyebar agama Islam di pesisir utara pulau Jawa disebut “Walisanga”. Walisanga sendiri ada yang keturunan Arab, ada yang pribumi, dan ada juga keturunan Kamboja.

Ketika Majapahit mulai memasuki masa suram, dan pengikut agama islam makin banyak, para wali berhasil mendirikan Kerajaan Islam Demak dan yang ditunjuk sebagai raja ialah Raden Patah dengan gelar Sunan Bintara. Raden Patah sebagai kepala pemerintahan di Demak, merasa berkepentingan untuk menaklukkan Majapahit.

Tetapi upaya itu tidak disetujui oleh Sunan Kalijaga. Apalagi sejak dahulu raja Majapahit tidak pernah menghalang-halangi penyebaran agama Islam.

Dalam kronik Tionghwa juga dijelaskan, bahwa Demak kemudian menduduki Semarang. Raden Patah sebagai putra raja Kertabhuni, lalu bersiap lagi menyerbu keraton Majapahit. Sunan Ngampel menasehatinya agar tidak menggunakan kekerasan terhadap raja Majapahit. Karena sangant hormat kepada guru, nasehat tersebut diikutinya. Namun ketika Sunan Ngampel wafat, Raden Patah tidak ikut datang melayat. Ia dengan tentaranya sedang menyerbu Majapahit. Prabu Kertabhumi dan dibawa ke Demak serta diperlakukan dengan sangat hormat, karena Sang Prabu masih ayahnya sendiri. Pusaka dan “umbe rampe” kebesaran Majapahit diangkut ke Demak dengan menggunakan tujuh ekor kuda. Majapahit tidak sampai dibumihanguskan.

Tome Pires petualang Portugis dalam karangannya Suma Oriental melukiskan keadaan di Jawa pada tahun 1515 M. Menurutnya perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang-orang Islam terjadi dengan dua cara :

Pertama ; Bangsawan-bangsawan Jawa yang belum beragama Islam dengan suka rela memeluk agama baru tersebut dan mereka tetap memegang kekuasaan dan tetap berkuasa.

Kedua ; Orang-orang asing yang beragama Islam, dari bermacam-macam bangsa, bertempat tinggal di kampung tersendiri di bandar-bandar. Mereka membuat rumah mereka menjadi sejenis kubu pertahanan ; dari tempat-tempat itulah mereka mengadakan serangan-serangan terhadap perkampungan orang-orang yang belum memeluk agama Islam ; akhirnya mereka dapat menguasainya.

Masuknya agama Islam di Indonesia merupakan bagian dari proses akulturasi budaya dengan kebudayaan agama yang telah dianut sebelumnya. Patut dicermati bahwa pembauran antar agama di Indonesia merupaka suatu proses akulturasi yang berlangsung secara fleksibel. Jual beli untuk memnuhi kebutuhan pokok merupakan salah satu alasan terjadinya pembauran sosial karena kebutuhan bersama.

Dari abad XIV masih dapat diperoleh bukti mengenai penyebaran agama Islam di Trengganu (Malaysia Timur laut sekarang) dan di beberapa tempat di Jawa Timur. Batu bertulis di Trengganu walaupun angka tahun pada bagian akhirnya tidak lengkap, namun kemungkinan variasi antara angka tahun 1302 dengan tahun 1387. Batu ini tampaknya melambangkan masuknya Islam ke suatu daerah yang sebelumnya bukan merupakan daerah pemeluk agama Islam. Misalnya,bisa dicermati pada lebih menonjolnya penggunaan kata-kata Sansekerta daripada kata-kata Arab. Bahkan untuk menyebutkan sebuah kata yang paling akrab seperti sebutan Tuhan, pada suatu tempat masih cenderung menyebut Dewata Mulia Raya dari pada Menyebut Allah.

Serangkaian batu nisan yang sangat penting ditemukan di kuburan-kuburan di Jawa Timur, yaitu di Trowulan dan Tralaya, di dekat situs istana Majapahit yang bersifat Hindu-Budha. Batu-batu itu menunjukkan bentuk makam orang-orang muslim, namun lebih banyak menggunakan angka Saka India dengan angka-angka Jawa Kuna dari pada tahun-tahun Hijriyah Islam dengan angka-angka Arab. Tarikh Saka dipakai di istana-istana Jawa dari zaman Jawa Kuna hingga tahun 1633 M. Bukti tersebut menunjukkan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa makam-makam itu merupakan tempat penguburan orang-orang muslim Jawa, bukan merupakan kkuburan orang-orang muslim asing. Batu nisan pertama yang ditemukan di Tralaya ada yang memuat angka tahun Saka 1290 (1368-1369). Di Tralaya ada beberapa batu nisan yang angka tahunnya berkisar antara Saka 1298 sampai Saka 1533 (1376-1611 M). Batu-batu itu memuat kutipan-kutipan dari Quran dan formula-formula tentang kesalehan. Berdasarkan rumitnya hiasan yang terdapat pada beberapa batu nisan itu dan lokasinya yang dekat dengan situs ibu kota Majapahit, maka Damais seorang pengamat, menarik kesimpulan bahwa batu-batu nisan itu mungkin untuk menandai kuburan-kuburan orang Jawa yang sangat terhormat, bahkan ada kemungkinan anggota-anggota keluarga raja (Rickfels, 1999: 5)

Agama Islam berangsur-angsur berkembang menjadi agama yang paling dominan di pulau Jawa. Hal tersebut terjadi karena di beberapa titik temu perdagangan laut merah internasional di Jawa Timur dan Jawa Tengah (Gresik-Surabaya dan Jepara-Demak). Golongan menengah Islam, yaitu pedagang-pedagang berdarah campuran telah lama menetap dan menjalankan pemerintahan di tempat-tempat itu.

 

4.3 Awal Pertumbuhan Islam Di Sumenep

Sejarah perabadan Sumenep berlangsung pasang surut dari zaman ke zaman. Perbagai konflik yang muncul kadang dikarenakan faktor-faktor politis. Namun secara sosial pembauran antar etnis sampai saat ini berlangsung lewat berbagai aktivitas antara etnis pendatang dengan penduduk setempat.

Hubungan antar umat beragama ditandai dengan tumbuhnya sikap saling menghargai dan saling menghormati sebagai manifestasi dari toleransi beragama yang hadir di tengah masyarakatnya.

Hadirnya bentuk arsitektural Masjid Agung Sumenep merupakan pengejewantahan dari perpaduan antar etnis, juga agama yang merasuk ke dalam kehidupan sebagian besar masyarakat. Bentuk bangunan masjid sebagai tempat peribadatan tidak steril dari pengaruh di luar Islam. Suatu simbol penghargaan nilai-nilai agama terhadap keragaman umat manusia dengan aneka latar kebudayaan yang berbeda. Perlu penelitian yang cermat terhadap realitas yang menunjukkan peninggalan budaya Islam amat menghargai keragaman budaya dalam masyarakat Sumenep.

Di desa Pabian di sebelah timur kota sampai saat ini terdapat tiga bangunan tempat peribadatan dari agama yang berbeda (Islam, Hindu, dan Kristen) di lokasi yang amat berdekatan. Bangunan Gereja, Kelenteng dan Masjid tiga bentuk arsitektural yang berbeda dalam satu wilayah memberikan kesaksian adanya toleransi beragama bagi penganutnya tanpa harus mempertentangkan nilai-nilai ideologis yang diembannya.

Rentetan perkembangan nilai-nilai Islam merupakan suatu dinamika yang saling berurutan di antara kondisi sosial dan kearifan para pemimpin-pemimpin Islam di dalam menjalankan kendali pemerintahan. Pola kepemimpinan dalam pemerintahan juga membawa perkembangan Islam di daerah Sumenep merupakan suatu pola hidup baru bagi masyarakat Sumenep.

Perkembangan Islam di sumenep tidak hanya mengurus soal ibadah dan akhiratnya. Tapi juga membawa perbaikan-perbaikan kehidupan di bidang pertanian, peternakan, perdagangan serta menipisnya sekat feodalisme yang memisahkan antara penguasa dengan rakyat yang dipimpinnya.

Masjid sebagai pusat kebudayaan menjdai pelopor pendidikan keagamaan untuk membawa rakyat jelata meninggalkan kegelepan dan kebodohan.

Cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Sumenep, bahwasanya penyebar agama Islam adalah Syayyid Ahmad Baidhawi atau yang dikenal dengan Pangeran Katandur. Ia bersyiar pada masa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan atau sekitar tahun 1550-an. Kuburannya berada di desa Bangkal sebelah Timur kota Sumenep dan dikenal dengan nama Asta Sabu. Sebelum itu, sekitar tahun 1400-an ada ulama penyebar agama Islam bernama Raden Bindara Dwiryapadha dikenal dengan nama Sunan Paddusan. Namun keterangan para pengamat sejarah ada penyiar agama Islam di Sumenep ang lebih awl dari masa itu, yakni sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari pada tahun 1330-an.

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Syd. Ali Murtadla menuju ke Araj timur dan mendarat di Pulau Sepudi, disana mendirikan pedukuhan sebagai pusat pengembangan agama Islam, yang oleh masyarakat disbut Rato Pandita, juga dikenal dengan nama Sunan Lembayung Fadal. Kuburannya disebut Asta Nyamplong.

Menurut Cerita tutur, nama Sepudi berasal dari kata-kata Sepuh Dhewe (bahasa jawa) dengan artian “yang tua sendiri” atau lebih tua (awal) masuknya agama Islam di Sumenep.

Sunan Lembayung Fadal tersebut berputra 4 orang yakni :

  1. Haji Usman yang dikenal dengan nama Sunan Manyuram Mandalika, menyebarkan agama Islam di Mandalika Lombok, dan mempunyai keturunan bernama R. Bindara Dwiryapada yang dikenal dengan nama Sunan Paddusan yang menyebarkan agama Islam di Sumenep, yang kemudian menjadi menantu oleh Jakatole.
  2. Usman Haji yang dikenal dengan nama Sunan Ngudug (Sunan Andung) beliau mempunyai dua orang putra danputri, Syd. Jakfar Shodik (Sunan Kudus) dan siti Sujinah istri Sunan Muria, sedangkan Sunan Kudus mempunyai putra bernama Syd. Amir Hasan (Sunan Pakaos), dan juga Sunan Pakaos mempunyai putra sebanyak 12 orang. Putra yang kesembilan bernama Sayyid Ahmadu Baidlawi atau Pangeran Katandur.
  3. Tumenggung Pulangjiwa atau Panembahan Blingi, yang mempunyai dua orang putra yakni Adipoday dan Adirasa.
  4. Nyai Ageng Tanda istri Kahlifah Husain atau Sunan Kertajaya yang dikenal dengan nama Sunan Kertayasa di Sampang.

Keberadaan Sunan Lembayung Fadal tersebut sezaman dengan pemerintahan Panembahan Joharsari yang keratonnya di Aenganyar masuk desa Tanjung, sekarang termasuk Kecamatan Saronggi.

Adipati Sumenep yang pertama kali masuk Islam ialah Panembahan Joharsari. Pada zaman itu Islam belum merata, karena Tanah Jawa masih dikuasai oleh raja-raja beragama Hindu. Namun penyebaran Islam tetap berlangsung secara damai. Baru setelah pada zaman Walisanga tahap Islam dapat menyebar ke hampir seluruh pelosok. Bahwa Islam telah masuk sangat awal ke berbagai bandar di Jawa bisa dibuktikan dengan adanya kubur seorang muslimah bernama Fatimah binti Maimun bin Al Qadir Billah, di Leran, Gresik, yang bertahun 1102 masehi, atau sekitar empat ratus tahun sebelum Walisanga menyebarkan agama Islam.

Walisanga yang dikenal oleh masyarakat sebagai wali yang berjumlah sembilan orang, sebenarnya dari periode awal ke ke periode akhir semua berjumlah 33 orang. Yang paling terkenal adalah Walisanga tahap kedua, yang antara lain : Maulana Malik Ibrahim; sunan Ampel: Sunan Giri; Sunan Bonang: Sunan Drajat (kelima Wali ini menyebarkan agama Islam wilayah Jawa timur); Sunan Kudus: Sunan Kalijaga, Sunan Muria (ketiga Wali ini menyebarkan agama Islam di Wilayah Jawa Tengah); dan Sunan Gunung Jati (menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Barat).

Dijelaskan oleh KH. Bisri Mustofa (Rembang) dalam kitabnya Tarikhul Auliya, bahwa pada saat Sunan Ampel wafat para wali yang berta’ziyah sebanyak 16 orang antara lain : 1) Sunan Bonang; 2) Sunan Giri; 3) Sunan Kalijaga; 4) Sunan Gunungjat;: 5) Sunan Muria; 6) Sunan Kudus; 7) Sunan Wilis: 8) Sunan Manyuran Mandalika; 9) Sunan Ngudung; 10) Sunan Bangkalan; 11) Sunan Kertayasa; 12) Sunan Malaka; 13) Sunan Ngadilangu: 14) sunan Drajat; 15) Syekh Siti Jenar dan Sunan Bintara (Raden Patah) raja Islam pertama yang berada di Demak. Dengan penjelasan ini tidak benar keterangan bahwa ketika Sunan Ampel wafat, Raden Patah menyerang ke Majapahit.

Kembali kepada masalah Panembhan Joharsari yang disebut sebagai Adipati Sumenep yang pertama kali masuk Islam, banyak sekali faktor yang mendukungnya, antara lain :

Panembahan Joharsari mempunyai putra bernama Raden Piturut bergelar Sunan (Panembahan) yang juga beragama Islam. Kuburannya di desa Mandaraga, Keles, merupakan sudah berbentuk kuburan Islam yang berkumpul dengan kuburan keluarga Islam lainnya.

Panembahan Mandaraka berputra dua orang yakni Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung, kuburan Pangeran Baragung juga kuburan Islam, sampai pada Agungrawit, hingga Adipoday, sedangkan Adipoday adalah cucu Sunan Lembayung Fadal.

Masuknya agama Islam di Sumenep melalui jalur perdagangan laut ketika pesisir menjdai pusat kota pelabuhan, amat memungkinkan terjadinya pembauran sosial dan agama karena laut pada saat menjdai jalur transportasi utama yang menghubungkan antar pulau dan benua jalur darat untuk membawa dagangan sangat sulit karena tidak ada alat transportasi jarak jauh. Lewat para pedagang itulah agama Islam disebarkan dengan cara damai, misalnya dengan dakwah yang menggunakan seni (wayang). Penyebaran Islam saat itu tidak secara radikal menggusur buday lokal, selagi budaya itu bisa dijadikan dakwah.

Cerita panjang yang lain tentang islam di Sumenep tertulis dalam Sejarah Dalem, yang kemungkinan dikutip dari silsilah raja Jawa-Madura yang lebih tua. Dalam cerita tersebut muncul Adipati Kanduruwan yang konon masih putera Raja Demak, yang menjadi pegawai Ratu Mas Kumambang, Ratu Putri (Prabu Kenya) di Japan (Majapahit). Ats perintah tuan putrinya, Adipati Kanduruwan telah menyerang Sumenep. Pertemuan berlangsung seru di wilayah Lenteng. Dalam pertempuran itu Adipati Sumenep yang bernama Aria Wanabaya, dan sesudah meninggal disebut Pangeran Siding Puri (De Graaf). Kuburan Pangeran Siding Puri juga sudah dalam bentuk kuburan Islam.

Karta Sudirja menerangkan, bahwa di Kota Sumenep di kampung Masigit Barat, dekat mesjid di bagian barat, terdapat tempat tinggal Adipati Kanduwuran yang menggantikan Pangeran Siding Puri.

Menurut Cerita masyarakat setempat, makam tua yang bertarikh tahun Jawa 1504 (1582 M) di kampung Pasar Pajinggan, di Sumenep itu adalah makam Adipati Kanduruwan. apanila diyakini bahwa Pangeran Kanduruwan dari keluarga raja Demak ini memang telah berperan di sumenep pada perempat kedua dan ketiga ke 16, tidak mustahil kalu ia meniggal pada tahun 1582, dalam usia lanjut. Menurut cerita tutur jawa, ia adalah sebagai saudara seibu dengan Sultan Tranggana dari Demak, paman dari sultan Pajang (menantu Sultan Tranggan). Mengingat hubungan keluarga yang demikian akrab itu, dapat dipahami tidak diberitakan sikap tidak ada permusuhan raja-raja Sumenep dengan raja-raja Demak dan Pajang.

Menurut cerita tradisi Sumenep, Adipati Kanduruwan meninggal dalam pertempuran melawan orang Bali. Dalam paruh kedua abad ke- 16, konon Kerajaan Sumenep dipandang sebagai pertahanan terdepan oleh kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, Demak dan Pajang.

Agil (2002;1) menjelaskan mengenai Raden tumenggung Kanduruwan sebagai putra Raden Patah, Sultan Demak. Tumenggung Kanduruwan memiliki istri bernama Raden Ayu Puseri puteri dari Pangeran Tanda Terung, dan dikaruniai dua orang putra, yang pertama bernama Raden Banten, dan yang nomor dua adalah Raden Wetan.

Pertumbuhan ekonomi di masa Islam, Sumenep merupakan salah satu pusat kegiatan ekonomi yang cukup menonjol, selain Pamekasan, Panarukan, Probolinggo, Pasuruan, Lasem, Sedayu, Besuki dan Banten. Bahwa Sumenep meskipun secara agraris kurang menguntungkan karena lahan pertanian kurang subur, namun sebagai kota pelabuhan memiliki arti penting sebagai jalur dan pusat perdagangan di Jawa Timur. Kegiatan perdagangan tersebut mengalmai perkembangan pesat antara abad XV dan abad XVIII.

 

4.4 . Panembahan Baribin Sepudi

Sayyid Ali Murtadla atau Sunan Lembayung Fadal juga yang dikenal dengans ebutan Rato Pandita bertempat di Pulau Sepudi, tempat pedukuhannya dinamakan Asta Nyamplong, karena di sekitar tempat tersebut banyak ditumbuhi pohon Nyamplung (Callophylum).

Sebagai panyebar agama Islam, Sunan Lembayung Fadal selalu menganjurkan kepada masyarakat setempat untuk menjalankan agama Islam dengan baik dan sempurna, menunaikan shalat serta banyak berdzikir kepada Allah SWT. Pendekatan (taqarrub) kepada sang Khaliq lebih diutamakan, untuk memebrsihkan hati dengan jalan memeprbanyak dzikir kepada Allah menunaikan shalat, puasa, zakat dan semacamnya. Santrinya yang memeplajari agama kian lama semakin banyak, bukan saja dari pulau setempat bahkan dari luar pulau seperti pulau Lombok, dan pulau-pulau sekitarnya.

Sunan Lembayung Fadal mempunyai seorang istri bernama Dewi Maduratna putri dari Aria Baribin, sedangkan Aria Baribin keturunan yang ke enam dari Prabu Banyak Wangi Raja Pajajaran. Dari perkawinan tersebut ia dikaruniai tiga orang putra dan seorang putri, antara lain yakni: Syd. Utman Haji yang setelah dewasa disuruh berguru kepada Syd. Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dan kemudian menetap di Ngudung serta dikenal dengan nama Sunan Ngudug.

Putra yang kedua bernama Syd. Haji Usman, ditugaskan di Mandalika pulau Lombok yang kemudian dikenal dengan nama Sunan \manyuran Mandalika. Putrinya bernama Nyai Ageng Tanda bersuamikan Khalifah Husain yang dikenal dengan nama Sunan Kertsaya bertempat di Madura, diperkirakan berada di daerah Sampang.

Sedangkan putranya yang lain bernama Pangeran Pulang Jiwa, setelah dewasa dikawinkan dengan salah seorang putri dari Sunan Ampel yang bernama Siti Syari’ah.

Pangeran Pulang jiwa tidak seperti saudara-saudaranya yang lain, beliau tidak merantau tapi tetap berada di Pulau Sepudi, mendampingi ayahandanya sunan Lembayung Fadal. Selain mendalami syariat Islam, Pulang Jiwa juga mempelajari bela diri. Karena itu, setiap ada serangan perompak laut disekitar pulau Sepudi ia berhasil menumpasnya. Para Perompak yang kalah ditawan di Sepudi, disana mereka diberi pengetahuan ajaran Islam dan sekembalinya ke kampung halamannya menjdai penganut Islam yang taat.. Tapi ada juga yang menetap di Sepudi untuk mengabdi kepada Pulang Jiwa.

Dalam babad Madura disebutkan bahwa Pangeran Pulang Jiwa menjabat sebagai seorang raja yang bergelar Panembahan Blingi memerintah pada tahun 1386-1399 M. Pusat pemerintahannya di Blingi. Dalam perjalanan hidupnya Pangeran Pulang \jiwa banayak mengajarkan tata cara memelihara sapi, sehingga sampai saat ini sapi dari pulau Sepudi kualitasnya sangat bagus dan pupulasinya kian meningkat.

Pangeran Pulang Jiwa mempunyai dua orang putra yang bernama Adipoday (Wirakrama) dan Adirasa (Wirabrata), keduanya sangat rajin melaksanakan ibadah serta gemar melaksanakn dzikir dengan tujuan pendekatan diri (taqarrub) kepada Sang Maha Pencipta.

Dalam Pemerintahan Arya Baribin pada tahun 1399 M, hingga 1415 M, pulau Sepudi tambah makmur dan masyaraktnya sejahtera, apa yang dilakukan oleh ayahandanya tentang pemeliharaan sapi semakin ditingkatkan, sehingga masyarakat Sepudi sangat ahli dalam memelihara sapi, dana banyak dikirim ke luar pulau untuk diperdagangkan, sebagai sumber perekonomian mereka.

 

5

 

PEMERINTAHAN PANGERAN LOR DAN PANGERAN WETAN

5.1 Asal-usul Pangeran Lor dan Pangeran Wetan

Pangeran Lor dan Pangeran Wetan Merupakan dua Orang bersaudara yang diserahi untuk memimpin pemerintahan di Sumenep. Dua orang bersaudara tersebut memiliki sifat yang berbeda. Pangeran Lor tidak mempunyai istri dan lebih suka menyepi (tafakkur) di tempat-tempat sunyi dalam gua di daerah Kasengan, gua Kalabangan.

Sedangkan Pangeran Wetan memperistri Rama Taluki dan memiliki anak bernama Raden Rajasa. Kemudian kawin dengan putri dari Pangeran Siding Puri mempunyai anak bernama Raden Keduk dan diadopsi oleh Pangeran Lor.

Meski Sumenep dipimpi oleh dua orang Pangeran. Keadaan daerah Sumenep aman dan tenteram. Kedua pemimpin dapat berbagi tugas secara bergantian untuk menghadap Raja Japan.

5.2 Peperangan Melawan Balatentara Bali

Pada saat Pangeran Wetan sedang berkunjung ke Demak, di Lapartaman datang serangan dari Bali. Raja Bali datang bersama patinya Kebojawu serta dibantu oleh gusti Pamecut dan Gusti Jumenna. Pasukan dari Bali membawa balatentara dengan ratusan perahu yang merapat mulai dari pelabuhan Dungkek (Lapa), Gresik Putih sampai Pinggirpapas,. Kemudian disebar sepanjang pesisir pantai Selatan. Mereka bermarkas di desa Balinga, Batang-batang. Kedatangan balatentara bali itu sambil melakukan penganiayaan dan pembunuhan terhadap rakyat di desa-desa. Banyak rakyat kecil yang kehilangan nyawa dan harta benda, sehingga keadaan menjadi amat mencekam dan tak menentu. Karena itu penjaga pelabuhan Lapa, cepat melapor kepada Pangeran Lor di Sumenep. Semua kejadian yang diderita rakyat dilaporkannya. Mendengar laoran itu Pangeran Lor segera mengumpulkan para menteri dan panglima perang. Bende perang lalu ditabuh. Rakyat Sumenep mendengar bende perang itu segera berkumpul di lapangan lengkap dengan senjata perangnya. Mereka siap mengadakan perlawanan terhadap serangan bala tentara Bali.

Serangan tentara Bali dilatarbelakangi peristiwa terbunuhnya Menak Jayengpari, Raja Blambangan yang tidak sudi membayar upeti kepada Majapahit. Pada peristiwa tersebut Jakatole ditugaskan Majapahit untuk menaklukkan Blambangan, sehingga rajanya Menak Jayenpati terbunuh dan sebagian rakyat dan keturunannya melarikan diri ke pulau Bali. Anak dari keturunan Menak Jayengpati inilah kemudian melakukan pembalasan kepada keturunan Aria Kuda Panoleh di Sumenep.

Sementara tentara Bali yang dipimpin oleh Kebojawu telah melakukan kekacauan di berbagai tempat dan mulai bergerak menuju kota Sumenep, sebagian dengan menaiki perahu dan berlabuh di pesisir Gresik Putih dan mereka terus menuju kota Sumenep.

Pertempuran dengan bala tentara Bali terjadi di desa Beraji, Pasukan Sumenep dipimpin Patih Wangsadumitra, Ranggamiring dan Tandaniron terus melakukan perlawanan dengan sengit. Dalam pertempuran yang banyak meminta korban jiwa itu telah mengakibatkan gugurnya Pangeran Lor dan Pangeran Batu Putih. Meskipun rajanya telah gugur, rakyat Sumrnrp terus mengadakan perlawanan mati-matian. Pangeran Wetan yang saat itu berada di Demak segera diberitahu. Setelah datang, langsung menuju markas pertahanan tentara Bali di desa Bilangan. Karena wajahnya persis pangeran Lor yang telah gugur, mereka mengira Pangeran Lor hidup kembali. Patih Kebojawu Semangatnya jadi memudar. Kondisi ini memperburuk semangat tentara Bali. Mereka tetap bertempur juga, tapi dengan rasa pesimis untuk mendapatkan kemenangan. Dalam perang tanding satu lawan satu, Kebojawu berhadapan langsung dengan Pangeran Wetan. Akhirnya, Kebojawu harus menemui ajalnya.

 

5.3 Kekalahan Balatentara Bali

Di tempat lain pasukan Bali kewalahan menghadapi pasukan perang Sumenep, sebagian besar perahunya dihancurkan sehingga mereka tidak memungkinkan untuk mundur ke arah laut dan kembali ke Bali. Tidak ada jalan bagi tentara bali untuk mundur dari medan pertempuran. Raja Bali beserta panglima perangnya terbunuh. Sebagian pasukan Bali yang merasa putus asa lalu membakar gubuk-gubuk pertahanan mereka, lalu mereka lalu bunuh diri dengan cara mencebur dalam ke dalam kobaran api. Sedangkan tentara Bali yang masih hidup kemudian lari menyelamatkan diri ke arah timur selatan Kota Sumenep, daerah yang kemudian dikenal dengan Pinggirpapas. Sebagian lagi menetap di Kampung Paddang, Nyabakan Timur, Batang-Batang.

Sisa-sisa tentara Bali yang di Pinggirpapas kini telah berbaur dengan masyarakat Sumenep umumnya dengan logat dan dialek bahasa yang amat khas. Di antara mereka ada yang jadi petani garam dengan tradisi yang khas, misalnya upacara ritual yang dinamakan Nyadar.

 

6

PEMERINTAHAN PANGERAN LOR II

DAN PANGERAN CAKRANEGARA

 

6.1 Pangeran Lor II

Di antara tahu 1567-1674 M. Pemerintahan Sumenep dipimpin oleh Pangeran Lor II. Selain membawahi pemerintahan Sumenep juga memimpin Pemerintahan Pamekasan menggantikan tahta kakeknya Panembahan Banaraga setalah meninggal dunia. Kemudian Raden Abdullah dengan Gelar Pangeran Cakranegara lalu diangkat sebagai Adipati Sumenep.

Pangeran Cakranegara kemudian menikah dengan Raden Ayu Pacar dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Raden Bugan. Setelah dewasa Bugan diangkat menjadi Adipati Sumenep dengan gelar Pangeran Yudanegara. Ia terkenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana serta penuh tatakrama. Karena itu di Madura ada peribahasa, orang yang tidak punya sopan santun disebut “ta’ tao Yudanegara”, tidak kenal Yudanegara.

Pada Tahun 1623 M Madura, termasuk Sumenep diserang Pasukan Sultan Agung dari Mataram, namun serangan yang pertama pasukan Mataram masih dapat dikalahkan oleh bala tentara Madura. Setahun kemudian menyusul serangan yang kedua dari Pasukan Mataram. Pertempuran berlangsung sengit dan banyak menelan korban Jiwa. Keadaan di sekuruh Madura kacau tak terkendali, akhirnya mengakibatkan kalahnya tentara Madura. Kemudian seluruh Madura ttermasuk Sumenep dikuasai oleh Sultan Agung dari Mataram.

6.2 Pendaratan Tentara Mataram

Pendaratan tentara Mataram dilakukan di kelisik, sebuah desa di daerah Madura. Namun yang banyak dikenal desa Kisik berada di daerah Sedayu Gresik. Barangkali yang dimaksudkan Kekisik adalah kisik atau sebuah endapan. Diceritakan pasukan Mataram pada pendaratan meraka yang pertama seolah-olah menggunakan suatu tipu muslihat, sehingga dapat mendaratkan meriam-meriam yang mereka bawa.

Kiai Sujanapura dibunuh oleh pasukan Sampang, krtika ia sedang santai di perkemahannya. Kiai Juru Kiting menyuruh memasak nasi liwet untuk pasukannya. Dengan ditandu Kiai Juru kiting mengelilingi pasukan Mataram dan membagikan nasi. Kemudian , mereka diperintahkan untuk menatap langit dan membungkuk ke tanah. Melihat perlakuan ini tentara Sampang lalu kehilangan keberanian, sehingga mereka meletakkan senjatanya.

Pangeran Mas dari Arisbaya (Arosbaya) melarikan diri ke Giri. Dan meninggal dunia disana. Pangeran Blega dibawa ke Mataram tetapi ditengah jalan, di Jurang Jero, dibunuh. Pangeran Pamekasan gugur dalam pertempuran di kotanya sendiri bersama seluruh pasukannya. Bupati Sumenep melarikan diri, tatapi dikejar kemudian dibunuh (De Graff, 2002 : 105).

Dalam pertarungan untuk mempertahankan diri melawan gerombolan telah mengakibatkan gugurnya Pangeran Lor II dan Pangeran Cakranegara I. Sebelum Pangeran Cakranegara menghembuskan nafas terakhir, ia menyerahkan raden Bugan kepada pengikutnya untuk dilarikan dan dititipkan ke Sultan Cirebon.

Namun pendapat ini patut dipertanyakan oleh De Graaf, yaitu : Apakah orang cirebon cukup berani melindungi Raden Bugan yang masih kecil? Apakah tidak mungkin pemuka ulama Giri yang melindunginya? Bagi banyak orang. Giri menjadi tempat pelarian, dan di Madura Sunan Giri Perapen dan keturunannya yang sangat dimulyakan.

Sisa rombongan Pangeran dari Sumenep yang masih hidup meneruskan perjalanan menuju Demak dan melaporkan keadaan di Sumenep juga Madura yang telah dikuasai oleh Mataram. Usai menerima laporan kemudian Sultan Demak memerintahkan Raden Mas Anggadipa (Anak seorang bupati Jepara) diangkat menjadi Bupati Sumenep.

Berita Belanda tentang Penaklukan Madura oleh Mataram merupakan sesuatu yang amat menarik, karena Raja Mataram berani memasuki medan yang menjadi wilayah pihak Kompeni, yaitu laut. Pada April 1624 Syahbandar yang baru pulang dari Demak melaporkan kepada Cornelis van Maseyck bahwa, “ desas-desus di Demak, mengabarkan bahwa Raja Mataram ingin ke Surabaya dan Madura, dan akan mengerahkan pasukannya kesana.

6.3 Pertempuran Melawan Mataram

Pertempuran besar pertama kali terjadi sekitar 1 Juli 1624 M, seperti tertuang dalam surat Tumenggung Baureksa dari Kendal, diberitakan sebagai berikut, bahwa telah terjadi pertempuran hebat sehingga tentara Madura melarikan diri sampai ke dalam kota. Pertempuran ini memberikan harapan baik akan kemenangan penuh dan segera bagi tentara rakyat Mataram. Dalam peristiwa tersebut diberitakan bahwa salah satu kota terkuat, Chiampangh menyerah begitu saja pada raja Mataram. Pada pertempuran tersebut hampir seluruh kota di Madura ditaklukkan Mataram. Bangkalan, Arosbaja, Baleya (Balega), Samphaa (sampang), dan Pacadianangh (Pacangan) telah ditaklukkanm, hanya dua kota yang Masih Bertahan dalam pertempuran yaitu Pamekasan dan Sumenep. Kota-kota yang ditaklukkan penduduknya sebagian melarikan diri, jumlahnya sekitar 60.000 jiwa.

Namun sekitar 2000 orang pelarian memberanikan diri menyerang tentara Mataram yang mempunyai kekuatan sekitar 50.000 orang. Mereka benar-benar nekad, lalu mengamuk dengan penuh keberanian dan akhirnya menimbulkan kerugian besar bagi tentara Mataram.

Dari serangan tersebut sekitar tujuh belas perwira tinggi Mataram, dan Tumenggung Demak serta para pembesar lainnya, ditambah lagi 6000 prajurit tewas. Hampir semua hasil kemenangan Mataram kembali lenyap. Dari orang Madura tdak hanya laki-laki saja yang ikut berperang tetapi kalangan perempuan ikut bertempur dengan gigih. Mereka menggunakan senjata tak kalah dengan laki-laki. Di samping itu mereka memberi semangat untuk tetap maju melakukan perlawanan.

Namun Raja Mataram tidak berputus asa. Ia memperkuat angkatan perangnya dengan 80.000 prajurit, sehingga ibu kota Mataram hampir semua lelaki dikerahkan untuk berperang. Pada saat itu seluruh pasukan yang dilibatkan dalam perang sekitar 160.000 prajurit. Pada sekitar awal Agustus 1624 seluruh Madura beserta semua kota dan desa ditaklukkan.

Catatan mengenai jumlah tawanan perang bebeda-beda. Menurut berita pertama, jumlah tahanan perang sejumlah 4000 orang, dan sisanya masih dicari. Kemudian jumlah itu naik menjadi 60.000 orang. Sedangkan pada oktober 1624 tercatat sebanyak 100.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak. Untuk menguasai daerah yang ditaklukkan, maka diadakan pertukaran penduduk secara besar-besaran. Dari Madura diangkut 40.000 tawanan perang ke Gresik dan Jorran dan mereka ditukar dengan penduduk lain.

Kebijakan Raja Sultan Agung memiliki sisi yang baik pula, pada tahun 1625 M. Ketika memungut pajak dari kawulanya, kepada penduduk Madura dan Surabaya yang pada waktu iru baru ditaklukkan, hanya dikenakan ¼ ringgit per kepala, sedangkan orang jawa lainnya harus membayar 4 ½ ringgit. Orang Cina bahkan dikenai pajak 18 ringgit bila belum kawin, dan ditarik 22 ½ ringgit bila sudah kawin. Mengenai penaklukan Madura juga Sumenep oleh Mataram, Sejarah Banten memastikan bahwa Adipati Sumenep mencari bantuan ke Banten karena Mataram menduduki wilayahnya. Karena orang Banten mengkhawatirkan kesulitan dengan Mataram apabila melindungi orang Madura, maka, para pelarian Madura itudiusir. Di Mataram mereka kemudian dibakar (De Graaf, 2002:113)

Sementara pemberitaan Belanda menceritakan lain,seorang raja lengkap dengan keluargan dan pasukannya melarikan diri dari Madura sampai Banten. Disana ia diterima ramah oleh Pangeran. Namun kemudian diserahkan kepada Raja Mataram. Tidak lama kemudian Adipati Sumenep, bersama para raja dan pembesar Madura lain yang ditangkap, ditikam dengan keris dan dibunuh diluar kota Raja Mataram.

 

7

PEMERINTAHAN

TUMENGGUNG ANGGADIPA

  • Kedatangan Tumenggung Anggadipa

Dengan membawa Surat Pengankatan sebagai Bupati Sumenep, Raden Mas Anggadipa Mulai memegang tampuk pemrintahan Sumenep. Ia memakai gelar Tumenggung. Adipati dan Pangeran. Di tahun 1639 M ia kemudian mendirikan masjid di desa Kepanjen Sumenep, dan sampai sekarang dikenal dengan nama Masegit Laju (masjid lama).

Kedatnagan Tumenggung Anggadipa membawa perubahan yang sangat berarti bagi perkembangan agama Islam di Sumenep. Perubahan tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari menjadi tahun Jawa berdasarkan kalender Hijriyah yang dipergunakan umat Islam diterapkan di Sumenep dan mendapatkan respon positif dari masyarakat.

 

  • Pembangunan Masjid Laju

Masegit Laju yang didirikan Tumenggung Anggadipa merupakan tanda kepedulian Tumenggung terhadap perkembangan agama Islam. Masjid sebagai pusat kebudayaan memainkan perannya sebagai wahana pendidikan Islamsecara terbuka bagi masyarakatnya, serta sebagai ruang peribadatan kolektif menjadi penyatu antara pemimpin dengan rakyat yang dipimpinnya.

Dari mesjid yang pertamakali dibangung di Sumnep itu dapat ditelusuri mula-mula berkembangnyapendidikan non formal bagi masyarakat umumnya, khususnya mengenai dasar-dasar pengetahuan agama. Pada perkemabganan berikutnya masjid merupakan bagian integral dari pendidikan pesantren.

Keberadaan masjid menandakan kepedulian Tumenggungsekaligus banyaknya penganut agama Islam yang membutuhkan tempat shalat berjemaah, sekaligus sebagai tempat belajar ilmu agama sebagai bekal dalam menjalani kehidupan baik di Dunia maupun untuk kebahagiaan kelak di akhirat.

Menurut Zamakhsyari (1985 : 35-49) masjid merupakan salah atu bagian integral dari pesantren. Sebagai tempat untuk mendidik para santri terutama untuk praktek sembahyang lima waktu, khotbah dan sembahyang jamaah serta pengajian kitab klasik.

 

  • Peranan Ulama Terhadap Pendidikan Masyarakat

Kemajuan sistem pertanian di masa lampau tak dapat dilepaskan dari peran para ulama penyebar agama Silam yang menularkan ilmunya kepada para petani. Berkembangnya sistem irigasi pertanian cara mengolah tanah dan peternakan sapi Madura merupakan jasa Pangeran Katandur (Syd. Ahmad Baidawi) sebagai penyebar agama Islam yang sekaligus sebagai pengembang teknologi pertanian yang di Sumenep.

Dikirimkannya anggota keluarga bangsawan untuk menuntut pendidikan agama di beberapa pesantren yang ada di Jawa merupakan penanda berkembangnya agama Islam dalam lingkungan struktural.

Sementara secara kultural penyebaran agama Islam di Madura berlangsung secara fleksibel – akulturasi- tanpa konflik dengan mengarahkan budaya lama untuk bisa diberi substansi nilai-nilai yang Islami.

Zainal Fatah (1951) menerangkan bahwa gelar Kiai berasal dari keluarga bangsawan yang tidak mau mempergunakan gelar bangsawannya. Mereka lalu menggantikannya dengan gelar Kiai. Namun dalam perkambangan elar Kiai diberikan kepada seseorang yang memiliki cakrawala pengetahuan agama yang luas, serta intelektual yang memebrikan pelayanan dalam membina kehidupan masyarakat.

Edy Setiawan (1993_ menjelaskan bahwa perkambangan islam lewat jalur kultural dan struktural diperankan oleh tokoj sentral yang memiliki pengetahuan agama yang luas oleh tokoh sentral serta sehari-hari bersifat mulia, yaitu pemimpin yang menjadi tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya. Perkawinan antara kerabat keraton dengan tokoh agama Islam semakin menguatkan perkembangan agama Islam di Madura.

  • Akhir Pemerintahan Tumenggung Anggadipa

Tumenggung Anggadipa dikenalsebagai pemimpin yang amat dekat dan cermat membaca hati rakyatnya. Meskipun ia tidak berasal dari turunan bangsawan Sumenep namun kepemimpinannya telah menumbuhkan rasa cinta rakyat yang dipimpinnya. Hal ini dibuktikan ketika ia dipecat dari jabatannya oleh Sultan Agung dan digantikan oleh Raden Tumenggung Jaingpati saudara sepupu Pangeran Cakraningrat I dari Sampang (1644 M), ia tidak mau kembali ke Jepara, tetapi memilih tetap berdomisili di Sumenep sampai akhir hayatnya.

 

8

PEMERINTAHAN

RADEN TUMENGGUNG ARIA JAINGPATI

  • Tumenggung Jaingpati Sebagai Adipati Sumenep

Tumenggung Jaingpati diangkat sebagai Bupati Sumenep tahun 1644 M berada dibawah pengaruh kekuasaan Mataram. Dalam masa pemerintahan Tumenggung Jaingpati tidak ada perubahan berarti bagi kehidupan masyarakat. Keadaan ekonomi masyarakat mulai memburuk karena pada saat itu Bupati Sumenep diberi kewajiban untuk membayar upeti kepada Raja Mataram. Kewajiban untuk membayar upeti dari beberapa produk penting yang dihasilkan Sumenep tentunya sangat membebani rakyat yang kehidupannya semakin sengsara. Beberapa upeti yang dipersembahkan kepada raja Mataram antara lain, kapas, gula jawa, dan ikan kakap merah kering.

Pada saat itu Tumenggung Jaingpati memimpin pemerintahan di Sumenep, Raden Bugan (Putra Pangeran Cakranegara I) tengah diasuh oleh Sultan Cirebon. Ia banyak mendapatkan pelajaran yang mendalam tentang agama Islam. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu, kemudian oleh Sultan Cirebon dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan agama ke pesantren Sunan Prapen di Giri. Pada saat menempuh pendidikan agama ke pesantren Sunan Prapen di Giri, Raden Bugan bertem dan bersahabat dengan Raden Trunajaya, cucu dari Pangeran Cakraningrat I.

  • Radem Bugan Ke Pesantren Giri

Dikirimkannya Raden Bugan untuk menempuh pendidikan di pesantren merupakan salah satu upaya menghasilkan kepemimpinan yang berkualitas di kalangan bangsawan Sumenep. Di Giri Raden Bugan menjadi salah satu santri kesayangan Sunan Prapen. Bahkan kasih sayang yang diberikan seperti kasih sayang kepada anaknya sendiri.

Dikirimkannya Raden Bugan memasuki dunia pesantren di Giri merupakan pilihan bijaksana , karena Sunan Prapen merupakan ulama yang memiliki pengaruh dan peran yang amat besar dalam perkembangan Islam di Nusantara. Beberapa orang santri yang menuntut ilmu di pesantren Giri berasal dari luar Jawa, di antaranya Lombok, Sulawesi, Madura dan Ternate. Giri menjai pusat pengembangan Islam dan banyak memberikan pengaruh kuat kepada daerah Jawa Timur dan Madura.

  • Raden Bugan Kembali ke Cirebon

Setelah beberapa lamanya belajar ilmu agama Islam kepada Sunan Prapen, Raden Bugan dipanggil kembali ke Cirebon. Selanjutnya Raden Bugan oleh Sultan Cirebon diantarkan ke keraton Mataram untuk belajar ilmu ketatanegaraan dan pemerintahan dengan mengabdi di Keraton Mataram. Ia dikenal cerdas dan pintar sehingga kemudian menjadi kepercayaan Raja Mataram

Pada suatu ketika ia diutus Raja Mataram ke Giri untuk mempengaruhi Sunan Prapen supaya takluk dan tunduk kepada Matam. Dalam tugasnya Raden bugan diamanatkan untuk Mempengaruhi Sunan Prapen supaya tunduk kepada Mataram. Apabila tidak mau tunduk, ia berkewajiban untuk menangkap atau membunuh Sunan Prapen, dan menyerahkan Sunan Prapen kepada Raja Mataram.

  • Bugan Menunaikan Tugas dari Raja Mataram

Raden Bugan berangkat menuju Giri menunaikan tugas pemerintahaan yang diberikan Raja Mataram. Sesampainya di Giri, Raden Bugan menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sunan Prapen untuk melaksanakan tugas dari Raja Mataram. Namun Sunan Prapen tidak bersedia untuk takluk kepada Mataram. Maka, ia memerintahakan kepada Raden Bugan untuk membunuhnya dan menyerahkan kepalanya kepada Raja Mataram. Disamping itu ia berpesan kepada kepada Raden Bugan: “Kamu mesti jadi pemimpin besar, seorang Raja. Yang memberi perintah kepadamu seorang Raja. Sebagai seorang raja kau harus hati-hati dalam menjalankan tugas yang diamanatkan. Aku meminta kepadamu supaya membunuhku dan persembahkan kepalaku kepada Raja Mataram. Aku lebih baik mati daripada takluk kepada Mataram, raja yang menjajah kebahagiaanku untuk kebahagiaan peribadinya dan sanak keluarganya,serta para sahabtnya yang tidak jujur. Mereka bekerja hanya mengikuti hawa nafsu setan”.

Raden Bugan mengaturkan sembah kepada gurunya, sunan Prapen. Lalu kembali mengajak Sunan Prapen bersama-sama menghadap Raja Mataram. Namun jawaban Sunan Prapen tetap seperti semula, tidak mau tunduk dan menyerah kepada Raja Mataram.

Menurut cerita Raden Bugan menunggu selama 40 hari lamanya untuk membujuk Sunan Prapen supaya tunduk kepada Raja Mataram dan pada suatu ketika Raden Bugan memenuhi permintaan gurunya, Sunan Prapen. Konon, permintaan Sunan Prapen dipenuhi, ia memotong rambut dan kukunya lalu mandi mensucikan diri dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Usai menjalankan shalat sunnah Sunan Prapen merangkul istrinya seraya berkata kepada Raden Bugan: “Bunuhlah aku dengan tombak pusakamu, tetapi perlu kau ingat ketika kau menikam tubuhku jangan sampai mengenai tubuh istriku yang ada dala rangkulan. Kau hanya diperintah untuk membunuhku”.

Airmata berlinang dari kedua sudut mata Raden Bugan sebenarnya ia tak sampai hati untuk membunuh guru yang sangat dihormati dan dicintainya. Tetapi disisi lain ia harus menjalankan perintah Raja yang dipatuhinya. Lalu, untuk terakhir kalinya ia menghaturkan sembah kepada Sunan Prapen dan menikamkan tumbak pusaka ke tubuh Sunan. Malang bagi Raden Bugan, tombak yang ditikamkan tidak hanya mengenai tubuh Sunan Prapen, namun juga turut melukai istri Sunan kemudian mengakibatkan keduanya menghembuskan nafas yang terakhir. Sebelum wafat dalam keadaan merangkul istrinya yang terluka parah, Sunan Prapen sempat berpesan, ” Bugan, kau tidak benar menjalankan tugas, karenanya kau kukutuk: dalam tujuh turunan, kau tidak akan mempunyai keturunan laki-laki yang mejadi pemimpin negara (Raja)”.

Usai mengucapkan kutukan Sunan Prapen menghembuskan nafas terakhir. Jasad Sunan Prapen dikebumikan di pekuburan Giri, sedangkan potongan kepalanya diserahkan kepada Raja Mataram.

  • Bugan Mengabdi kepada Jaingpati

Usai menjalankan tugas dari raja Mataram, Raden Bugan kembali ke Cirebon diperintahkan Sultan Cirebon untuk kembali ke Sumenep. Ia diperintahkan untuk mengabdi kepada Tumenggung Jaingpati, Bupati Sumenep.

Raden Bugan bertolak dari Cirebon dengan mengendarai perahu dengan membawa serta Kyai Cirebon. Perahu berlayar mengarungi Laut Jawa dan selat Madura, sampai di perairan selat madura ia menepi di Pulau Mandangin atau Pulau Gili di sebelah selatan Kota Sampang. Disana ia menyepi di pekuburan Bangsacara. Di tempat menyepi inilah ia kembali bertemu dengan Raden Trunajaya, lalu mengikat janji untuk bersahabat selamanya. Raden trunajaya berjanji bahwa pada suatu ketika akan bertamu ke kadipaten Sumenep.

Raden Bugan melanjutkan perjalanannya kembali untuk menuju keraton Sumenep, namun perjalanan dari pulau mandangin laju perahu terasa lamban karena angin berlawanan dengan tujuan perahunya. Maka, (konon) Raden Bugan menghunus tombak yang dihunus dijadikan dayung, laju perahu mulai berjalan ke arah timur. Tombak tersebut kemudian diberi nama “Si Srangdayung”.

Sesampainya di Sumenep, Raden Bugan banyak mempraktekkan ilmu pemerintahan dan ketatanegaraan yang didapatnya di keraton Mataram. Karena budi pekerti dan kepintaran melaksanakan tugas pemerintahan ia begitu cepat dinaikkan pangkat dan kemudian diberi pangkat setingkat Menteri Kadipaten.

  • Tumenggung Jaingpati Menerima Surat Raden Trunajaya

Pada paruh kedua abad XVII Raden Trunajaya dari Sampang berontak kepada Mataram sekaligus kepada Kompeni Belanda, karena Amangkutrat II sebagai Raja Mataram saat itu tunduk kepada Kompeni. Trunajaya lalu menghimpun kekuatan. Ia juga dibantu oleh bangsawan Makassar, Karaeng Galesong. Pemberontakan Trunajaya membuat Mataram dan Kompeni kewalahan menghadapinya. Trunajaya mendapat dukungan rakyat dimana-mana karena tujuan perjuangannya mengusir paejajah dari dari tanah Jawa.

Pada suatu hari tumenggung Jaingpati menerima surat dari Raden Trunajaya yang bermaksud untuk bertamu ke Keraton sumenep. Ia ingin memenuhi janjinya yang pernha diutarakan kepada, temannya Raden Bugan ketika sama-saa belajar di Gresik dan ketika bertemu di Gili mananggal. Namun tumenggung Jaingpati Justru menanggapi lain. Menyangka Raden Trunajaya melakukan invasi ke daerah Sumenep. Tumenggung merasa khawatir, jangan-jangan Trunajaya akan melakukan penyerbuan dan menaklukkannya.

Tumenggung Jaingpati Mengumpulkan pemimpin-pemimpin di Sumenep juga memanggil Raden Bugan. Mereka kemudian bermusyawarah untuk menyambut kedatangan Raden Trunajaya yang kemungkinan akan melakukan serangan terhadap Sumenep. Dari hasil persidangan semua sepakat untuk menunjuk Tumenggung Jaingpati sendiri yang pantas untuk menyambut kedatangan Raden Trunajaya, baik sebagi tamu maupun sebagai musuh.

Perasaan was-wa Tumenggung Jaingpati bukan tanpa alasan, karena Raden Trunajaya dengan pasukannya dikenal gagah beranai dan merupakan salah seorang bangsawan yang berani berontak terhadap kekuasaan Mataram. Sementara Tumenggung Jaingpatu diangkat sebagi adipati di Sumenep atas perintah Mataram.

Tumenggung Jaingpati kurang berani untuk menyambut kedatangan Raden Trunajaya, kemudian menunjuk Raden Wangsajaya (Raden Bugan) untuk menyambut kedatangan Raden Trunajaya.

 

  • Wangsajaya Menyambut Kedatangan R. Trunajaya

Raden Wangsajaya bersedia menerima tugas dari Tumenggung yang dibebankan kepadanya dengan syarat ia harus memakai pakaian kebesaran (Raja) dan diijinkan membawa pasukan perang serta dilepas dengan upacara kerajaan. Syarat yang diajukan Raden Wangsajaya dapat diterima olrh Tumenggung Jaingpati.

Hari itu, di alun-alun kota Sumenep berkumpul sekitar 700 orang pasukan perang, Raden Wangsajaya memakai pakaian kebesarab kerajaan sebagai wakil Adipati Sumenep yang akan menyambut kedatangan tamunya, Raden Trunajaya. Dari alun-alun kota Sumenep pasukan perang yang dipimpin Raden Wangsajaya dilepas dengan upacara kerajaan untuk bertolak menuju daerah perbatasan antara Sumenep dengan Pameksaan.

Iringan pasukan berkuda dan sebagian dengan berjalan kaki menuju kearah selatan kota. Tampaknya mereka bukan bersiap untuk menyambut tamu, tetapi laksana akan berlaga di medan peperangan.

Pada saat itu matahari akan tenggelam di ufujk barat, dan keadaan sekitar mulai gelap, rombongan pasukan yang dipimpin Raden Wangsajaya baru sampai di bagian barat wilayah Prenduan. Saat itu diputuskan bermalam di situ sambil menunggu matahari terbit untuk melanjutkan perjalanan..

Saat tengah malam tiba, semua pasukan beristirahat. Tanpa diketahui anggota pasukan. Raden Wangsajaya lalu keluar sendirian ke arah barat. Sampai di desa Kaduwara Timur ia berjumpa dengan Raden Trunajaya yang juga sendirian menaiki kuda. Dua orang pemimpin yang pernah bersahabat di Pesantren Giri tersebut lalu bercakap-cakap sampai pagi hari tiba.

Sementara anggota pasukan perang dari Sumenep merasa cemas ketika mengetahui Raden Wangsajaya tidak ada di tempat. Mereka menyangka Raden Wangsajaya diculik pasukan Trunajaya.

Beberapa pasukan itu kembali ke keraton Sumenep untuk melaporkan kepada Tumenggung Jaingpati mengenai hilangnya Raden Wangsajaya, yang diduga keras telah diculik oleh pasukan Raden Trunajaya. Menerima laporan dari pasukan yang dipimpin Raden Wangsajaya, tumenggung Jaingpati menjadi ketakutan. Ia lalu melarikan diri ke Sampang lewat jalur tengah: Batuampar – Pakong, dan tidak kebali lagi ke Sumenep karena menduga Sumenep telah ditaklukkan Raden Trunajaya.

 

9

PEMERINTAHAN

  1. YUDANEGARA (1648-1672M.)

 

  • Penobatan P. Yudanegara Sebagai Adipati Sumenep

Setelah Tumenggung Jaingpati meninggalkan Sumenep, Raden Wangsajaya (Raden Bugan) ditunjuk untuk memimpin pemerintahan di Sumenep, sekitar tahun 1672. ia diminta sebagai Bupati oleh rakyat Sumenep dengan disaksikan Raden Trunajaya karena Tumenggung Jaingpati yang melarikan diri ke kota Sampang belum kembali. Bersamaan dengan peristiwa tersebut diadakan pesta meriah untuk menyambut kedatangan tamu Raden Trunajaya.

Saat menjadi Bupati Sumenep Pangeran Yudanegara memperistri anak keponakan dari Raden Trunajaya yang bernama Nyai Kani anak dari Kyai Jumantara di Sampang. Dari perkawinan tersebut Pangeran Yudanegara dikaruniai empat orang anak, yaitu : Raden Ayu Batur, Raden Ayu Artak, Raden Ayu Otok, Raden Ayu Kacang.

Raden Ayu Batur kemudian menjadi istri Raden Tumenggung Baskarang atau Raden Sjuana alias Adikara III (Siding Sendang), Bupati Pamekasan. Sedangkan Raden Ayu Artak kemudian diperistri Raden Tumenggung Pulangjiwa (R. Kaskiyan), Bupati Sumenep. Keturunan dari Tumenggung Pulangjiwa Karangantang-Sampang.

Raden Ayu Otok menjadi Istri Raden Daksena alias Raden gunungsari yang bergelar Pengeran Gatutkaca, Bupati Pamekasan. Raden Ayu Kacang menjadi istri Raden Kanoman yang semula Bupati Pamekasan.

 

  • Perkembangan Seni Budaya

Semenjak Pangeran Yudanegara memimpin Sumenep keadaan kehidupan masyarakat mulai agak aman. Rakyat tak begitu ketakutan baik malam apalagi siang. Mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya lagi dengan tekun. Sehingga beberapa saat kemudian kemakmuran mulai telihat. Meskipun pada awalnya ia sempat diragukan kemampuannya untuk bisa memimpin Sumenep. Tetapi setelah ia diketahui sebagai keturunan Raja Sumenep, antipati masyarkat berubah menjadi dukungan yang tulus terhadap pemerintahan Yudanegara.

Sebagai Bupati, Pangeran Yudanegara berhasil memajukan seni dan budaya yang tumbuh di Sumenep, sehingga semakin mendapat simpati dari rakyat yang dipimpinnya.

Untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam pemerintahan yang dipimpinnya, ia tidak segan untuk memanggil para ahli dalam bidangnya masing-masing untuk memajukan wilayah sumenep dalam berbagai hal. Ia dikenal amat bijak dan arif sehingga tidak mau menerima laporan dari bawahannya yang hanya bersifat isu dan mengarah kepada fitnah. Berkat kearifan dan kebijaksanaanya ia kemudian dikenang masyarakt Sumenep bahkan Madura. Apalagi laporan yang hanya berdasarkan “asalkan raja senagn”, pasti tidak akan didengarkannya. Pengetahuan agama yang didapatkannya di pesantren benar-benar dijadikan landasan utama dalam mengelola negara. Sifat-sifat tidak terpuji, seperti buruk sangka, tergesa-gesa dan marah benar-benar dihindarkannya, karena bisa mengurangi wibawa kemimpinannya.

  • Yudanegara dan Pemberontakan Blambangan

Pada suatu ketika Yudanegara diminta bantuannya oleh Raja Mataram untuk memadamkan pemberontakan yang terjadi di daerah Blambangan. Ia berangkat dari Madura berdama orang kepercayaanya bernama Kyai Cendana, dengan membawa keris pusaka bernama Si Tirotoro’ milik Adipati Mlaja ayah dari Raden Trunajaya.

Dalam melakukan tugas ke Blambangan yang diperintahkan Mataram, ia berhasil

  • Pemerintah Setelah P. Yudanegara
  1. Tumenggung Pulang Jiwa

Pada sekitar tahun 1700 M Sumenep dipimpin oleh dua orang Bupati yaitu, Tumenggung Pulangjiwa dan Pangeran Seppo. Pada tahun 1702 M pemerintahan dipersatukan kembali oleh Pangeran Rama atau P. Cakranegara II.

Pada Tahun 1705 M. Pemerintahan dipimpin Tumenggung Wiramenggala atau Pangeran Purwanegara, putera dari Pangeran Seppo.

  1. Pangeran Jimat

Pada Tahun 1707 M, Sumenep dan Pamekasan dipersatukan di bawah oleh kpemimpinan Pangeran Jimat atau Cakranegara III. Nama kecil Pangeran Jimat ialah Raden Achmad. Ia putera dari Pangeran Rama. Semula Pangeran Jimat menjadi Bupati Pamekasan. Kemudian setelah ayahnya wafat ia ditunjuk oleh VOC untuk memimpin pemerintahan di Sumenep. Ia punya hasrat yang besar untuk memeprluas wilayah pemerintahannya. Pada masa kekuasannya ia membabat alas Besuki dan Blambangan lalu melakukan migrasi penduduk Pamekasan ke wilayah yang baru dibukanya.

 

 

10

PENGARUH KESULTANAN MATARAM TERHADAP

PEMERINTAHAN DI DAERAH SUMENEP

 

  • Kesetiaan Kepala Daerah Terhadap Sultan Mataram

Hubungan natara pemerintahan pusat di ibukota Mataram dengan pemerintahan-pemerintahan daerah yang menjadi kekuasaannya tidak di dasarkan dalam bentuk undang-undang, tetapi lebih dengan berdasarkan perjanjian pribadi antara Raja Mataram dengan Bupati. Aturan yang berdasarkan kesepakatan antar pribadi tersebut mutlak diperlukan untuk menjamin kewibawaan dan kesetiaan yang bulat para Sultan Mataram.

Untuk dapat mempertahankan kewibawaan dan loyalitas Kepala Daerah terhadap Raja Mataram, maka dilakukan berbagai usaha, di antarnya :

  1. Sistem penunjukan kepala daerah (bupati)

Sistem penunjukan kepala daerah di daerah bawahan didasarkan atas loyalitas dan kesetiaannya kepada Raja Mataram. Terutama ini dilakukan untuk Kepala Pemerintahan daerah manca negara dan wilayah-wilayah pesisiran.

  1. Sistem pengawasan yang teliti terhadap kepala daerah

Usaha pengawasan terhadap kepala daerah di antaranya dilakukan misalnya : dengan keharusan kepala daerah untu berdiam di kota negara; penyetoran upeti ke Mataram. Sebab pada saat-saat yang ditentukan, mataram mengutus gandek (pesuruh) untuk menanyakan ketidak hadiran kepala daerah ke Paseban. Mengirim mata-mata (telik sandi) untuk mengamati kepala yang dicurigai.

  1. Sistem Perkawinan Politis

Perkawinan politis dilakukan terhadap kepala daerah (bupati) yang dinilai kuat kekuasaannya tetapi kurang setia kepada Raja Mataram. Dengan menjadi menantu Raja Mataram, seorang bupati akan naik gengsinya. Dengan perkawinan itu, ia tentu akan menunjukkan loyalitas yang tinggi.

  1. Sistem pemindahan tugas

Tindakan pemindahan tugas kepala daerah ke daerah lain untuk mencegah timbulnya pengaruh yang kuat dari kepala daerah terhadap rakyatnya.

  • Sistem Penggajian

Penggajian para pejabat pemerintah berupa penggunaan tanah secara bebas tanpa pajak berdasarkan asas hukum bahwa semua tanah adalah milik Raja Mataram.

Para pejabat birokrasi dalam kerajaan Mataram tersebut memperoleh imbalan atas jerih payah mereka berupa gaduhan yaitu pinjaman tanah sebagai tanah lungguh (appanage). Hasil bumi tanah lungguh, setelah dikurangi bagian yang akan diserahkan ke kas kerajaan (Gedong), menjadi hak para pejabat.

Selain para pejabat, kerabat Raja Mataram juga mendapatkan tanah lungguh, misalnya: Nenek Raja (Ratu Eyang), ibu Sultan (Ratu Ibu) dan permaisuri Sultan (Ratu Kencana) masing-masing memperoleh 1.000 bau, serta putera mahkota mendapatkan 8.000 bau.

  • Struktur Pemerintahan di Kepanembahan

Struktur pemerintahan di kepanembahan Madura juga memakai pola pengorganisasian pemerintahan pusat sesuai dengan tradisi di Ibukota Konsultanan Mataram.

  1. Pemerintahan Lebet

Pemerintahan Lebet di kapanembahan Madura-hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Kraton, Paseban dan rumah tangga Kraton.

  1. Gedong Negeri

Gedong Negeri berfungsi sebagai bagian perbekalan dan perbendaharaan Keraton, dikelola oleh seorang Wedana Gedong. Ia bertugas mengurusi pemasukan kapanembahan, penetapan percaton (appanage), pajak dan beberapa kewajiban lain yang berkaitan dengan kebutuhan maupun keuangan keraton.

  1. Pengadilan Keraton

Pelaksanaan pengadilan diketahui Panembahan sendiri, diwakili Patih jika ia berhalangan, dengan beberapa anggota termasuk Penghulu Keraton yang bertindak selaku hakim agama dan orang lain yang ditunjuk oleh Panembahan. Panembahan juga mengepalai Pengadilan Agama yang dilaksanakan oleh Pengulu Keraton di bawah pengawasan Panembahan.

  1. Bidang Keagamaan

Bidang keagamaan dilaksanakan oleh kapengulon serta menangani urusan-urusan keagamaan dan hukum keluarga (family law). Penghulu Keraton juga bertindak sebagai imam masjid Keraton. Hirarki jabatan dibawah penghulu keraton antara lain; hatib (ketib), muadzin (modin), qamat (adan) dan marbot.

  1. Paseban

Paseban merupakan Sidang Kepanembahan yang dikepalai Panembahan sendiri. Sidang diselengarakan di keraton dan dihadiri para pejabat tinggi, orang terkemuka serta diadakan para hari-hari yang telah ditentukan, Sultan Agung mengadakan paseban setiap hari senin dan kamis.

  1. Rumah Tangga keraton

Rumah tangga Keraton bertugas untuk melayani kepentingan Panembahan serta keluarganya. Penyelenggaraannya diketuai Mentri Keraton atau Lurah keraton. Ia bertindak sebagai kepala semua mantri diantaranya: Mantri Opas (Kepala Pengawal Panembahan), Mantri Kusir (Kepala Kusir kereta-kereta kraton), Mantri Gamelang dan Mantri wayang.

  1. Pemerintahan Jawi

Pemerintahan Jawa dipersatukan dengan pemerintahan Lebet yang secara langsung di bawah wewenang Panembahan sendiri. Namun demikian pemerintahan jawa dipercayakan kepada seorang Patih.

  1. Pengaruh Pemerintahan Kapanembahan Terhadap Pemerintahan Desa

Panembahan memiliki kedudukan sentral baik secara sosial maupun kultural, sebagai pemilik segala sesuatu yang ada dalam kapanembahannya. Adanya anggapan tersebut, maka tanah-tanah yang subur milik desa-desa dikuasai Panembahan sebagai miliknya Pribadi dan dinamakan tanah daleman

Keluarga Panembahan (kereabat sentana) mendapatkan tanah-tanah peretanian yang kurang subur baik berupa sawah (tanah basah) dan tanah kering (tegalan). Untuk para pejabat lainnya, sebagai imbalan atas jerih payahnya turut membantu jalannya pemerintahan, mereka mendapatkan tanah sebagai percaton (appanage = tanah lungguh).

Ada pula tanah-tanah yang diberikan kapada orang tertentu yang dibebani tugas tertentu, dinamakan dengan tanah perdikan, dapat berupa:

  • Tanah perdikan putihan yang dikelola langsung oleh seorang kyai;
  • Tanah perdikan pekuncen yang diurus sendiri oleh juru kunci dari makam keluarga Panembahan.

Para pemegang tanah daleman dan tanah percaton mempercayakan kepada wakil dari desa-desa yang disebut Klebun untuk mengelola tanah-tanah mereka. Mereka dimasukkan sebagai pejabat-pejabat bawahan di dalam struktur birokrasi Panembahan. Di samping itu desa-desa pun ada peringkat-peringkatnya sendiri.

Ada beberapa macam desa, misalnya:

  1. Desa Daleman

Desa-desa daleman merupakan domein Panembahan dan menjadi sumber penghasilannya. Panembahan menuntut hak pemilikan secara efektif sepertiga dari hasil seluruh tanah pertanian dalam desa-desa daleman. Dua pertiga sisanya diberikan kepada petani yang mengerjakan dengan dikenakan pajak (disebut piakan = pembagian). Sepertiga dari dua pertiga hasil panen yang diterima dikumpulkan oleh lurah dan kemudian disetorkan kepada pejabat Gedong Negeri. Petani di desa daleman berkewajiban untuk mengerjakan sepertiga sawah milik Panembahan dan hasil panennya mereka hanya menerima upah 1/6-1/5 nya.

  1. Desa Percaton

Desa-desa Parcaton (appanage = lungguh) merupakan tulang punggung dari kapanembahan, karena menjadi sumber pendapatan Panembahan, para kerabat sentana dan pejabat-pejabat kapanembahan. Para pemegang tanah lungguh dikenakan kewajiban membayar upeti.

  1. Desa Perdikan

Salah satu keistimewaan desa perdikan ialah memiliki hak otonomi dan sistem penyerahan upetinya yang diatur tersendiri, sehingga desa perdikan menyerupai negeri kecil.

Pemegang desa perdikan bertindak sebagai penguasa dan langsung berhubungan dengan Panembahan. Status perdikan berkaitan dengan pengaturan pajak diatur dalam piagam yang diberikan panembahan kepada pemegang perdikan. Pemegang perdikan yang ditempatkan di desa-desa perdikan diijinkan menarik pajak terhadap penduduk yang berdiam di dalamnya. Pemegang perdikan mempunyai hak pajak persis sama seperti yang dimiliki para pemegang percaton.

 

 

11

PENGARUH VOC DI SUMENEP

  • O.C. Sebagai Perusahan Dagang

Sejak awal didirikannya VOC sebagai prusahaan dagang di Indonesia merasa terpaksa untuk turut campur dalam urusan pemerintahan di berbagai kerajan setempat. Hal ini dilakukan mengingat tujuan yang diinginkan VOC, yaitu diperbolehkannya produk-produk dengan harga yang tidak terlalu mahal dan perlindungan terhadap rute-rute pelayaran dan perdagangan yang dilalui kapal VOC.

Pada awalnya campur tangan VOC amat terbatas, berupa pemaksaan monopoli jual beli dan permintaan upeti, yang disebut kontingen, dan pengirim paksa tertentu. Baginya mengarahkan lawan yang lebih besar untuk mengikuti kehendaknya merupakan hal mudah, karena VOC memiliki persenjataan-persenjataan laut yang sangat modern dengan strategi militer yang dapat diandalkan.

Setelah beberapa waktu peningkatan suhu politik yang mengarah kepada perpecahan-perpecahan kerajaan setempat dan usaha terus-menerus dari kekuatan-kekuatan saingannya sesama negara Eropa. Untuk itu VOC perlu menetap di daerah ini dan melakukan campur tangan langsung semakin lama menjadi mendalam. Pada mulanya VOC bergantung kepada pos perdagangan, atau loji-loji pada tempat penting di berbagai pulau, pada abad XVIII VOC mulai mengambil wilayah-wilayah di Indonesia menjadi miliknya (jajahannya). Dengan cara ini kekuatan maritim dan perdagangan ditunjang oleh kekuasaan mutlak atas wilayah yang dikuasainya. Meskipun VOC asalnya hanya jenis maskapai perdagangan tapi kemudian menjadi penguasa karena punya kekuatan militer yang bisa menghancurkan satu kerajaan pribumi yang tidak mau takluk dan di bawah kekuasaannya.

 

  • Sumenep dibawah Kekuasaan V.O.C.

Percengkraman Sumenep oleh VOC didorong oleh adanya kesulitan-kesulitan serius di dalam kerajaan Jawa Tengah Mataram yang setelah suatu pertempuran sengit, menaklukkan Madura pada tahun 1624 M. Sekitar tahun 1670 M. rakyat Madura , dipimpin oleh Trunajaya berontak melawan dominasi Mataram dan untuk sementara berhasil keluar dari penindasan kerajaan Jawa.

Penduduk daerah Sumenep khususnya telah berbuat banyak untuk mengusir sekutu dinasti Mataram. Diperkuat oleh keberhasilan mereka yang cepat dan tidak puas dengan hanya membebaskan pulau ini, para pemberontak yang dipimpin Trunajaya terus pergi ke Jawa, mereka mengaduk-aduk sebagian besar kerajaan. Pemberontakan itu dengan segera menjadi goncang. Karena itu Raja Mataram semakin mengukuhkan persekongkolan denga Kompeni Belanda, bahkan rela beberapa wilayahnya dikuasai VOC.

VOC mengambil menfaat dari situasi genting itu dengan memberikan bantuan dengan beberapa syarat yang sudah pasti menguntungkan Kompeni sendiri. Mengingat situasi demikian rentan sehingga raja mataram raja tidak biasa berbuat banyak kecuali menerima persyaratan dengan beberapa kontrak yang diajukan VOC memperoleh demikian banyak hak istimewa sehingga tidak memungkinkan lagi bagi Mataram untuk memainkan peranan yang penting di sepanjang pantai utara dan dalam perdagangan luar negeri. Mengenai Madura, tidak ada persetujuan yang menguntungkan VOC . Pulau ini dimaksudkan untuk tetap berada di bawah supremi Mataram. Tetapi setelah suatu pergolakan pada tahun 1680 M, Pamekasan dan Sumenep berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kekuasaan raja Mataram. Mereka dengan bersungguh-sungguh berusaha supaya VOC menguasai daerah Madura. VOC tampaknya mau menerima permintaan ini karena beberapa daerah di Jawa masih bergolak dan kekuasaan pusat tidak mampu memulihkan kekuasaannya atas daerah bawahannya. Hanya Madura Barat yang telah kembali bersedia berada di bawah kekuasaan Mataram seperti sediakala. Belanda menyadari bahwa mengabaikan ajakan Sumenep mungkin sekali akan semakin meningkatkan kegiatan-kegiatan subversif. Sangat memungkinkan dalam kasus semacam ini apabila diabaikan permintaannya, Sumenep akan berkoalisi dengan kaum pemberontak di daerah lain di Madura. Selanjutnya Belanda memutuskan untuk membicarakan masalah tersebut dengan Raja Mataram. Namun karena adanya peristiwa terbunuhnya utusan Kompeni Belanda di istana, masalah tersebut tidak sampai terlaksana.

Kondisi ini menguntungkan bagi Sumenep, karena secara tersembunyi berhasil menciptakan hubungan bawahabn dengan VOC secara de facto dengan cara mengirimkan upeti dan terus-menerus meminta saran mengenai persoalan-persoalan internal kerajaan. Desakan-desakan yang terus-menerus berlangsung kemudian meluluhkan VOC untuk memenuhi keinginan-keinginan pemimpin-pemimpin di daerah Sumenep. Disamping VOC sangat menyukai produk-produk yang sukar diperoleh dari daerah lain yang disediakan secara “sukarela” oleh petinggi Sumenep.

 

  • Hubungan Sumenep dengan V.O.C.

Pada tahun 1705 M, ketika Jawa Tengah terpecah belah oleh suatu perang perebutan kekuasaan dan permintaan tolong kepada VOC tidak dapat dihindarkan, VOC berhasil memaksakan suatu keputusan mengenai Madura Timur. Anggota Dewan Hindia Belanda, Herman de Wilde, dan pasukannya berhasil mendudukkan seorang susuhunan baru di atas tahta Kartasura. Sebagai utusan khusus pemerintah Batavia, de Wilde diberi hak untuk memperbaharui kontrak yang ada, disamping pengesahan perjanjian-perjanjian terdahulu dengan konsesi baru. Diantaranya Pamekasan dan Sumenep yang terletak di bagian timur Madura langsung di bawah perlindungan VOC.

Struktur pemerintahan baru yang dibangung VOC tidak berbeda dengan struktur pemerintahan di Jawa. Raja atau Pangeran merupakan kepala negara. Di dalam pelaksanaan pemerintaan sehari-hari dibantu oleh beberapa orang mantri (pejabat istana), diantara mereka terdapat seorang patih atau wakil bupati merupakan primus inter pares-nya.

Di antara tugas-tugas pemrintahan yang lain, petugas-petugas kerajaan mengumpulkan pajak kepala dan menuntut jasa pelayanan yang memungkinkan raja, sanak keluarga dan relasinya untuk mencurahkan perhatiannya kepada kehidupan istana lebih dari orang biasa. Penjabat-penjabat rendah dibayar dengan tanah bengkok kecil. Pejabat-pejabat tinggi dan juga sanak keluarga raja diberi bagian daerah yang luas dalam apanage, yang memberi mereka hak untuk mengenakan pajak-pajak tertentu yang dilepaskan oleh sang raja. Hak-hak yang diberikan kepada penjabat-penjabat dan sanak keluarga tidak ada yang bersifat turun-temurun.

Tanah bengkok biasanya berupa sawah, sedangkan hak-hak apanage meliputi tegal-tegal di pedalaman berbukit-bukit yang hampir tidak bisa dicapai, seperti di pulau-pulau kecil di dekat Madura. Dalam kenyataannya raja memerintah daerah sekitar istana lewat penjabat-penjabat yang dibayarnya dengan hak-hak pajak di daerah-daerah yang lebih sulit pengawasannya. Para pemegang apanage tinggal di istana, sedangkan kepentingan mereka diurus oleh wakil-wakil setempat. Selama masa panen mereka akan berkeliling ke seluruh wilayah mereka untuk mengumpulkan upeti.

Petani dan nelayan Madura tinggal terpencar-pencar dalam komunitas tanean lanjang, rumah tinggal dan pekarangan keluarga berbentuk persegi panjang yang diatur menurut garis istri (uxorilocal). Di daerah-daerah sawah Sumenep yang sempit mereka membentuk masyarakat territorial, tetapi di tempat lain organisasi masyarakat setempat masih belum berkembang. Masyarakat desa yang dikepalai oleh kepala desa, seperti yang dijumpai di beberapa daerah di Jawa.

Kekuasaan penguasa Sumenep sejak lama telah dirongrong dari beberapa pihak. Di masa lalu kerajaan-kerajaan Jawa dan juga kerajaan di Madura tetangga telah menduduki wilayah Sumenep atau bagian-bagian dari padanya. Para pemegang apanage, bergerombol di sekitar tahta, juga merupakan suatu ancaman yang serius bagi sang raja. Seringkali terjadi para penasehat dan sanak keluarga bersekongkol untuk menggeser perimbangan kekuasaan. Di dalam kurun waktu antara tahun 1680 M. Sampai tahun 1705 M. VOC harus campur tangan dalam intrik-intrik yang merebak di istana. Lagi pula organisasi daerah pedalaman yang tidak terpusat sama sekali, tidak berarti bahwa orang-orang yang tinggal di sana menyerah begitu saja pada penggeropyokan periodik yang dilakukan oleh raja dan para pemegang hak apanage.

Kadang-kadang para petani bersatu untuk memberontak melawan pemerintahan setempat. Orang-orang Makasar, Bugis dan Madura yang tinggal di pulau-pulau Kangean dan Sapudi merupakan ancaman lain bagi penguasa setempat. Dari pulau-pulau ini kapal-kapal Kompeni yang berlayar ke Maluku sering dirampas dan tempat-tempat lain di pantai Sumenep diserang.

Kedekatan pemerintahan Sumenep dengan VOC bukan tanpa alasan. Selama menjadi Negara bawahan Mataram, Sumenep tidak diberi hak untuk menentukan otonomi pemerintahannya. Upeti yang harus diberikan kepada Raja Mataram merupakan sesuatu kewajiban yang memberatkan, juga dikenakannya pajak kepala bagian setiap kepala keluarga. Kondisi tertekan dan memberatkan hasrat penguasa Sumenep untuk lepas dari kekuasaan Raja Mataram dan meminta untuk menjadi bawahan VOC.

Salah satu keuntungan Sumenep bekerja sama dengan VOC yang mulai mencengkeramkan kekuasaannya di Sumenep, yaitu diberikannya kepada bupati Sumenep otonomi pemerintahan. Raja diberi kekuasaan penuh untuk menata pemerintahannya, hanya apabila berhubungan dengan negara tetangga harus sepengetahuan VOC. Otonomi merupakan faktor pendukung hubungan dengan VOC sehingga pemimpin Sumenep berupaya untuk mempertahankan hubungan tersebut.

Keinginan Negara Sumenep tidak langsung dipenuhi, karena VOC melihat Sumenep (Madura umumnya) bukan sesuatu yang istimewa. Secara agraris tidak ada hasil bumi yang dapat dikeruk dari bumi Sumenep. Tetapi karena jalur pergadangan rempah-rempah ke Maluku melintasi perairan di sekitar Madura, maka posisi Sumenep dianggap strategis untuk mengamankan dari gangguan pengacau jalur perdagangan rempah-rempah dari Maluku yang dimonopoli VOC.

Upaya pmerintahan Sumenep untuk tetap lepas dari kekuasaan Mataram mengakibatkan pemberian upeti kepada VOC dilakukan secara sukarela. Hai ini amat memikat VOC karena beberapa upeti yang dikirimkan dari Sumenep tidak didapatkan dari daerah lain. Pada perkembangan selanjutnya pemberian upeti yang disebut kontingenten (koningen) tidak hanya berupa hasil bumi, melainkan berupa kontingen hidup yang kemudian dinamakan “Barisan” semacam wajib militer yang harus dikenakan kepada petani jika VOC membutuhkan bantuan tentara (pasukan perang).

Dari pengiriman Barisan dan kesewenangan yang dirasakan rakyat, juga kewajiban menyerahkan hasil bumi (panen) sebagai upeti, diberlakukannya pajak kepala, serta pembagian hak tanah percaton dan apanage di beberapa desa sempat terjadi pergolakan. Sementara di lingkungan istana terjadi intrik politik dan kekuasaan yang semakin meruncing, akibat dari campur tangan VOC dalam menentukan pemimpin pemerintahan. Terjadinya fitnah, perebutan singgasana kekuasaan sengaja diciptakan VOC untuk memudahkan mengendalikan pemerintahan.

Tujuan VOC dalam kerjasama dengan berbagai kontrak yang disepakati ternyata lebih banyak menguntungkan pihak Kompeni. Antara lain :

  1. Menjamin bahwa tidak ada sesuatu peristiwa di Sumenep yang mengganggu kegiatan pergerakan di kepulauan Indonesia.
  2. Rute perdagangan ke Maluku melalui sepanjang pantai utara dan selatan pulau ini, harus dilindungi.
  3. Mengumpulkan barang-barang yang secara ekonomi penting dari daerah itu dalam bentuk upeti.

Kontrak yang dilakukan VOC lebih bersifat sebagai pembatasan terhadap kekuasaan para regen (raja) yang tidak dapat ditentang dan tidak boleh tidak harus dipatuhi.

VOC berusaha untuk mengawasi Sumenep dengan senjata dan sarana, sejauh mungkin mematuhi kontrak-kontrak yang telah disepakati VOC. Dalam perlakuan terhadap Sumenep, VOC memberikan perlakuan yang berbeda dengan daerah lain. Memberikan otonomi dalam penentuan pejabat pemerintahan yang harus diganti. Tetapi menjelang kebangkrutan VOC, terjadi peningkatan permintaan tenaga manusia (kontingen hidup) untuk tentara VOC. Keadaan ini memberikan implikasi yang serius terhadap daerah Sumenep sendiri, juga dalam hubungannya antara pemerintah daerah dengan VOC.

  • Pelaksanaan Kekuasaan VOC
  1. Regen (raja) harus pergi ke Batavia / Semarang setahun sekali untuk menghadap Gubernur Jenderal / Penguasa
  2. Pajak ekspor-impor diambil alih Belanda.
  3. Beacukai di beberapa bandar pabean dikenakan atas nama Gubernur Jenderal atau diborongkan kepada orang lain dengan sejumlah uang tertentu.
  4. Para regen berjanji untuk melakukan apa aja, memelihara dan memperbaiki pajak-pajak tertentu, selama memungkinkan untuk dilaksanakan.
  5. Adanya pajak kontingen, yaitu pengadaan hasil panen setiap tahun untuk diantarkan oleh regen merupakan beban yang akhirnya dirasakan sangat berat oleh penduduk setempat.

Kontingen yang harus diserahkan regen dengan biaya dan alat transportasi menjadi tanggungan regen. Menurut kontrak tanggal 30 April 1751 kontingen yang harus diserahkan berupa :

  • 80 Kayon (80 x 30 pikul) kacang hijau
  • 700 takar (700 x 25 liter) minyak kelapa
  • 30 pikul dendeng sapi
  • 1000 ekor ikan bangbangan (kakap merah/kering)
  • 20 pikul benang kapas halus.

Maka pada tahun 1781 M penguasa Sumenep mendirikan masjid jamik (sekarang-Masjid Agung) Sumenep dengan arsitektur bangunan yang amat megah, perpaduan antara arsitektur Eropa, Cina dan Jawa. Namun pada saat yang sama VOC juga mendirikan kantor bertingkat di depan rumah kadipaten sebagai kantor perwakilan. Pada tahun 1785 M. VOC mendirikan benteng pertahanan di daerah sekitar Marengan (Kalimook).

Laba dari hasil monopoli yang dilakukan mendapatkan keuntungan yang amat besar, menyebabkan pada sekitar abad XVIII merupakan era keemasan VOC. Begitu pula pada paruh abad XVIII membawa kemakmuran yang sangat besar bagi rakyat persatuan provinsi-provinsi Belanda. Negara Belanda menjadi kuat dan besar bersama Kompeni Dagang Hindia Timur. Selama hampir dua abad perusahaan dagang (VOC) maupun menyediakan lapangan kerja akibat perputaran laba yang kian melimpah. Keuntungan-keuntungan yang menggiring para penguasa lokal terlena dan membiarkan sepak terjang VOC dalam mengelola wilayah usahanya. Pemerintah Belanda tidak membolehkan parlemen atau rakyatnya ikut campur dalam aktivitas politik tata cara pengelolaan jajahan yang dikuasai VOC.

Pertengahan abad XVIII, merupakan awal kebangkrutan VOC. Korupsi, kesalahan manajerial, malas dan santainya petugas lapangan serta merosotnya mutu armada VOC menyebabkan terjadinya petugas lapangan serta merosotnya mutu armada VOC menyebabkan terjadinya pembengkakan anggaran yang harus dikeluarkan. Akhirnya Kompeni terlilit utang. Sementara para pegawai VOC melakukan perdagangan atas kepentingan pribadi dan menggunakan fasilitas yang dimiliki perusahaan.

 

12

PEMERINTAHAN PENGERAN ALZA

  1. CAKRANEGARA IV (PANGERAN LOLOS)

 

Pemerintahan Pangeran Alza Cakranegara IV (1744-1749 M.) sebagai penganti Pangeran Jimat, berdasarkan persetujuan hasil musyawarah sesepuh Keraton Sumenep, karena Pangeran Alza Cakranegara IV masih muda, maka ditunjuk dan ditetapkan untuk mengawasi dan membimbingnya ialah bibinya (saudara kandung Ibunya) yang bernama R. Ayu Resman Tirtanegara, yang pada waktu suaminya sebagai Pegawai Keraton Sumenep (berpangkat mantri), sedang yang menjadi patihnya bernama R. Purwanegara (saudara sepupu dari R. Ayu Rasmana Tirtanegara).

 

  • Pemberontakan Ke’Lesap

Pada masa itu terjadi pe mberontakan yang dipimpin oleh Pak lesap dari Bangkalan-Madura. Pada tahun 1749 M. Sumenep harus menghadapi pemberontakan Ke’Lesap yang mengharu-biru seluruh Madura. Konon tokoh pembentukan adalah anak dari Panembahan Cakraningrat V dengan seorang gadis desa. Setelah besar oleh ibunya Ke’Lesap diberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya, sehingga ia merasa berhak mendapat kedudukan yang baik selayak anak seorang Adipati. Ia seorang alim yang gemar bertapa. Dekat dengan rakyat kecil dan pandai mengobati berbagai penyakit. Meskipun Panembahan Cakraningrat tidak mau mengakuinya sebagai putranya, Ke’Lesap diberi kekuasaan atas beberapa desa. Namun karena tidak merasa puas, ia melarikan diri ke pegunungan di wilayah Sumenep (Gunung Payudan). Di daerah pelariannya itu ia meneruskan bertapa sambil membina pengikutnya yang terdiri dari rakyat kecil. Rakyat Madura saat itu mendambakan pemimpin yang peduli dengan munculnya Ke’Lesap, seakan-akan menemukan panutan baru yang bersendikan ajaran agamanya.

Setelah merasa memiliki kekuatan bersama dengan rakyat yang menjadi pengikutnya, Ke’Lesap mulai menyerang Sumenep, dan berhasil mengalahkan Sumenep. Sementara itu Adipati Sumenep, Pangeran Alza Cakranegara IV, lolos dari sergapan Ke’Lesap dan melarikan diri ke Surabaya untuk minta bantuan Kompeni Belanda. Karena berhasil lolos dari serbuan Ke’lesap kemudian Pangeran Alza Cakranegara IV disebut dan dikenal sebagai Pangeran Lolos. Setelah lolosnya Pangeran Alza Cakranegara IV, Sumenep diserahkan penuh kepada pemimpin perang dari Ke’Lesap yang bernama R. Buka. Pada waktu R. Buka memimpin pemerintahan di Sumenep, masyarakat banyak yang tidak menyukainya, sehingga timbul kekacauan diberbagai tempat berupa perompakan dan pencurian. Kemudian oleh R. Tirtanegara keraton Sumenep diserang kembali sehingga timbul perang tanding di halaman Keraton Sumenep, antara             R. Tirtanegara dengan R. Buka. Pada pertarungan tersebut R. Buka kena tombak lambungnya oleh R. Tirtanegara, dan langsung mati. Sisa prajurit R. Buka dari Bangkalan yang masih hidup banyak yang lari ke Pamekasan, serta memberikan kepada Ke’ Lesap, bahwa Sumenep telah direbut kembali oleh R. Tirtanegara.

 

  • Sumenep Direbut Kembali oleh R. Tirtanegara

Berhubung Sumenep telah dapat direbut kembali oleh R. Tirtanegara, maka kemudian Pangeran Alza Cakranegara IV, diberi kabar untuk pulang kembali ke Sumenep. Ternyata setelah pulang ke Sumenep, Pangeran Alza Cakranegara IV diberhentikan oleh Kompeni, karena dianggap tidak cakap memimpin pemerintahan. Berdasarkan hasil musyawarah Keraton Sumenep, yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai Penguasa di Sumenep, ialah R. Ayu Rasmana isteri dari R. Tirtanegara, yang bergelar Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegar.

Pada masa pemerintahan Pangeran Alza Cakranegara IV, R. Ayu Tirtanegara ditunjuk sebagai pembimbing Pangeran Alza. Kemudian suami R. Ayu Rasmana meninggal dunia. R. Purwanegara yang masih saudar sepupu dari R. Ayu Rasmana, yang saat menjabat sebagai patih, lalu jatuh cinta kepadanya. Namun lamarannya ditolak oleh R. Ayu Rasmana. Sejak itu, R. Purwanegara menaruh dendam kepada Ratu Sumenep itu, sehingga meskipun menjabat sebagai patih tidak datang lagi ke keraton.

 

  • A. Rasmana Tirtanegara Sebagai Penguasa Sumenep

Meskipun R. Ayu Rasmana Tirtanegara ditunjuk dan ditetapkan sebagai penguasa Sumenep berdasarkan hasil musyawarah para sesepuh keraton, untuk menggantikan Pangeran Alza Cakranegara IV (Pangeran Lolos), namun pihak VOC masih belum memberikan surat pengukuhan sebagai penguasa Sumenep.

  1. Ayu Rasmana Tirtanegara, oleh para sesepuh keraton dianjurkan /disarankan untuk bersuami sebagai pendamping hidupnya. Tujuannya agar lebih ringan tugasnya dalam memimpin dan mengendalikan roda pemerintahan. R. Ayu Rasmana Tirtanegara melakukan shalat istikharah dan memohon petunjuk kepada Allah swt. selama 40 hari. Dalam mimpinya ia didatangi seorang lelaki penyabit rumput. R. Ayu Rasmana merasa kurang percaya akan mimpinya. Ia mengulangi kembali salat istikharah dan memohon petunjuk, namun yang datang dalam mimpinya masih seorang lelaki penyabit rumput. Dalam mimpinya yang terakhir lelaki itu memberi tahukan namanya ialah Bendara Moh. Saud dari desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng.

Keesokan harinya diutuslah beberapa mentri keraton untuk menjemput Bedoro Saud ke Lembung Barat, karena diperlukan oleh Ratu, maka Bendara Saud bersiap untuk menghadap. Setelah sampai di keraton, di hadapan seluruh mantri dan sesepuh keraton, kecuali Patih R. Purwanegara, karena sejak lama lamarannya ditolak oleh Ratu R. Ayu Rasmana, ia tidak pernah di Keraton Sumenep untuk menjalankan tugasnya sebagai patih.

 

  • Moh. Saud Menghadap Ratu

Pada waktu Bendara Moh. Saud menghadap Ratu R. Ayu Rasmana sebagian yang hadir di keraton sama-sama terkejut dan terpengarah. Karena yang dipanggil ternyata hanya seorang lelaki tukang rumput yang kemudian akan dijadikan jodohnya. Beberapa sesepuh keraton menjelaskan maksud dan tujuan pemanggilan itu kepada Bendara Saud setelah dijelaskan bahwa itu hasil istikhorah, Bendara Moh. Saud bersedia menjadi pendamping hidupnya. Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara mohon kepada Bendara Moh. Saud, agar puteranya yang dua orang didatangkan ke Kraton Sumenep untuk diasuh, sekaligus dijadikan anak angkat. R. Moh. Saud lalu pamit untuk ke Lembung Barat guna memberitahukan keluarganya.

Setelah selang 3 hari kemudian R. Moh. Saud kembali ke keraton Sumenep. Selanjutnya penghulu keraton dipanggil guna melaksanakan akad nikah. Kemudian diadakan selamatan walimatun nikah sederhana.

 

 

  • Dendam R. Purwanegara

Patih R. Purwanegara mendengar bahwa Ratu telah menikah dengan Bendara Moh. Saud, rasa dendam dan marahnya semakin menjadi-jadi. Kemudian ia mengambil sebilah pedang, lalu diasah sampai tajam untuk membunuh Bendar Moh. Saud. Ketika hendak membunuh Bendara Saud, patih R. Purwanegara tewas tertikan keris oleh salah seorang senopati Sumenep bernama K. Sawunggaling.

Apabila membaca sejarah Sumenep, tentu dapat dimengerti, bahwa setelah Tumenggung Yudanegara Adipati Sumenep tahun 1648-1672 M. Wafat, Sumenep ada dibawah pemerintahan Adipati-adipati yang berasal dari keturunan Pamekasan. Menurut adat kebiasaan di zaman itu, diantara abdi-abdi Sumenep dan menteri-mentrinya, terutama yang diserahi peranan penting, banyak pula sanak keluarga dari Adipati yang memegang pemerintahan.

Di antara abdi-abdi dan menteri-menteri yang pada waktu duduk berkumpul di pendopo kabupaten Sumenep adalah sebagian besar sanak keluarga dari Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara yang disebut orang “sentana”, juga ada dari keluarga patih R. Purwanegara. Mereka menyesal melihatnya peristiwa pembunuhan tersebut dan di antaranya ada yang akan mengadakan pembalasan. Namun karena mereka masih mempunyai rasa hormat kepada Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara, akhirnya mereka tetap tenang tidak melakukan pergolakan ataupun provokasi. Kepada mereka yang tetap menunjukkan kesetiaannya kepada Baginda Ratu, oleh Bendara Moh. Saud diijinkan tetap tinggal di kabupaten Sumenep. Sedangkan keluarga yang kurang senang terhadap kepemimpinan baru, diperkenankan pulang kembali ke daerah asal dengan mengubah gelar kebangsawanannya menjadi Kyai.

 

  • Putra Bendara Saud Menghadap Ratu Sumenep

Bendara Moh. Saud denga isteri yang pertama (nyai Izza) mempunyai dua orang anak lelaki, yaitu, Pangeran Aria Pacenan, dan Pangeran Aria Asirudin. Sedang pernikahannya dengan Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara tidak mendapatkan keturunan. Pada suatu ketika, dua orang anak Bendara Moh. Saud dipanggil menghadap ke keraton Sumenep.

Setelah sampai di keraton Sumenep, mereka tidak langsung masuk, tetapi menunggu di luar. Melihat ayahnya duduk bersama ibu tirinya, mereka duduk di lantai menghaturkan sembah sungkem. Lalu mereka berdua dipanggilnya yang datang menghadap lebih dahulu anak tertua, Pangeran Aria Pacenan. Ia datang menyembah dan melakukan sungkem kepada Ayahnya, lalu dilanjutkan kepada ibu tirinya. Sementara Pangeran Aria Asirudin yang menghadap kemudian, sungkem dulu kepada ibu tirinya, lalu dilanjutkan kepada ayahnya.

Mereka berdua lalu dipersilahkan duduk di hadapan ayah dan ibu tirinya. Ratu Ayu Rasmana Tirtanegara lalu berwasiat kepada seorang juru tulis sekretaris Keraton untuk dicatat. Isi wasiat tersebut adalah: bahwa kelak kemudian hari atau tahun, apabila ayah dari dua orang anak yang menghadap itu pulang ke Rahmatullah, yang mendapat waris mengganti jadi Adipati Sumenep, ia adalah anak yang lebih muda bernama: Asiruddin. Selanjutnya kedua anak tersebut diperkenankan masuk kedalam kamar dan tinggal dalam keraton Sumenep.

Seletah mereka ada di dalam kamar, maka Aria Pacenan menanyakan kepada adiknya apa sebabnya ia lebih dahulu sungkem kepada ibu tirinya.

“Aku sungkem lebih dahulu kepada ibu tiri, karena ia kekasih ayahku, dan bukan sanak keluarga kita. Sehingga apabila tidak senang kepada diriku, akan membawa akibat di kemudian hari yang mungkin akan mengecewakan ayahnya.”

Ratu Ayu Rasmana Tirtanegara memilih Asirudin sebagai pengganti ayahnya sebagai Adipati Sumenep, karena melihat tingkah lakunya, tindakan membeda-bedakan ibu tiri dengan ibu kandung, sehingga pantas menjadi seorang pemimpin yang bijaksana. Maka setelah beberapa hari lamanya, mereka berada di keraton, kemudian mereka sama-sama memohon pamit mengunjungi ibu kandung yang ada di Desa Lembung Barat. Mereka berdua lalu pulang. Setelah sampai di rumah ibu kandungnya, diceritakan semua pengalaman selama berada di Keraton.


13

R.MOH. SAUD (BENDARA MOH. SAUD)

  1. TUMENGGUNG TIRTANEGARA

ADIPATI SUMENEP (1750 – 1762 M)

  • Situasi Pemerintahan Bendara Moh. Saud

            Selama pemerintahan R. Moh. Saud rakyat kembali dalam keadaan aman dan sejahtera, karena para priyayi pembangkang terhadap R. Moh. Saud sudah pulang kembali ke tempat-tempat asalnya, yang tinggal ialah kerabat keraton yang merupakan pendukung utama terhadap R. Bendara Moh. Saud dengan Ratu Ayu Rasmana Tirtanegara. Suami istri itu di dalam memimpin daerah Sumenep, bisa kompak saling bekerja sama dan bantu-membantu.

            Bendara Saud sebagai penguasa baru yang berasal dari kaum santri yang kharesmatik. Tampilnya kaum santri ini menandai terjadinya pergeseran kekuasaan di Sumenep, yaitu munculnya pemimpin dari kalangan agamawan.

 

  • Penyerangan ke Bangkalan Oleh VOC

                        Tidak lama berselang datanglah perintah dari Gubernur Jendral Gustaaf Willem Baron Van Imboff ( 1743-1750 M) kepada R. Moh. Saud yang telah bergelar R.Tumenggung Tirtanegara untuk ikut menyerang kewilayah Bangkalan. Tujuannya untuk mengambil Kota Tanjung Sambilangan sebagai Ibu Kota Bangkalan dari Pangeran Jurit ( Pangeran Cakraningrat IV). Kapiten Rayner bersama 250 orang prajurit lengkap dengan peralatan senjatanya, dari Pamekasan juga ikut menyerang dengan membawa prajurit sebanyak 200 orang yang dipimpin oleh R.Adikara dan R.Ismail. semua pasukan perang tersebut dibawah pimpinan Kapiten Rayner. Setelah sampai di Bangkalan perang tak dapat dihindarkan, Bangkalan kalah dan tunduk kepada Kompagnie Belanda Indie Nederlands. (R.Aria Supatnegara, September 1933:2) sedangkan Pangeran Cakraningrat dibuang ke Kaap, Afrika selatan. Ia wafat di kaap, karena itu ia disebut Pangeran Siding Kaap.

 

  • Penobatan Bendara Saud sebagai Penguasa Sumenep

Pada tanggal 30 April 1751 M.R. Moh. Saud dinobatkan sebagai Adipati Sumenep dengan bergelar R.Tumenggung Tirtanegara, nama tersebut merupakan nama dari suami pertama dari Ratu R.Ayu Rasmana Tirtanegara.

Pada zaman penjajahan belanda, untuk mengangkat seorang Adipati atau penguasa, maupun penganugerahan gelar, pada umunya harus melalui perang dulu. Apabila kala perang atau melarikan diri, penguasa tersebut langsung diberhentikan, karena dianggap tidak cakap.

Pengukuan pemerintah Kolonial Belanda ini tidak lain merupakan manifestasi politik klasik “devide et empera”. Kekuasaan riiel ( realisme politik ) yang disembunyikan dibalik simbol-simbol yang mempesona mengharuskan penguasa pribumi tergantung pada Belanda sebagai kekuatan dominan. Strategi pemerintah kolonial itu menjadikan para penguasa pribumi sebagai alat untuk mencapai tujuan penjajahan. Rakyat diperintah melaksanakan kemauan pemerintah kolonial, seolah-olah semua perintah itu datang dari para penguasa pribumi sendiri. (R.Heine Gelderen, 1982 : 1-30 : B.J Oschrieke, 1974: 35-40 : Reflesk, 1978: 266-276: Taufik Abdullah, 1984:248-249: Sumarsaid Murtono, 1985: 17-62: Selo Sumarjdan, 1981:15-50: G. Moedjanto, 1987:10-30).

Dalam konteks ini, kalau ada penguasa pribumi yang menguntungkan politik kolonial dalam keadaan kerancam, maka Belanda akan membantu menstabilkan kekuasaannya dengan ekspansi militer. Adakalanya rakyat diminta untuk memabantu perang kolonial Belanda melawan Adipati / Penguasa yang menentang kebijakan pemerintah Kompeni Belanda.

 

  • Di bawah Kekuasaan VOC

Kalau R. Moh. Saud hidup sebelum penjajahan Belanda, secara yuridis cukup dilantik dan di kukuhkan oleh Adipati Mataram. Namun Adipati Mataram telah tunduk kepada kompeni Belanda, sehingga legitimasi yuridis terhadap R. Moh. Saud harus dilakukan oleh kompeni Belanda. Oleh karena Madura ada didalam kekuasaan Adipati Mataram, maka Adipati Madura yang ada dibawah kekuasaan ke Adipatian Mataram, tunduk kepada Kompeni Belanda.

Kepercayaan VOC kepada Bupati Panembahan Setiadiningrat (Cakraningrat V) semakin meningkat sehingga pada tahun 1762 M, ia dianugerahi gelar Panembahan Cakraningrat B ian banyak membantu belanda menanamkan kekuasaannya di ujung timur pulau Jawa melalui penumpasan pemberontakan Blambangan pada tahun 1764-1767 M. Sebagai imbalannya pulau-pulau di wilayah Sumenep diserahkan ke adipati Bangkalan.

Sehabis perang ada upaya memindahkan penduduk ke wilayah Blambangan, kemudian didatangi orang Madura. Karena jasa-jasanya, Panembahan Cakraningrat V diangkat sebagai   “wedana bupati” wilayah Bangwetan, yang meliputi Madura dan wilayah pantau utara Jawa Timur. Tugas itu dipangku sampai jabatan itu dihapus oleh Kompeni Belanda pada tahun 1770 M. Kedudukan itu sejak dulu telah diperjuangkan tapi gagal diraih Cakraningrat IV, namun kemudian bisa diraih oleh anak keturunannya.

Sekalipun seluruh Madura sejak tahun 1743 M sudah menjadi hak milik Belanda, terdapat perbedaan menyolok dalam cara V.O.C mengelola bagian-bagian pulau ini. Untuk daerah Sumenep dan Pamekasan selalu diangkat Bupati/Penguasa yang berswap Adipati, sedangkan penguasa daerah Madura Barat, diperlukan sebagai Adipati yang berlindung pada V.O.C karena pengangkatan pada penguasa Bangkalan diperoleh melalui penandatangana perjanjian dengan beberapa syarat. Pengukuhan kedudukan mereka biasanya dilakukan oleh Gubernur Jenderal di Jakarta. Sebaliknya Bupati-Bupati Sumenep dan Pamekasan harus menandatangi kontrak/perjanjian ikatan politik dan mereka cukup dilantik oleh kepala perwakilan dagang V.O.C. setempat.

Dalam menerapkan penguasanya atas Madura, V.O.C. mendudukkan dirinya di puncak piramida kekuasaan yang asalnya ditempati oleh Adipati Mataram yang bertuan. Istana   Gubernur Jenderal di Jakarta menjadi pengganti keraton. Adipati Mataram, sedangkan sistem pemerintahan oleh Bupati atau Adipati bawahan dilestarikan dan tidak diganggu. Karena itu maka segala keinginan V.O.C dalam menjaga kepentingan dagangnya diteruskan melalui saluran birokrasi bertingkat yang telah mapan sejak zaman Majapahit. Hanya saja seorang penguasa yang baru diangkat diharuskan menanda tangani penyataan yang berisikan perincian persyaratan ketergantungannya kepada V.O.C salah satu persyaratan yang ditekankan Kompeni Belanda dalam kontrak itu ialah penggantian pangkat atau kedudukan seorang Bupati; tidak harus diberikan kepada keturunannya. Dalam arti, V.O.C. bebas mengangkat siapa saja yang disukainya dalam mengisi kekosongan Adipati bawahan atau bupati. Karena itu Bendara Moh. Saud, yang menurut penilaian Belanda, bukan dari keluarga Keraton, dapat diangkat menjadi bupati Sumenep melalui kontrak ikatan politik.

Sebagai pemegang kedaulatan atas wilayah Madura, maka V.O.C. tidak mengapus feodalisme tradisional untuk memetik upeti serta kerja paksa dari rakyat. Begitu pula hak pengerahan laskar untuk dilibatkan dalam peperangan terus dituntut. Karena V.O.C. tidak memerintahkan secara langsung, maka hak yang diminta itu seringkali tumpang tindih dengan hak yang dituntut pula dari rakyat oleh para penguasa pribumi. Akibatnya penderitaan rakyat semakin berat oleh beban ganda yang menimpanya, karena akibat dari ketamakan dan kerasukan Kompeni Belanda. Ada dua macam beban yang dibebankan kepada bupati untuk memungutnya dari rakyat untuk V.O. C.

Yang pertama disebut contingenten, semacam jatah pungutan upeti berupa hasil bumi yang wajib diserahkan kepada V.O.C. tanpa penggantian sepeserpun.

Adapun beban yang kedua disebut verplicbte leveranties berupa p emasukan wajib hasil bumi berdasarkan perjanjian dengan penggantian yang harganya ditentukan oleh V.O.C. dalam kontrak pengangkatan Bendara Moh. Saud sebagai bupati pada tahun 1751, misalnya tercantum, bahwa Sumenep diwajibkan memasok kepada V.O.C. sejumlah 30 pikul (30 x 60 Kg) gula siwalan, 80 krayon (80 x 30 pikul) kacang hijau, 700 takar (700 x 75 liter) minyak kelapa, 30 pikul dendeng sapi, 1000 ekor ikan bambangan (kakap merah/kering) dan 20 pikul benang kapas halus.

 

  • Akhir Pemerintahan Bendara Saud

Bendara Moh. Saud, memerintah di keraton Sumenep selama sepuluh tahun terakhir fisiknya mulai menurun dan sering sakit-sakitan. Kemudian beliau memanggil putranya yang dicalonkan sebagai penggantinya yang tidak lain ialah : Pangeran Aria Asirudin Natakusuma.

Kemudian Bendara Moh. Saud menderita sakit dan akhirnya wafat, pada tanggal 17 Jumadillawwal 1171 H. Berselang 8 (delapan) hari kemudian, tepatnya tanggal 25 Jumadillawwal 1171 H. Atau 1762 M. Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara (isteri dari Bendara Moh. Saud), menyusul juga meninggal dunia. Keduanya sama-sama dikuburkan di Asta Tinggim desa Kebunagung, Sumenep.

 

 

14

PENGERAN NATAKUSUMA ALIAS

PANEMBAHAN SOMALA

ADIPATI SUMENEP (1762-1811 M)

 

  • Penobatan Asirudin sebagai Pangeran Natakusuma I

Setelah Bendara Moh.Saud (R. Tumenggung Tirtanegara) pulang ke Rahmatullah pada tanggal 17 Jumadillawwal 1177 H, (1762 M) maka yang mengganti sesuai dengan wasiat dari Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara, ialah puteranya yang bernama R. Asirudin, yang bergelar Rangeran Natakusuma I atau dikenal lagi dengan Panembahan Somala. Ia mempunyai seorang isteri bernama R. Ajeng Maimuna, puteri dari R. Tumenggung Marmowidjaya Suryaadimenggala III adalah Adipati Lasem yang masih keturunan dari R. Patah Sultan Demak.

Raden Arya Asirudin dilantik dan dinobatkan sebagai Adipati Sumenep, pada tahun 1762 M, dengan gelar Pangeran Natakusuma oleh Gubernur Jenderal Petrus Albbertus Vander Parra. Upacara pelantikan itu dilaksanakan di Semarang, bersamaan dengan Adipati Bangkalan Pangeran Setiadiningrat yang diagnurahi gelar Panembahan Cakraningrat V.

Kemudian Pangeran Natakusuma alias Panembahan Somala beristeri pula puteri dari Adipati Sedayu dan seorang putri dari Blambangan. Ia menurunkan putera-puteri sebanyak 9 (sembilan) orang Yaitu :

  1. Pangeran Panggung (R. Aria Kusumadiningrat),
  2. Tumenggung Moh. Ali Prawiradiningrat (berpangkat Kolonel)
  3. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat
  4. Pangeran Natapradja
  5. Ayu Panji Ganda,
  6. Ayu Babe, bersuami Adipati Pasuruan
  7. Ayu Pandji Singasari
  8. Ayu Tumenggung Probolinggo, suaminya dari kesepuhan Surabaya,
  9. Ayu Tumenggung Puger.

Pada pemerintahan Panembahan Somala, pernah terjadi beberapa peristiwa, antara lain:

  1. Pengiriman pasukan Sumenep ke Blambangan dan Makasar dengan membawa kemenangan bagi Kompeni Belanda.
  2. Pemisahan kabupaten Panarukan dari Sumenep, karena sebelum itu Panarukan termasuk wilayah pemerintahan Sumenep.
  3. Pemberontakan di Batang-Batang (1775 M), merupakan bentuk perlawanan rakyat terhadap pemerintahan kolonial Belanda tetapi pemberontakan dapat dipadamkan.
  4. Pembuatan keraton baru, karena keraton yang lama terlalu kecil, sehingga tidak cukup ditempati keluarga yang makin banyak.
  5. Pendirian Masjid Jamik Sumenep.
  6. Penyerangan pasukan Inggris ke Sumenep, sehingga membawa korban patihnya yang bernama Kyai Mangundiredja dengan seorang anaknya tewas bersama sebagian pasukan Sumenep.

 

  • Penumpasan Pemberontakan Blambangan

Kemudian pada tahun 1764-1767 M, Panembahan Cakraningrat V Bangkalan bersama Pangeran Natakusuma diperintahkan untuk menumpas pemberontakan Blambangan. Didalam peperangan tersebut kompeni meraih kemenangan, sehingga Panarukan dihadiahkan kembali kepada Pangeran Natakusuma Adipati Sumenep. Maka untuk memerintah wilayah di Panarukan ditunjuk saudaranya sendiri ialah Aria Pacenan dengan Bergelar R. Tumenggung Jayakusuma.

Akan tetapi beberapa saat kemudian Panarukan diserahkan kembali kepada kompeni, dengan permohonan agar pulau-pulau yang dulunya menjadi wilayah Sumenep dan telah dimasukkan daerah Bangkalan, dapatnya diserahkan kembali ke Sumenep. Kepulauan di sebelah timur Sumenep pernah diserahkan kepada Panembahan Cakraningrat V Bangkalan, atas jasa-jasanya Panembahan Cakraningrat V diangkat dan ditetapkan sebagai wadana Adipati wilayah Bangwetan yang meliputi wilayah Madura dan wilayah pantai utara Jawa Timur. Permohonan Pangeran Natakusuma Adipati, oleh kompeni dikabulkan sehingga kepulauan yang pernah menjadi wilayah Sumenep dikembalikan kepada Sumenep. Sedangkan Panarukan dikembalikan pada Kompeni.

Sebelum itu, pada zaman pemerintahan Pangeran Jimat atau Cakranegara III (1731-1744 M) daerah Besuki dan Panarukan termasuk wilayah dari Sumenep, pada zaman Pangeran Jimat, ia pernah mengarhkan penduduk Sumenep bertransmigrasi ke daerah Besuki.

Sejak ke Adipatia Mataram tunduk kepada kompeni Belanda, semua ke Adipatian bawahan Mataram juga harus tunduk kepada kompeni. Cara untuk menaklukkan keAdipatian-keAdipatian pribumi itu terkenal dengan politik adu domba (devide et impera).

 

  • Kepemimpinan Panembahan Somala

Pengeran Natakusuma alias Panembahan Somala, punya pengetahuan agama yang luas dan mendalam sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sumenep saat itu. Di dalam menjalankan roda pemerintahannya ia serba hati-hati sekali, takut sampai merugikan masyarakat. Kalau ada permasalahan yang menyangkut kepentingan masyarakat selalu dimusyawarahkan dengan sesepuh keraton dan para Ulama, beliau mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan pribadinya.

Sebelum menjadi penguasa Sumenep, Panembahan senang pada kegiatan pertanian. Ia banyak menanam pohon-pohon berupa : pohon kelapa di Banding, dan pohon jati di desa Pamolokan. Dengan usaha itulah ia dengan istrinya tercinta R. Ajeng Maimuna hidup serba sederhana.

 

  • Pembangunan Keraton Sumenep

Setelah selesai perang dengan Blambangan antara tahun 1764-1767 M yaitu pada tahun 1198 H. Panembahan Somala mendirikan tempat tinggal di sebelah timur keraton terletak di desa Pajagalan. Arsitek yang ditunjuk adalah seorang bangsa Cina bernama Lauw Piango, cucu dari Lauw Khun Thing. Lauw Khun Thing adalah salah satu diantara 6 orang Cina yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut “Hura-hara Tionghwa” 1740 M. Tempat tinggal ini merupakan tempat ketemenggungan atau kadipaten, dan selesai tahun 1200 H (1780 M).

Bangunan ini kemudian terkenal menjadi keraton Sumenep yang sampai sekarang masih utuh, megah dan terawat. Namun apabila dikaitkan dengan sistem pemerintahan Jawa saat itu, maka istilah keraton tersebut menjadi kurang tepat, karena ia memiliki strata yang berada dibawah keraton di Jawa. Tetapi penggunaan istilah keraton dapat dimaklumi karena sejak dulu Sumenep merupakan daerah wilayah pesisir wetan yang jauh dari Mataram. Pusat pemerintahan disebut oleh orang kebanyakan sebagai “keraton”. Waktu itu seorang adipati atau seorang Adipati di Madura oleh rakyatnya disebut rato (Adipati).

 

  • Struktur Pemerintahan Sumenep
  1. Susunan Pemerintahan

Pemerintahan di Sumenep, lebih sederhana dibandingkan dengan Mataram karena hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Keraton, penghulu paseban, rumah tangga keraton. Gedong Negeri berfungsi sebagai bagian perbekalan dan perbendaharaan keraton, dikelola oleh Patih, dibantu oleh Wedana Keraton. Ia bertugas mengurusi anggaran belanja kepanembahan, penetapan percaton, pajak dan beberapa kewajiban lain yng berkaitan dengan kebutuhan maupun keuangan keraton. Pengadilan Keraton (Kraton Count/Yustice) diketuai Panembahan sendiri, diwakili oleh Patih, dan jika berhalangan Penghulu Keraton yang bertindak selaku hakim agama, dan orang-orang yang ditunjuk oleh Panembahan.

Hirarki jabatan dibawah penghulu keraton, adalah wakil penghulu keraton, hatib, modin, tukan adzan, dan marbot (tukang pukul beduk), yang mengurusi air wuduk, membersihkan menjid, dan hal-hal lain untuk keperluan shalat. Paseban (auditory) merupakan tempat sidang yang dikepalai oleh Panembahan. Sidang ini diselenggarakan di Pendapa Keraton serta dihadiri oleh orang-orang terkemuka dan pejabat-pejabat tinggi keraton yang waktunya diadakan pada hari-hari tertentu, misalnya hari Senin dan hari Kamis. Paseban diurus oleh mantri besar yang bertindak sebagai penghulu antara Panembahan dengan Patih. Mantri besar dibantu mantri kebayan, tetapi kegiatan-kegiatan pejabai ini hanya berkisar di wilayah ibukota. Pengurus rumah tangga keraton (palace) bertugas melayani kepanembahan serta keluarganya. Penyelenggaraannya dikepalai oleh lurah keraton dan membawahi mantri opas (kepala pengawal Panembahan), mantri kusir (kepala kusir kereta-kereta keraton), mantri gamelan dan mantri wayang. Termasuk bidang ini juga keprajuritan (militer) yang bertugas sebagai bhayangkara Panembahan yang terdiri dari prajurit tetap dan laskar milisi. Dari penjelasan Sumarsaid Murtono (1982).

Menurut Kuntowijoyo (1980) Jabatan patih sebagai pejabat senior dan kedudukannya langsung dibawah Panembahan, ia sepenuhnya tunduk pada panembahan, karena itu ian menjadi pejabat yang paling dipercaya untuk bertindak sebagai pengawas pelaksana pemerintahan. Dalam melaksanakan tugasnya ia dibantu oleh beberapa pejabat.

 

  1. Sumber Keuangan

Dalam rangka memenuhi kebutuhan material maupun finansial, kepanembahan menetapkan status kualifikasi tanah yaitu tanah daleman yaitu tahan dengan kualifikasi subur, khusus untuk panembahan dan kerabat dekatnya. Tanah percaton (apanagie) yaitu tanah yang diberikan pada para pejabat-pejabat keraton sebagai imbalan jerih payah. Tanah perdikan (bebas dari beban Negara) yang dikualifikasikan dengan tanah perdikan putiban (yang diberikan kepada juru kunci makam Adipati-Adipati dan keluarganya). Sejak zaman Pangeran Jimat, Astatinggi (kuburan Adipati-Adipati dan keluarganya) diberi kemit penjaga siang dan malam demikian dijelaskan dalam Babad Songennep.

Baru setelah Pangeran Natakusuma penjaga Asta tinggi, diberi tanah perdikan dan dibebaskan dari dari pajak. Tanah itu disebut tanah percaton untuk ditanami dan diambil hasilnya, sebagai imbalan jerih payahnya menjaga Asta tinggi.

  1. Klasifikasi Wilayah Desa

Selain itu ada pembagian wilayah menjadi desa daleman, desa percaton dan perdikan. Desa daleman adalah wilayah (domein) panembahan dan para kerabat Keraton dan menjadi sumber penghasilannya. Panembahan mendapatkan hak pemilikan secara efektif yaitu sepertiga dari hasil seluruh tanah pertanian dari desa-desa daleman. Sisa hasil dua pertiga diberikan kepada petani yang mengerjakannya, dengan dikenakan pajak sepertiga dari dua pertiga dari hasil panen yang didapatnya. Pajak ini dikumpulkan oleh Kalebun (kepala desa) kemudian diserahkan kepada Pejabat Gedong Negeri. Para petani di desa-desa daleman harus mengerjakan sepertiga sawah milik Panembahan dan hasil panennya mereka hanya menerima upah sekitar 1/16-1/15 saja. Disamping itu 3-5 orang petani dari setiap kelompok dibebaskan dari pajak sepertiga terhadap dua pertiga hasil panen yang diterimanya, tetapi harus menyerahkan yang dedeg seharga 8 duit yang dinamakan obang dedeg.

Desa percaton adalah desa yang menjadi tulang punggung panembahan, kerabat panembahan dan pejabat-pejabat di sekitar panembahan. Desa perdikan mempunyai keistimewaan karena “penguasanya” dapat langsung berhubungan dengan panembahan dan hak otonomi serta pembayaran pajaknya ditentukan sendiri oleh penguasa perdikan bersama rakyatnya.

Setelah panembahan Somala semakin lemah fisiknya beliay ingin beristirahat. Sebagai pengganti disiapkan puteranya yang tertua yang bernama Pangeran Panggung alias Pangeran Aria Kusumadiningrat. Namun setelah beberapa bulan menjabat sebagai Adipati di Sumenep beliau dipindah ke Pasuruan oleh Belanda, dan sebagai gantinya R. Abd. Rahman Tirtadiningrat         (1762-1811 M). Pangeran ini sangat keras sehingga rakyat Sumenep banyak yang tidak senang. Namun karena beberapa hal yang tak perlu diceritakan, akhirnya yang diangkat menjadi Adipati Sumenep ialah R. Abd. Rahman Tirtadiningrat, sedangkan Pangeran Panggung diangkat menjadi Adipati Pasuruan dengan gelar Nataningrat.

Untuk keraton dan beberapa bangunan yang didirikannya, Pangeran Natakusuma berusaha agar tidak terjadi percekcokan dikalangan keturunannya dikemudian hari. Karena itu ia memberikan beberapa wasiat, terutama untuk bangunan dan tanah yang ia wakafkan untuk fakir miskin salah satu wasiatnya ada yang berbunyi : ”Tahun hijriyah Nabi Saw. 1200 (tahun Ba’) dibualan Muharram inilah bangunan-bangunan (tempat tinggal) serta tanah-tanah wakaf Pangeran Natakusuma Adipati Sumenep. Semoga Allah SWT memberi ampun baginya dan kedua orang tuanya. Inilah bangunan serta tanah yang tidak dapat dirusak dan tak dapat diwarisi sebab bangunan (termasuk tanah tersebut) adalah wakaf yang diperuntukkan kebutuhan orang fakir dan orang miskin. Saya memberi perintah kepada sekalian keturunan, atau kalau tidak ada sanggup, kapada yang lainnya guna memperbaiki mengawasi dan memelihara bangunan-bangunan dan tanah tersebut, bagi keturunan lainnya yang telah memelihara dan mengawasi wakaf itu semoga Allah SWT, mengarunia kesehatan dunia maupun akhirat”,

Sebelum Masjid Jami’ Sumenep selesai pembangunannya, maka Pangeran Natakusuma, memperbaiki masjid lama yang dikenal dengan Masjid Laju (masjid l ama) yang didirikan oleh Pangeran Aggadipa (Adipati Sumenep : 1626-1644 M), terletak di desa Kepanjen (sebelah Utara Keraton Sumenep). Untuk ditempati shalat Jum’at. Karena masjid itu kecil, jadi tidak bisa menampung jamaah yang makin banyak. Maka wajarlah kalau Panembahan Somala mendirikan masjid yang jauh lebih besar, dengan arsitek Law Piango. Masjid yang megah itu dimulai pembangunannya pada tahun 1198 H (1779 M) dan selesai pada tahun 1206 H (1787 M).

Sedangkan untuk Masjid Jamik (sekarang resmi disebut Masjid Agung Sumenep) Panembahan memberi wasiat berbunyi :

Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan mengegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid itu sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwarisi, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.

Wasiat ini ditulis tahun 1806 M, pada waktu Pangeran Abd. Rachman Tirtodiningrat ditunjuk dan ditetapkan sebagai Nadir Wakaf Panembahan Somala, pada waktu Pengeran Abdurrahman masih belum menjadi Adipati Sumenep.

 

  • Pembangunan Kubah Asta Tinggi

Panembahan Somala digantikan oleh puteranya Sultan Abdurrachman Pakunataningrat. Untuk menghormati ayahnya Sultan Abdurrachman membuat cungkup di Asta Tinggi yang terletak di bagian timur kompleks pemakaman tersebut. Bangunan berkubah itu mulai dibangun oleh Sultan Pakunataningrat pada tanggal 10 Rajab 1227 H. (1808 M). Sedangkan Panembahan Somala, wafat pada hari Senin Rabiul Awal tahun 1230 H. (1811 M) dan disemayamkan (dimakamkan) di tengah-tengah Kubah itu.

Pada waktu Panembahan Somala, sebenarnya bangunan berkubah itu belum selesai benar. Sultan Abdurrachman lalu berusaha agar bangunan berkubah tempat Panembahan Somala dimakamkan itu cepat selesai dengan baik serta indah dipandang mata.

Sedangkan kakaknya Pangeran Panggung alias Kusumaningrat menjabat sebagai Adipati di Pasuruan dengan gelar Pangeran Aria Nataningrat.

Saudara dari pangeran Sultan Abdurrachman yang lain bernama Tumenggung Kolonel, ia seorang komandan barisan. Waktu wafatnya meninggalkan empat putera laki-laki yang tertua bernama R. Bambang Sutiknya, yang diangkat menjadi Adipati di Besuki, dengan gelar Pangeran Adipati Aria Prawiraadiningrat I. Ia banyak menurunkan pembesar-pembesar dan Adipati-Adipati di daerah Jawa Timur. Kabupaten Besuki kemudian pindah ke Sitobondo. Selanjutnya kabupaten itu dipimpin oleh keturunan R. Bambang Sutinya.


15

SULTAN ABDURRACHMAN PAKUNATANINGRAT

ADIPATI SUMENEP (1811-1854 M.)

  • Raden Tumenggung Abdurrachman Natakusuma II

Sebagai pengganti Panembahan Natakusuma I (Panembahan Sumala) ialah puteranya yang bernama: R. Tumenggung Addurrachman Natakusuma dan kemudian dinaikkan menjadi Panembahan Natakusuma II. R. Tumenggung Addurrachman Natakusuma dilantik oleh Inggris, karena pada permulaan kurun pemerintahannya, seluruh jajahan Belanda berhasil sirebut oleh Inggris. Pada waktu pemerintahannya keadaan Sumenep sangat makmur dan sentosa. Ada pemetaan wilayah keAdipatian, usaha pembuatan perahu digalakkan, bahkan juga dibuat kapal-kapal perang. Selain itu dikembangkan pula ukir-ukiran. Dan karena tingkat kesejahteraan cukup tinggi, sebagian rakyat bahkan dapat membangun rumah-rumah dari tembok beratapkan genteng atau seng. Panembahan Natakusuma kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi Sultan, dengan sebutan Abdurracham Pakumataningrat.

Pada saat Sultan Abdurrachaman Pakunataningrat berkenalan baik dengan Letnan Gubernur Inggris Sir Thomas Stanford Raffles, sebagai penguasa Inggris untuk wilayah Jawa dan Madura. Sultan Abdurrachman, selain seorang negarawan juga seoarang ilmuwan, yang dapat menguasai beberapa bahasa, antara lain bahasa; Madura, Jawa Kawi, Melayu, Arab, Sansekerta, dan Belanda. Karena luas pengetahuannya di bidang kebudayaan, ia juga menjadi orang kepercayaan Raffels. Ia membantu dan memberi masukan ketika Raffles menyusun buku-buku ilmu pengetahuan.

Pada jaman penjajahan Inggris yang dibawahi oleh Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stanford Raffles, Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mennerima kiriman sebuah batu yang bertuliskan bahasa Sansekerta yang ditemukan di pulau Bali. Tulisan itu tak seoranpun yang dapat membacanya. Oleh Sultan Abdurrachman Pakunataningrat tulisan pada batu tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Melayu. Selanjutnya untuk mencocokkan hasil terjemahannya, batu tersebut diserahkan kepada Mas Tumenggung Rangga Nartabasa Pratalikrama, Jaksa Pratalikrama, yang sangat mendaloam spiritualnya, lalu mohon petunjuk Allah dengan salat istikharah. Pada suatu saat ia bermimpi diberitahu orang apa arti yang sebenarnya dari tulisan itu. Apa yang ia dapatkan dalam mimpinya lalu ditulis di atas kertas, kemudian ditunjukkan kepada Sultan Abdurrachman. Setelah dicocokkan hasil terjemahan itu sama dengan hasil terjemahan Sultan Abdurrachman. Kemudian batu dan hasil terjemahannya dikirim kepada Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stanford Raffles. Dua tahun kemudian, maka Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat surat dari Raffles yang menerangkan, bahwa hasil terjemahan Sultan itu cocok dengan hasil terjemahan yang dilakukan orang di India. Oleh karena itu Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat gelar “Letterkundige”, yang ditetapkan dengan surat ketetapan (besluit), yang merupakan gelar doktor kesusastraan dari pemerintah Inggris. Kemudian batu bertulis huruf Sansekerta itu, dikenal dengan sebutan “prasasti Lord Minto”, sebagai nama: Gubernur General Inggris di India. Atas keberhasilan dari Sultan Abdurrachman Pakunataningrat, itu ia tidak hanya diberi gelar saja, akan tetapi juga diberi kereta kencana, dan beberapa lempengan mas. Namun lempengan masnya hanya diambil satu, yaitu berbentuk sepatu kuda.

Inggris hanya sempat menguasai Jawa dan Madura dari tahun 1811-1816 M. Namun peninggalan Raffles banyak yang relevan dengan sekarang. Misalnya, keharusan bagi kendaraan pemakai jalan memakai jalur kiri, pembagian wilayah pemerintahan dengan karesidenan. Raffles juga sangat memperhatikan pelaksanaan kepastian hukum, pemilikan tentang tanah mengadakan pengawasan langsung atas lahan yang dimiliki rakyat. Usaha merintis penghapusan system tana apanage (percaton) sebagai gaji Adipati gagal, karena belum mungkin menghilangkan penghormatan ikatan adat masyarakat terhadap para penguasa tanah. Tetapi segala bentuk upeti dan wajib serah hasil bumi, yang dianggapnya tidak adil dihapusnya. Sebagai gantinya diperkenalkan pembayaran pajak atas tanah (landrent), yang langsung dipungut pemerintah penjajah tanpa melalui Adipati. Namun Madura dibebaskan dari kewajiban membayar pajak tanah itu. Karena ingin memperbaiki perekonomian penduduk, maka sejak 1813 dicabutnya monopoli garam Madura yang selama itu diborongkan pada orang Cina. Perubahan yang sporadi, itu menyebabkan penerimaan utama pemerintah kolonial tidak lagi berasal dari perdagangan produk agraris yang dimonopolinya. Berbeda dengan orang Belanda, dalam jangka panjang Raffles mengharapkan tanah jajahannya bisa menjadi pasar bagi hasil industri Inggris.

Banyak gagasan dan rencana pembaharuan sosial Raffles yang sangat maju pada zaman itu. Namun banyak yang tidak terlaksana. Sekalipun demikian singkat masa tugasnya di Jawa, ia tetap dikenang orang karena jasanya dalam memajukan ilmu di Nusantara. Raffles memang menaruh perhatian besar terhadap kebudayaan, sejarah, bahasa dan perikehidupan alam tropika. Hasil pengamatannya kemudian diterbitkan menjadi buku “ The History of Java” yang sangat terkenal itu.

Raffles tidak memperlakukan para Penguasa Sumenep dan Pamekasan sebagai pegawai East India Company seperti Adipati Jawa lainnya. Keduanya diberi kedudukan tinggi seperti Adi sehingga sedeAdipatit dengan susuhunan di Surakarta dan Sultan di Yogyakarta. Ia memang mempunyai argumentasi tersendiri untuk membenarkan tindakannya. Sultan Sumenep yang berpengatahuan sangat luas tentang kebudayaan Jawa kuno diakuinya berjasa besar baginya. Sultan Sumenep giat sekali membantunya menyediakan data, informasi dan bahan lain untuk memungkinkan Raffles menyusun buku “History of Java”. Pada saat itu ipar Sultan Abdurrachman, R. Saleh Nataadiningrat, pada 3 Nopember 1851 M. Diangkat oleh Raffles sebagi Juru Bahasa “ in the Javanese office”.

Dalam tahun 1816 M. Ketika R. Saleh Nataadiningrat berumur 15 tahun, ia diberi jabatan “Assistent Regent” dan diserahi “Regentacbap” Semarang, ketika ayahnya diskors berhubung pertikaiannya dengan “Resident Boggie”.

Jasa R. Raden Saleh Nataadiningrat, ipar Sultan Abdurrachman yang tidak kecil kepada Raffles ialah penerjemah dari bahasa Jawa kedalam bahasa Inggris yang langsung, tanpa perantara bahasa dan orang Belanda lagi. Dengan keahliannya itu R. Saleh Nataadiningrat juga menolong Raffles dalam meniliti “Bratayudha”.

  1. Saleh Nataadiningrat putera dari Kanjeng Adipati Kiyai Suraadimenggala Adipati Semarang. Sedangkan Sultan Abdurrachman Pakunataningrat adalah menantu dari Adipati Semarang ipar Sultan Abdurrachman R. Saleh Nataadiningrat sejak berumur 11 tahun sudah fasih berbahasa Belanda. Kemudian oleh ayahnya ia dikirim dan diserahkan kepada Gubernur Jenderal Lord Minto di India untuk melanjutkan pendidikannya ke di Kalkutta-India. Tanpa memperdulikan berapa besar biaya belajar di India, yang satu tahun mencapai biaya $ 3000. yang penting puteranya nanti menjadi orang yang berilmu dan berguna. Setelah pulang ke tanah kelahirannya R. Saleh Nataadiningrat menjadi seorang yang sangat progresif. Ia punya rasa cinta terhadap rakyat dan kemerdekaan sama seperti yang difahami ayahnya, Kanjeng Kiyai Adipati Suraadimenggala. Dengan demikian, R. Saleh Nataadiningrat dengan iparnya Sultan Abdurrachman, adalah sama-sama pakar dalam bidang kebudayaan.

 

  • Jawa dan Madura Kembali di bawah Kekuasaan Belanda

Sesudah kepulauan Jawa dan Madura dikembalikan lagi oleh inggris kepada Belanda tahun 1816 M, R. Aria Saleh Nataadiningrat diangkat dan ditempatkan sebagai Adipati Probolinggo. Ini terjadi kira-kira antara tahun 1817 atau 1818 M, waktu ia masih berumur 17 tahun.

Sesungguhnya R. Aria Nataadiningrat tidak begitu senang ditempatkan sebagai Adpati di Probolinggo. Ahirnya ia banyak mengabaikan pekerjaannya, kamudian ia didakwa oleh belanda menjalankan praktek-praktek yang tidak senonoh. Karena itu ia lalu dipindahkan menjadi Adipati Lasem.

Pada bulan Desember 1821 M, Belanda mencari alasan untuk memberhentikan R. Aria Saleh Nataadiningrat sebagai Adipati Lasem. Ia dilaporkan oleh Residen Rembang bahwa ia menderita penyakit “ Zinneloosshid” (gila). Ia lalu diberhentiak sebagai Adipati Rembang, tanggal 3 Pebruari1842 M dalam umur 23 tahun.

Setelah diberhentikan karena R. Saleh Nataadiningrat tetap menunjukkan sikap membela kepentingan rakyat. Kemudian ia dilaporkan, bahwa di rumahnya terdapat 600 anak panah, 20 senapan, 20 tombak, 30 ribu panah. Lagi pula Asistent Resident Kendal memberitahukan dengan Pangeran Diponegoro, tokoh pendekar rakyat yang hendak mengusir penjajah.

Pada waktu pemeriksaan ke rumah R. Saleh Nataadiningrat yang dipimpin oleh Letnan Bornemen, ia dalam keadaan bersenjata, dan sedang bersiap untuk bepergian. Dalam pemeriksaan, R. Saleh mengaku terus terang, dengan tidak ada rasa takut sedikitpun. Ia seperti telah siap berperang melawan orang Eropa.

Pada tanggal 25 Maret 1826 M, Pemerintah Belanda, lalu menangkap R. Saleh Nataadiningrat dan ayahnya Suriaadimenggala. Kemudian ditawan di atas Kapal perang Pollux. Setelah itu dipindahkan ke Kapal “Maria Reygersbergen”.

Setelah lama ditahan, R. Moh. Saleh Nataadiningrat minta kemurahan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk dibebaskan. Belanda lalu menyetujuinya, Raden Saleh Nataadiningrat dan ayahnya diizinkan tinggal di Sumenep. Pada tanggal 24 April 1830 M mereka tiba di Sumenep, berkumpul dengan Sultan Abdurrachman.

Cukuplah penderitaan baik fisik maupun psikis yang mereka alami dari hari penangkapan sampai ke tempat yang baru di Sumenep, bertambah pula penderitaan mereka, karena tiba-tiba nafkah yang mereka dapat berupa uang pensiun dikurangi sekitar lebih 50 persen.

Wajarlah kalau mereka menaruh dendam sehingga perjuangannya diteruskan di Sumenep, bahu-membahu dengan Sultan Abdurrachman Pakunataningrat.

Sultan Sumenep sebagai panglima, mengangkat putera-puteranya menjadi stafnya :

  1. Pangeran Kusuma-Senaningalaga, yang berpangkat Kolonel sebagai kepala angkatan perang Sumenep. Ia ditunjuk pula sebagai penjaga pintu gerbang utara kota Sumenep. Rumahnya punya keistimewaan berupa gedung bertingkat (loteng), dengan halaman yang sangat luas, sebagai tempat latihan militer.
  2. Pangeran Kusumasinerangingrana, yang berpangkat Letnan Kolonel, sebagai Komandan Pasukan Infantri. Ia berumah di desa Kepanjin, sebelah timur laut Keraton Sumenep. Ia terkenal dengan sebutan Pangeran Le’nan.
  3. Pengeran Kusuma Suryaningayuda, berpangkat Mayor, ia tempat tinggalnya di desa Kapanjin, dan disayangkan rumah itu kini telah punah.
  4. Pangeran Kusuma Candraningprang (Pangeran Langsir), yang berpangkat Mayor, diangkat sebagai Komandan Pasukan Kaveleri (berkuda), rumahnya di desa Kapanjin.
  • Politik Ajala Sotra

Adipati-adipati di Indonesia pada zaman itu, karena kurangnya rasa persatuan dan kesatuan mudah sekali diadu domba oleh Belanda. Sultan Sumenep sangat terpukul dengan ditangkapnya Kanjeng Kyai Adi Pati Suraadimenggala beserta R. Saleh Nataadiningrat yang sama-sama diberhentikan dari jabatan Adipati.

Sultan Abdurrachman dalam menghadapi penjajah melakukan politik yang disebut “ajalan sotra”, yaitu jenis taktik dan siasat, untuk melawan politik : “devide et impera”nya pemerintah kolonial stelsel, dari Belanda.

Politik ajalan sotra tersebut tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa, tapi harus secara halus dan hati-hati, kalau tidak bisa, berbahaya pada dirinya sendiri.

Pada waktu Sultan Abdurrahman mendirikan bangunan kantor koneng mendapat tegoran dari pihak Belanda : Mengapa Sultan Sumenep mendirikan Kantor Koning (kantor Adipati), padahal tidak boleh. Oleh Sultan Abdurrachman Pakunataningrat. Yang kemudian dijawab bahwa bukan Kantor Koning (Kantor Adipati) seperti yang dituduhkan, akan tetapi “Kantor Koneng” karena kantor tersebut keseluruhan temboknya dicat warna kuning. Kantor tersebut sebenarnya sering dijadikan tempat rapat rahasia dari pejabat-pejabat tinggi termasuk komandan pasukan elit Keraton, bila mana keadaan Negara sangat genting, akibat ulah dari Belanda. Kemudian setelah tercium oleh Belanda. Rapat tersebut pindah keatas loteng keraton.”

“Kantor Koneng” tersebut oleh Sultan Abdurachman Pakunataningrat didirikan sebelah barat Keraton yang ada sekarang ini yaitu di atas tanah bekas pendapa R. T. Tirtanegara. Pendapa itu oleh Sultan Abdurrahman dipindah ke Asta Tinggi dengan tidak mengubah bentuk asalnya.

Sesungguhnya “Kantor Koneng” tersebut ditempati khusus rapat-rapat rahasia dari para pejabat tinggi Keraton Sumenep, termasuk para komandan pasukan elit, bilaman Negara ada dalam keadaan genting.

Diceritakan R. Saleh Nataadiningrat dan Adipati Suraadi menggala pada tanggal 24 April 1830 M mereka tiba di Sumenep kemudian oleh Sultan Abdurrachman Pakunataningrat diterima di Keraton Sumenep, sebab mereka merupakan ipa dan mertuanya sendiri. Selanjutnya R. Aria Saleh Nataadiningrat, diganti namanya menjadi R. Tumenggung Pringgalaya dan diangkat sebagai Patih Mangkubumi di Sumenep. Pengangkatan itu berdasarkan pengalamannya memimpin pemerintahan, mulai dari menjadi Adipati Probolinggo sampai Adipati Lasem. Dan memang ada kebiasaan Sulatan Abdurrachman Pakunataningrat, sejak bujang sampai menjadi Adipati Sumenep, selalu keluar daerah untuk menambah ilmu pengetahuannya. Kini, ketika bepergian pemerintahannya diserahkan sepenuhnya kepada R. Tumenggung Pringgalaya, jadi selama sultan Sumenep tidak berada di Sumenep, maka roda Pemerintahan dijalankan oleh Patih R. Tumenggung Pringgalaya.

Sultan Abdurrachman banyak berusaha untuk meningkatkan kemakmuran rakyat Sumenep. Ini dapat dibuktikan pada saat itu, banyak rakyat mulai membangun rumah yang permanen dari batu bata.

Peperangan yang melibatkan pasukan Sumenep pada masa Sultan Abdurrachman antara lain ialah :

  1. Perang Bone di Sulawesi tahun 1825 M, dengan mengirim 2000 orang pasukan Sumenep, naik perahu untuk menyelamatkan mertuanya sendiri. Adipati di Bone.
  2. Perang Diponegoro di Yogyakarta pada tahun 1825 – 1830 M.
  3. Perang Paderi di Sumatera Barat pada tahun 1837 M. Sumenep mengirim 2 kompi pasukan infantri dibawah pimpinan Pangeran Kusuma Senaninggala Suryadingayuda (Pangeran Mariyem) dan 1000 orang pekerja sipil yang dipimpin oleh Pangeran Surya-diputra (Pangeran Adi), juga putera Sultan Sumenep. Dari peperangan itu dapat ditaklukkan kembali ke Adipatian Buleleng, Singa Adipati, Klungkung dan Karangasem. Dalam peperangan itu jenderal Michiels tertembak, sehingga meninggal dunia.
  4. Perang Borneo di Kalimantan pada tahun 1854 M. Sumenep mengirimkan pasukan elitnya sebanyak 150 orang pasukan Sumenep.

Dalam menjalankan pemerintahan dan membina bawahannya, ia selalu mengadkan musyawarah, meminta pertimbangan dan pendapat para sesepuh, dan para ulama, serta orang-orang yang memiliki keakhlian. Apabila bawahannya melakukan kesalahan, Sultan Abdurrachman pakunataningrat tidak langsung marah dihadapan orang banyak.

Keahliannya dalam bidang agama Islam dibuktikan dengan penulisan Al-Qur’an oleh tangan Sultan Abdurrachman Pakunataningrat sendiri yang sampai sekarang Al-Qur’an itu tersimpan di Museum Keraton Sumenep.

 

 

 

  • Pembentukan Barisan

Pembentukan barisan di Madura dibagi beberapa tahap, pertama pada tanggal 4 oktober 1817 M. Setelah Inggris menyerahkan kembali kepada Belanda dengan digaji bulanan 6 gulden. Kemudian dinaikkan menjadi 6 gulden 71/2 stuifer (ketep), dengan mengadakan kontrak mengirimkan dan menyediakan 1080 orang untuk membantu pasukan kolonial di Surabaya. Dalam hal ini tentunya akan meringankan beban keadipatian dan rakyat, karena prajurit keadipatian itu sudah digaji pemerintah kolonial Belanda.

Kedua, dari tahun 1831-1858 M. Adalah tahap pelembagaan barisan secara parmanet. Pada tanggal 30 Agustus, Sumenep menanda tangani kontrak, dibebaskannya mengirimkan 1080 serdadu untuk tentara reguler kolonial, selama dua tahun. Juga dibebaskan penuh dari upeti selama dua tahun. Juga dibebaskan penuh dari upeti selama lima tahun. Sultan Sumenep sangat senang, karena dapat mengurangi beban penderitaan rakyat dan keadipatian, serta mengurangi jumlah pengangguran.

Struktur Barisan tahun 1831 M. adalah sebagai berikut :

  • Staf Perwira :  5 orang,         serdadu                :  2 orang
  • Infateri :  20 orang,       serdadu                :                       845 orang
  • Pasukan Kuda :  4 orang,         serdadu                :                       61 orang
  • Artileri :  4 orang,         serdadu                :                       169 orang
  • Pioner/Pekenir :  4 orang,         serdadu                :                       169 orang

Jumlah keseluruhan Perwira : 37 orang, Serdadu : 1346 orang.

Ketika Sultan Abdurrachman Pakunataningrat sudah berusia lanjut dan sering mengalami gangguan kesehatan, maka direncanakan untuk menyiapkan pengganti Sultan. Pengganti itu harus dari putera isteri padmi yang tertua.

Sultan Abdurrachman Pakunataningrat wafat pada tanggal 31 Maret 1854 M. dalam usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi, satu atap dengan ayahandanya, Panembahan Somala.

 

16

MASA PEMERINTAHAN SUMENEP

SETELAH SULTAN ABDURRACHMAN

  • Panembahan Natakusuma II (1854 – 1879 M)

Ketika Sultan Abdurrachman Pakunataningrat wafat penggantinya yang menjadi Adipati Sumenep, ialah puteranya dari isteri padmi yang bernama : R. Moh. Saleh Natanegara. Setelah menjadi Adipati Sumenep, bergelar Nata Kusuma II. Ia menderita kelumpuhan pada seluruh anggota tubuhnya, sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan dibantu oleh saudaranya sendiri, antara lain :

  1. Pangeran Aria Jakfar Sadik Suryaamidjaya, yang ditunjuk sebagai sekretaris pribadinya. Beliau seorang Pujangga Keraton sehingga tempat tinggalnya dikenal dengan nama : Kampung Bujanggan, Desa Kapanjen Sumenep.
  2. Pangeran Aria Mas’ud Suryaadiputra, ditunjuk mengurus bagian keuangan (bendahara) keraton.

Panembahan Natakusumo II tidak menunjukkan hal-hal yang istimewa. Bahkan pada masa Panembahan isi keraton semakin berkurang, karena diberikan kepada orang-orang yang datang mengunjunginya.

Pada tahun 1857 M. untuk memperkuat kontrol politik pemerintah Kolonial Belanda atas Madura, maka dibentuklah Karesidenan madura dengan ibu kotanya di Pamekasan. Pada tahun 1868 masalah pengaturan irigasi pertanian oleh pemerintah Hindia Belanda diserahkan kepada Panembahan.

Pada tahun 1858-1885 M. adalah tahapan dimulainya perombakan barisan di Sumenep. Perombakan itu membutuhkan waktu sekitar dua dasawarsa. Pada tahun 1882 M bersamaan dengan intruksi penguasa, barisan dirombah menyerupai Barisan Infantri. Pasukan Pioner dan Pasukan Pskikenir di Sumenep ditiadakan. Pada tahun 1885 M. Barisan Sumenep, langsung di bawah administrasi Pemerintah Hindia Belanda. Daftar kontribusi barisan kepada penguasa Hindia Belanda sangat banyak, dan oleh pemerintah Hindia Belanda hal iitu dianggap sebagai loyalitas Adipati-Adipati beserta rakyatnya. Barisan diperbantukan dalam berbagai perang dan ekspedisi untuk melawan pemberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda melihat, bahwa kesediaan orang-orang Madura menjadi barisan merupakan semangat keprajuritan dari orang Madura. Tetapi dalam kondisi tanah pertanian yang miskin, barisan juga merupakan sebuah lapangan pekerjaan yang mendatangkan penghasilan bagi orang-orang yang bergabung didalamnya. Dan yang terpenting dibentuknya barisan merupakan kesempatan untuk melakukan mobilitas sosial, misalnya jabatan staf biasanya direkrut dari bangsawan, sedang jabatan komandan direkrut dari anak atau keluarga dekat para Adipati sendiri.

Disinilah Panembahan Natakusuma II diangkat sebagai Kolonel Tituler dengan mendapat pakaian seragam lengkap dengan tanda pangkat kolonel lengkap dengan pedang dan sepatu. Pada tahun 1875 M. Panembahan ini sempat membantu kolonial Belanda dalam perang Aceh dengan mendapat tanda kehormatan berupa bintang : ”Rider Nederlansche Leauw”. Pengiriman barisan tersebut dilaksanakan, karena barisan telah digaji Pemerintah hindia Belanda. Pada tahun 1968 Adipati-Adipati pribumi yang berhubungan dengan pengadilan dilucuti oleh Belanda. Pengadilan kriminal diminta supaya diambil alih Pemerintah Hindia Belanda.

Pengadilan keraton hanya mengurusi perkata perdata orang Madura yang tidak lebih f.20,-. Keadaan Sumenep tidak aman , maka dibentuklah suatu komisi yang anggota-anggotanya terdiri dari :

  1. Pangeran Aria Suryaamijaya,
  2. Pangeran Aria Suryaadiputra,
  3. Pangeran Aria Suryaningrat,
  4. Pangeran Aria Mangkuadiningrat yang dikenal dengan sebutan Pangeran Mangko atau Pangeran Pako,
  5. Aria Suryakusuma.

Di dalam komisi tersebut juga beranggotakan orang Belanda bernama : L. Andri sebagai administrator dan Mayer sebagai bendara. Dengan dibentuknya Komisi itu, maka rodan pemerintahan berjalan lancar. Adipati hanya sebagai pimpinan formalitas belaka. Para pedagang yang biasa keluar masuk Keraton tidak diperbolehkan lagi berjualan ke dalam keraton.

Kemudian Panembahan Natakusuma II melanjutkan pembangunan Pintu Gerbang Asta Tinggi yang masih belum selesai dikerjakan oleh Sultan Abdurrachman Pakunataningrat. Juga termasuk pembuatan tangga naik di muka pintu gerbang sebagaimana tersebut dalam prasasti tulisan berbahasa Arab dan tulisan Jawa yang dibuat oleh Pangeran Aria Jakfar Sadik Suryaamidjaya. Terjemahan prasasti tersebut sebagai berikut :

”Didalam tulisan prasasti ini mengingatkan padaku, dari adanya bangunan pintu ini kepada orang yang menyempurnakan dan membangunnya, yang mengharapkan dari orang yang menyempurnakan dan meneruskan, maka barang siapa yang ingin (datang) berziarah, kepada yang memiliki kebun/ pemilik, asta ini maka lupa ia tidak melihat prasasti ini pertama kali. Maka untuk kedua kalinya supaya berfikir dalam semua arti/ maknanya niscaya akan mengetahui kepada yang membangun dan yang menyempurnakan dan yang meneruskan. Maka kalau ada yang faham atau mengerti bahasa Arab, maka ini tulisan arabnya. (prasasti). Namun jika tidak mengerti bahasa arab, dipersilahkan melihat tulisan (prasasti) yang ada disebelah kiri. Kiranya jarang orang mengerti terhadap maknya sebab ditulis dengan bahasa jawa (kuno) yang diterangkan saya dari semua maknanya prasasti ini mudah-mudahan Allah SWT., memberi ampunan kepada yang menyalin prasasti ini yang menulis juga yang membantunya dan yang berikan petunjuk bagi orang-orang (yang berziarah pada jalan yang benar). Adapun yang membangun pintu ini, yaitu orang yang berpegang teguh pada Agama Allah, Sultan Pakunataningrat Adipati di negeri Sumenep. Dan adanya beliau berpulang ke Rahmatullah (wafat) sebelum pintu ini selesai sempurna. Adapun setelah Beliau wafa, maka yang melanjutkan atau yang menyempurnakan ialah puteranya (bernama : Panembahan Natakusuma III) salah seorang Adipati di negeri ini, dan penyelesaian pintu ini serta diperbagus dengan sesuatu yang pantas baginya yakni : dengan kapur putih dari tanah rendah, dan menulisnya pada kedua sisinya semata-semata mengharap agar menyenangkan baginya bagi yang melihat atau yang memandang dan untuk menutupi (melindungi) orang yang berziarah dan mau mengamankan dari orang dhalim terdapat peziarah yang berdo’a. Maka bagi orang yang berziarah pada kuburan ini agar bersopan santun (tatakrama) menurut agama islam (syara’) sepertinya bersopan santun kepada pemilik Asta tinggi ini sewaktu masih hidup dan selesainya pintu ini pada tahun 1274 Hijriyah”.

Panembahan Natakusuma II wafat pada tahun 1879 M. Jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi satu kubah dengan ayahnya, Sultan Abdurrachman Pakunataningrat. Setelah Panembahan Natakusuma II wafat, maka penguasa Sumenep digantikan puteranya yang bernama Pangeran Mangkuadiningrat. Kemudian menggunakan gelar Pangeran Pakunataningrat. Ia sebagai pengganti kakak kandungnya yang bernama Pangeran Suryaningrat atau dikenal dengan Pangeran Suring.

 

  • Pangeran Mangkudiningrat alias Pangeran Pakunataningrat (1879-1901 M)

Dengan dihapusnya sistem swapraja di Madura, wilayahnya diperintah langsung oleh pemerintah Hindia Belanda, Kepala Pemerintahan bumi putera diberi pangkat Regent atau Adipati untuk memerintah wilayah Regentschaap atau Kabupaten. Karena mengepalai daerah yang diperintah langsung oleh penjajahnya, Adipati tidak lagi menanda tangani kontrak sebagai ikatan politik. Adipati hanya mendapat beslit atau surat pengangkatan dan harus puas dengan uang gaji tanpa menguasai tanah apanage. Kalau Adipati sebelum itu masih punya kekuasaan sebagai Adipati kecil, sejak saat itu Adipati tak lebih dari pegawai pemerintah kolonial.

Di Sumenep, pelaksanaan perubahan sistem tersebut di atas dilakukan setelah meninggalnya Adipati. Pengganti Panembahan Natakusuma II yang berwafat pada tahun 1879 M tidak langsung diberi kekuasaan berswapraja penuh, tetapi hanya ditunjuk sebagai pejabata Penguasa. Baru pada tahun 1883 M. Ia mendapat surat pengangkatan sebagai Adipati pertama di Sumenep, sejak itu Sumenep merupakan kabupaten yang dikelola langsung oleh Nederland Indische Regering.

Perubahan ini menimbulkan masalah bagi keluarga Adipati dan bangsawan, sehingga menimbulkan kegoncangan, karena penggantian sistem sawap Adipati diikuti penghapusan sistem penguasa tanah apanage untuk kaum bangsawan.

Pada waktu Tuan Krenor, Residen Madura di Pamekasan melakukan kunjungan kerjanya di Sumenep, ia menjumpai Pangeran Pakunataningrat II, dan bertanya : ”Apakah para mantri, dan para pegawai lainnya yang diberi makan Pangeran sama banyaknya dengan di daerah Pamekasan?”.

Pangeran Pakunataningrat II mengatakan dengan sebenarnya, sambil menunjukkan buku dokumen ke Adipatian. Residen tersebut mengatakan bahwa : ”Ini terlalu banyak !”.

Tetapi Pangeran Pakunataningrat memberikan penjelasan, bahwa pelaksanaan tersebut dimulai semenjak leluhurnya, dan ia tidak berani mengubah data yang ada. Menurut Tuan Krenor, untuk mengubahnya pelaksanaan tersebut tidak perlu terlalu banyak mantri dan pegawai, karena akan merugikan Pakunataningrat sebagai Adipati Sumenep.

Menurut Residen Madura lebih baik jumlah mantri dan pegawai dikurangi, termasuk percatonnya. Kalau kelak Pangeran sudah dinaikkan menjadi Panembahan, maka akan dikembalikan lagi seperti semula.

Kemudian Pangeran Pakunataningrat II dinasehati pamannya, Pangeran Aria Suryaamidjaya, dan Pangeran Aris Suryaadiputra, supaya jangan sampai dokumentasi keraton diberikan kepada Belanda, karena didalamnya tersimpan inventaris tanah serta kekayaan Keraton Sumenep, Namun Pangeran Pakunataningrat II tidak menghiraukan atas nasihat pamannya. Kemudian atas hasutan dari salah satu menantunya mengatakan : kalau dokumen tersebut tidak diberikan kepada Belanda, Pangeran Pakunataningrat bisa diberhentikan dari jabatannya. Kalau sudah diberhentikan, maka kemungkinan sebagai penggantinya adalah salah seorang dari paman yang menasehatinya. Hal ini bisa dikategorikan sebagai kudeta terhadap Pangeran Pakunataningrat II.

Setelah buku dokumen Keraton Sumenep, diserahkan kepada Tuan Krenor Residen Madura di Pamekasan, maka Residen tersebut cuti melaksanakan tugas dan pulang kembali ke negeri Belanda. Pangeran Pakuaningrat II tidak bisa meminta kembali dokumen Keraton Sumenep yang dibawa Tuan Krenor. Kemudian pada tahun 1881 M di Sumenep, diadakan Landsmeter, pengukuran tanah dan penetapan penghasilannya sampai ke daerah kepulauan. Para manteri, pegawai dan kerabat keraton merasa gelisah. Mereka khawatir, kalau mengatakan banyak sedikitnya penghasilan yang diperoleh, akan mengakibatkan percatonnya dicabut atau dikurangi.

Pangeran Pakunataningrat II minta maaf kepada paman-pamannya, semua tanah apange dijadikan tanah negara, yang bisa dibagi-bagikan dan diberikan kepada penggarapannya. Pemilik asalnya, hanya dibebaskan dari pajak (dimerdekakan).

Agar tidak menimbulkan gejolak sosial yang membahayakan, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan uang ganti rugi (Personnlijke Envevresmdbare Schadeloostelling). Uang ganti rugi itu, kemudian diganti menjadi tunjangan bangsawan (Onderstand San madurese Adlijken) yang jumlahnya makin lama, makin berkurang, dan beberapa tahun kemudian sebagian ditiadakan. Pada tahun 1879-1884 Pangeran Pakunataningrat ditetapkan sebagai wakil Adipati Sumenep. Kemudian tahun 1884 mendapatkan surat pengukuhan (beslit) sebagai Le Regent di Sumenep.

Akibat dari pengukuran tersebut tanah apanage ditiadakan. Pencabutan tanah apanage bagi para kerabat keratin ditetapkan dengan surat keputusan pemerintahan Hindia Belanda (Regeerings Besluit) tanggal 18 Oktober 1883 No. 5/c dengan pergantian uang sebesar f. 139.310,-setiap tahun. Didalam surat ketetapan tersebut disebutkan, bahwa jumlah uang tersebut diwariskan kepada putera, cucu dan keturunan berikutnya. Sejak zaman itu Adipati, menteri-menteri, pegawai-pegawai, lainnya digaji oleh pemerintah Hindia Belanda.

Semua tanah milik kaum bangsawan diukur, diiventaritisir, dan dikuasai langsung oleh pemerintah Hindia Belanda. Kaum bangsawan mendapat tunjangan setiap bulannya sebagai ganti rugi atas penghasilan tanahnya. Tunjangan tersebut dikenal dengan nama atas : Onderstand, yang nilainya cukup tinggi, lebih dari memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup para bangsawan. Khusus Adipati, setiap bulan mendapatkan onderstand sebesar f.1.000,-. Sedangkan onderstand yang diberikan kepada 30 orang putera Adipati masing-masing f.70,- kalau jadi pegawai akan dicabut.

Namun kalau bangsawan itu bekerja, justru akan menerima gaji lebih dari pada onderstand yang diterimanya. Dengan kondisi demikian, maka kehidupan kaum bangsawan sepertinya diistimewakan, namun secara tidak langsung membuat keluarga bangsawan menjadi malas, suka berfoya-foya, dan menganggap remeh pada pendidikan bagi generasi mudanya.

Ninabobo kaum penjajah Belanda ini akhirnya membawa keluarga kaum bangsawan pada kondisi kehidupan yang tragis, tanah sebagai jaminan hidup telah tiada, dan onderstand telah dicabut, meskipun sempat dilanjutkan oleh Pemerintah R.I., namun nilainya tidak seberapa. Di pihak lain kaum bangsawan tidak memiliki keterampilan yang memadai, karena sudah terlanjur meremehkan dunia pendidikan. Kehidupan kaum bangsawan yang mulanya penuh gemerlap, kemudian berubah suram dilanda kemurungan.

Maka rumah-rumah para pangeran banyak yang tidak terawat dengan baik, bahkan kemudian dijual kepada pihak lain, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Permasalahan tersebut di atas perlu mendapatkan penanganan, baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk menuntut partisipasi dan dukungan dana ganti rugi dari Pemerintah KeAdipatian Belanda. Karena kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang menyebabkan kesengsaraan hidup bangsawan setelah hak atas tanah apanage diambil alih dan dirampas haknya untuk menjadi pegawai pada zaman penjajahan.

Pada tahun 1900 M. di Sumenep, mulai dibangun irigasi pertanian. Beberapa saluran irigasi yang sudah ada sejak masa keAdipatian, kini dibangun kembali. Di sekitar kota, kanal Karangpanasan, dibangun dari sungai Parsanga menuju laut, untuk membebaskan Kota dari ancaman banjir. Sumenep mempunyai pola irigasi tersebar di Pulau Madura. Dam dibangun di Desa Banjar dan Braji, Kecamatan Gapura.

Setelah Pangeran Mangkuadiningrat atau Pangeran Pakunatanigrat II wafat, jenazahnya dimakamkan di Asta Tinggi. Kemudian sebagai pengganti diangkat puteranya yang bernama R. Tumenggung Aria Pratamingkusuma yang sebelumnya menjabat sebagai Patih di Sampang, Madura.

 

  • Pangeran Aria Prataningkusuma (1901 – 1926 M.)

Setelah Pangeran Mangkuadiningrat atau Pangeran Pakunataningrat pensiun, maka putranya yang bernama Pangeran Ari Pratamingkusuma diangkat sebagai penggantinya, dengan menggunakan gelar Raden. Tumenggung Aria Pratamingkusuma.

Pada waktu R. Tumenggung Aria Prataningkusuma menjabat sebagai Adipati Sumenep, ia membangun sebuah menara di Mesjid Jamik Sumenep, yang ditempatkan disebalah barat (belakang mesjid). Juga ia melaksanakan pembangunan jalan (rel) kereta api tahun 1897-1901 M. Yang menghubungkan Kamal sampai ke Kalianget Timur. Jaringan komunikasi banyak mengalami perubahan, dengan adanya jalan kereta api yang dibangun oleh Madura Stroomt Maatschappy. Panjang keseluruhan jalan Kereta api dari Kamar sampai ke Kalianget adalah 191 Km.

Untuk menunjang dan menambah sarana trasportasi, dan memperlancar jalannya perekonomian rakyat, serta menambah jaringan komunikasi, maka diadakan juga transportasi kapal laut, dari Kalianget menuju Panarukan (Situbondo).

Lambannya perkembangan pendidikan umum di zaman penjajahan Hindia Belanda, tidak mengganggu kemajuan pendidikan Agama di Sumenep. Karena rasa taat pada Agamanya, penduduk Sumenep memperoleh pendidikan islam sejak usia dini. Pelaksanaan pendidikan ditempuh melalui pengajian di langgar, musholla dan di mesjid, di setiap perkampungan. Di situ anak-anak belia belajar membaca Al-Qur’an, tulis menulis, serta dasar-dasar fikih Islam dan ilmu tauhid.

Peningkatan pendidikan tidak diharapkan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena pendidikan dapat meningkatkan kesadaran politik, dan kesadaran akan keterbelakangan bangsanya akibat penjajahan. Kesadaran politik ini ditandai dengan banyaknya orang Madura yang merantau keberbagai pulau tergabung dalam Jong Java (Pemuda Jawa), yang semula bernama Trikara Darma. Perhimpunan ini merupakan bagian kepemudaan ”Budi Utomo” yang berbau Jawa, tetapi kemudian diperluas mencakup Pemuda Jawa, Sunda dan Madura.

Banyak pula pemuda Madura yang bergabung ke dalam gerakan nasional ”Yong Islamietan Bond” (Persatuan Pemuda Islam). Gerakan politik seperti Yong Islamietan Bond dan Serikat Islam yang berdasarkan keagamaan di Madura memang cepat mendapat dukungan dan pengikut yang luas. Oleh orang Madura pada waktu itu, pendiri Serita Islam H.O.S. Cokroaminoto di anggap sebagai Malaikat penyelamat, terhadap tindakan Pangreh Praja.

Dukungan itu, seperti tercermin dari luapan perasaan Residen Madura yang menyatakan dalam laporannya : ”Selama 15 tahun terakhir di Madura tenang seluruhnya. Rakyat disini tidak hanya memerlukan tangan keras, tetapi bahkan menghargai sikap ini. Karena itu janganlah mereka diberi mainan yang berbahaya seperti Serikat Islam ini”.

Luapan perasaan Residen Madura tersebut di atas, mengakibatkan gerakan Serikat Islam dihambat perkembangannya. Sekalipun dihalangi dengan keras, gerakan ini dapat berkembang dengan pesat. Dua tahun sesudah berdirinya, Serikat Islam berhasil menanamkan pengaruhnya dikalangan orang Madura. Pusat perwakilan Partai Politik ini terbentuk di Sampang (1911 M), Sepudi (1913 M), Bangkalan (1914 M), Sumenep (1914 M), Pamekasan (1914 M) dan Prenduan (1916 M). Hampir seluruh pengurus cabangnya mempunyai gelar kebangsawanan sedangkan sisanya merupakan Haji dan Kiyai. Dipakainya Islam sebagai landasannya menyebabkan partai ini mampu ikut menanamkan rasa nasionalisme dikalangan anggotanya.

Menjelang tahun 1920 M. Serikat Islam mengalami kemunduran, dan segera diisi oleh gerakan Muhammadiyah. Gerakan pembaharuan agama berasaskan kesosialan ini mencoba menggalakkan pemeluk Islam untuk kembali ke ajaran murni ialah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dihimbau pula agar perbuatan bid’ah yang tidak disunahkan Nabi Muhammad SAW segera dijauhi. Banyak kaum cerdik cendikiawan Madura yang segera menerima ajaran ini.

Sebagian besar massa yang memilih bertaklid pada para Ulamanya di Pesantren, pada tahun 1926 M mendapatkan wadah penampung aspirasinya dalam gerakan Nahdlatul Ulama.

Peningkatan kesadaran politik yang menumbuhkan sikap, bahwa semua penduduk pribumi nusantara merupakan anggota suatu bangsa yang sama. Ini menyebabkan diterimanya anggapan bahwa orang-orang Madura hanyalah merupakan salah satu sukubangsa pendukung suatu bangsa yang besar.

Pada tahun 1922 M. Pemerintah Hindia Belanda melakukan reorganisasi administrasi desa, kemudian membentuk Dewan Desa, tetapi tak banyak mencapai kemajuan di Madura. Semua reorganisasi tersebut dimaksudkan untuk membantu persoalan-persoalan di desa, namun kenyataannya justru semakin mengekang kekuasaan kalebun (Kepala Desa). Para pejabat desa di Madura, menganggap pembaharuan itu tidak cocok, karena Kalebun dibuat tidak berdaya.

  1. Tumenggung Aria Pratamingkusuma sudah tua, sudah waktunya memasuki masa pensiun. Maka sebagai penggantinya ialah puteranya yang bernama : R. Tumenggung Aria Prabuwinata, yang sebelumnya menjabat patih di Sampang. Satu tahun kemudian ayahnya, R. Tumenggung Aria Pratamingkusuma wafat. Jenazahnya di makamkan di Asta Tinggi.

 

  • Tumenggung Aria Prabuwinata (1926 – 1930 M)

Pada tahun 1926 M, R. Tumenggung Aria Prabuwinata diangkat sebagai Adipati Sumenep oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu ia menjabat sebagai Adipati Sumenep tidak ada perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat, karena ia hanya 4 tahun lamanya menjabat Adipati Sumenep. Kemudian pada tahun 1930 M. Ia meninggal dunia.

Pada masa pemerintahannya, R. Tumenggung Aria Prabuwinata hanya sempat mengubah pagar tembok Mesjid dan Keraton di bagian depan, dengan pagar besi. Perubahan tersebut mengundang reaksi dari para sesepuh, ahli waris pewakif, karena tidak melalui musyawarah. Reaksi dari para sesepuh dan keluarga keraton tersebut karena pembangunan pagar tembok di sekeliling masjid bertujuan agar ummat Islam yang melakukan shalat dan mendengarkan khotbah bisa berkonsentrasi.

Sampai disinilah dinasti R. Moh. Saud (Bendahar Moh. Saud) alias R. Tumenggung Tirtanegara (Adipati Sumenep : 1750 – 1762 M) sesuai dengan ramalan K. Abd. Rachman (kakeknya) yang dikenal dengan sebutan Kyai Raba Pamekasan, K. Abdullah (Bendahara Bungso) Batuampar-Sumenep (ayahnya sendiri) dan paman termasuk pula gurunya yang bernama : Kyai Fakih Lembung Barat (Sumenep).

Kemudian Adipati Sumenep digantikan oleh R. Tumenggung Aria Samadikun Prawataadikusuma, yang sebelumnya menjabat patih di Sumenep. Ia berasal dari keturunan Kanoman Surabaya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agil, RB. Ahmad Rifa’ie, 2002, ”Riwayat Singkat Raja-Raja Sumenep dan Peninggalannya”, Sumenep : ………..

Berg, C. C., 1930 ”Kidung Ranggalawi”, Weltevreden – Albrecht.

Berg, C. C., 1931 ”Kidung Harsa Wijaya”, Gravenhage – Martinus Nijhoff.

Brahmantyo, Gunadi, 1982, ”Struktur Pemerintahan Daerah di Madura di Bawah Pengaruh Kasultanan Mataram”, Makalah untuk Seminar/ Lokakarya Penelitian Sosial Budaya Madura, Malang : Jurusan Sejarah dan Antropologi FPIPS IKIP Malang.

De Graaf, HJ, Pigeaud, ………., ”Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (Peralihan dari Majapahit ke Mataram)”, Jakarta : Grrafitipers.

De Graaf, HJ. 2002. ”Puncak Kekuasaan Mataram Politik Ekspansi Sultan Agung”, Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti.

Dhofier, Z. 1985.ed.4. ”Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai”. Jakarta : LP3ES.

Gonggong, Anhar (Ed.) 1993. ”Sejarah Kebudayaan Jawa”. Jakarta : Depdiknas.

Hadiwidjojo, Raden Soenarto. 1956. ”Raden Truno Djojo Panembahan Maduratna”. Pamekasan.

Jor, Liem Thian. 1933, ”Raden Semarang ; Dari Jaman Sam Poo sampai Terhapusnya Kongkoan”, Semarang-Batavia : BoeckhandeHoKiem Joe.

Jonge, H de. 1989. ”Agama Kebudayaan dan Ekonomi ; Studi-Studi Intredisipliner Tentang Masyarakat Madura”. Jakarta : Rajawali Press.

Koentjaraningrat, 1994, ”Kebudayaan Jawa” Jakarta : Balai Pustaka.

Mangkudimedja, RM dan Hardjana HP, Drs, 1997, ”Serta Peraraton Ken Arok 2”, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mulyana, Slamet, 1965, ”Runtuhnya Keradjaan Hindu Djawa dan Tumbuhnja Negara 2 Islam di Nusantara”. Jakarta : Bhratara.

Mulya, Slamet, 1979, ” Nagara Kertagama dan Tafsirannya”, Jakarta : Bhatara Karya Aksara.

Mulya, Slamet, 1983, ”Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit Inti”, Jakarta : Idayau Press.

Notosusanto, 1972. ”Sejarah Nasional Indonesia”

Padmapuspita, Ki. J., 1956, ”Pararaton” Teks Terjemahan dari Bahasa Kawi ke Bahasa Indonesia, Yogyakarta : Penerbit Taman Siswa.

Rahman, Abd. Drs, 1973, ”Peranan Madura Menuju Puncak Kekuasaan Kerajaan Majapahit”, Sumenep : The Sun.

Ricklefs, M.C., 1999. ”Sejarah Indonesia Modern”. Yogyakarta : UGM Press.

Rifai, Mien A. 1993. ”Lintasan Sejarah Madura”. Surabaya : Yayasan Lebbur Legga.

Werdisastro, 1921, ”Bhabhad Songennep”, Jakarta : Balai Pustaka.

Zainalfattah. 1951. ”Sedjarah Tjaranya Pemerintahan di Daerah-Daerah di Kepulauan Madura dengan Hubungannya”. Surabaya : Paragon Press.

Zuhri, Syaifuddin KH. 1981, ”Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangan di Indonesia”. Bandung.

 

 

Lampiran I

 

ASAL – USUL BENDARA SAUD

 

  1. Raden Patah dan R. Husen

Para ahli sejarah beranggapan, bahwa Bendara Saud adalah seorang penyabit rumput dari Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng.

Raja Majapahit terakhir, Prabu Alit Brawijaya VI mempunyai dua orang istri : Pertama, Dwarawat berasal dari Campa (sekarang Kamboja) bibi dari R. Rahmatullah (Sunan Ampel).

Kedua, Indrawati cucu dari H. Gen Ing Gu yang beragama Islam aliran Mazhab Hanafi, adalah putri keturunan Cina. Liem Thian Joe dalam ”Riwayat Semarang” menjelaskan, bahwa pada abad ke-15 orang Cina yang pergi merantau mereka memperisteri perempuan Jawa, sehingga kemudian banyak melahirkan warga keturunan, yang kemudian banyak melahirkan warga keturunan, yang kemudian dikenal dengan putri Cina. Tahap pertama proses assimilasi antara Cina perantauan dengan wanita pribumi melalui perkawinan. Tahap kedua, proses asssimilasi terjadi melalui pemerian nama yang memakai bahasa Jawa. Asimilasi tahap ketiga, ialah dipergunakannya bahasa Jawa dan Madura sebagai bahasa ibu, sebagai bentuk assimilasi dan pergaulannya dengan masyarakat Jawa.

Indrawati dalam keadaan hamil tiga bulan, mengajukan perceraian kepada Prabu Alit Brawijaya VI, karena tidak mau dimadu. Tetapi Prabu Alit Brawijaya VI tidak mau menceraikan, dan Indrawati dititipkan kepada Aria Dilah atau Aria Damar, Penguasa di Palembang. Kemudian Indrawati melahirkan, dan bayi dilahirkannya diberi nama Jimbun (orang kuat). Indrawati diceraikan oleh Prabu Alit Brawijaya VI. Setelah bercerai, kemudian Indrawati kawin dengan Aria Dilah (Aria Damar) dan mempunyai seorang putra bernama : Kiem San (Gunung Emas).

Ketika beranjak dewasa, Jim Bun dan Kiem San diperintahkan untuk pergi ke Pulau Jawa guna menuntut ilmu kepada Sunan Ampel. Di Pesantren Sunan Ampel, mereka menuntut ilmu. Kemudian oleh Sunan Ampel, Jim Boen diganti namanya menjadi R. Patah, sedangkan Kiem San diganti namanya menjadi R. Husen. Setelah cukup menuntut ilmu kepada Sunan Ampel, mereka kemudian menghadap Prabu Alit Brawijaya VI. R. Patah ditunjuk dan ditetapkan sebagai Raja Bintara (Demak), sedangkan R. Husen ditunjuk dan ditetapkan sebagai Raja Terung (Sidoarjo).

  1. Patah kawin dengan Syariah Dewi Malaka, puteri dari Usman Haji atau keponakan dari R. Rachmatullah Sunan Ampel. Syarifah Dewi Malaka memiliki hubungan saudara dengan R. Ayu Nugraha Jambaringan (Proppo) Pamekasan, Sayyid Susuhan Paddusan (Putera Mantu P. Jakatole), dan Sunan Undung.

Perkawinan R. Patah dengan Syarifah Dewi Malaka mempunyai putera R. T. Kanduruan (Adipati Sumenep 1559 – 1562 M). R. Tumenggung Kanduruwan kawin dengan puteri R. Husen – Raja Terung, dan mempunyai putera P. Wetan dan P. Lor (Adipati Sumenep 1952 – 1567 M).

  1. Lor tidak mempunyai isteri, sedangkan R. Banten Alias P. Wetan memiliki dua orang istri, yaitu : pertama, Ratna Taluki (Istri Padmi) puteri dari pangeran Nugroho alias Panembahan Bonorogo. Kedua, Puteri dari Siding Puri (R. Wanabaya).

Perkawinan P. Wetan dengan Ratna Taluki, mempunyai putera bernama R. Rajasa, sedangkan perkawinan dengan isteri keduanya mempunyai putera bernama R. Geduk. Kedua anak itu kemudian diasuh oleh P. Lor.

Kemudian R. Rajasa menjadi Adipati Sumenep 1574 – 1599 M. dengan diberi gelar P. Lor II, sedangkan R. Geduk menjadi Adipati Sumenep 1567 – 1574 M, dengan diberi gelar P. Wetan II.

  1. Rajasa (P. Lor II) kawin dengan Dewi Susila (Puteri dari R. Ilyas alias P. Batu Putih) dan mempunyai dua orang putera, antara lain : R. Abdullah Alias P., Cakranegara I Adipati Sumenep 1589 – 1626 M, dan Mas Gada.

 

  1. Asal-Usul Dewi Asri Isteri R. Pandiyan
  2. Piturut atau Pangeran Mandaraga, Adipati Sumenep 1331 – 1339 M. kawin dengan Nyai Ketel dari Giri. Dari hasil perkawinannya, mereka dikaruniai dua orang putera, antara lain : R. Natapraja (Pangeran Bukabu) Adipati Sumenep 1339 – 1348 M. yang kemudian banyak menurunkan para ulama, serta R. Nataningrat atau Pangeran Baragung, Adipati Sumenep 1348 – 1358 M.

Pangeran Baragung mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama R. Agung Rawi Secadiningrat I yang kemudian mempersunting anak perempuan dari R. Natapraja alias P. Bukabu, bernama Retna Sarini. Pemimpin ini mempunyai putera Tumenggung Gajah Pramodo, yang kemduian mengganti ayahnya memimpin Sumenep dengan gelar Pangeran Secadiningrat II. Ia mempunyai seorang patih bernama Jayasinga, tempat keratonnya ada di Banasareh.

Secadiningrat II beristeri anak perempuan dari R. Aria Bratasari, beliau mempunyai anak perempuan bernama Puteri Saini alias Potre Koneng. Sedangkan R. Natapraja alias Pangeran Bukabu, mempunyai tiga orang putera yaitu : R. Andasmana alias K. Rawan (Irawan), R. Astaman, dan Retna Sarini.

  1. Andasmana alias Rawan (Irawan) mempunyai putera bernama R. Kumbakara (K. Sendir I). Setelah menikah, R. Kumbakara mempunyai putera bernama K. Abd. Rachem (K. Sendir II).
  2. Abd. Rachem mempersunting puteri K. Gunung Glugur Kecamatan Kota Sumenep, dan mempunyai putera bernama K. Abdullah Sendir Kecamatan Lenteng.
  3. Abdullah alias K. Sendir III mempunyai putera, antara lain : R. Abd. Rachman alias K. Raba Pademawu Pamekasan dengan seorang isteri bernama Nyai Kebun Puteri dari K. Abdullah Modin Tedja Pamekasan. Perkawinan mereka tidak mempunyai keturunan. Setelah meninggal dunia K. Abdullah dimakamkan di Raba Padamawu Pamekasan.

Dewi asri isteri dari R. Pandiyan alias K. Abd. Kidam, mempunyai putera bernama R. Abdullah alias K. Abdullah (Bindara Bungso). Sejak kecil R. Abdullah Bendara Bungso diasuh oleh pamannya, yaitu K. Abd. Rachman alias K. Raba Pamekasan. Sejak kecil R. Abdullah atau Bendara Bungso diasuh dan dididik dan diberi ilmu pengetahuan agama oleh K. Abd. Rachman (K. Raba) Pamekasan. R. Abdullah dikenal sangat cerdas dan pintar, sehingga disegani oleh santri-santri yang lain. Bahkan karena kecerdasannya, ia sering dipercaya mewakili pamannya (K. Abd. Rachman atau K. Raba) untuk memberi pelajaran Agama.

Setelah Bindara Bungso beranjak dewasa, diperintahkan oleh K. Raba untuk membuka Perguruan Agama Islam (Pesantren) di Desa Batu Ampar Timur Kecamatan Guluk-Guluk.

  1. Abdullah Bindara Bungso mempunyai dua orang isteri, yaitu pertama bernama : Nyai Kursi Dari hasil pekawinannya dikaruniai 5 orang anak, antara lian Kyai Saba di Batu Ampar, Nyai Tanjung di Batu Ampar, Kyai Bandungan, Nyai Tengnga, dan Bendara Hasan. Kedua, bernama Nyai Narima. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 3 orang anak, yaitu Nyai Talaga, Nyai Kadungdung, dan Bindara Moh. Saud.

 

  1. Asal – Usul Nyai Kursi Isteri R. Abdullah (Bindara Bungso)

Nyai kursi merupakan puteri dari K. Bayan, secara geneologis memiliki hubungan kekerabatan dengan Maulana Syech Ainul Yakin atau Sunan Giri di Gersik. Perkawinan Sunan Giri dengan Dewi Murtasiyah puteri dari R. Rachmatullah (Sunan Ampel) Surabaya mempunyai putera bernama Panembahan Kulon.

Panembahan Kulon memiliki puteri bernama Gede Kedatun, yang kemudian dipersunting Sunan Mufti. Perkawinan antara Gede Kedatun dengan Sunan Mufti memiliki putera beranama Kyai Cendana Kwanyar, Bangkalan. Dari perkawinannya Kyai Cendana Kwanyar mempunyai dua orang putra, yaitu : Kyai Zis ke Desa Barambang Kalimook Kecamatan Kalianget. Dan Kyai Hakimudin Gede Mataram mempunyai putera dua orang bernama : Kyai Abdullah Modin Tedja, Bacorong Pamekasan dan Kyai Bayan Baru Pamekasan.

 

  1. Asal – Usul Nyai Narima Isteri dari R. Abdullah (Bindara Bungso)
  2. Piturut alias Pangeran Mandaraga, mempunyai putera R. Natapraja alias Pangeran Bukabu, dan R. Nataningrat alias Pangeran Baragung. R. Natapraja alias Pangeran Bukabu mempunyai putera Kyai Astamana. Setelah Kyai Astamana menikah mempunyai dua orang putera yaitu Kyai Abdullah alias Gunung Gelugur Kecamatan Kota Sumenep, dan Kyai Ali, Talang Parongpong Kecamatan Rubaru.

Kyai Ali Talang Parongpong mempunyai putera Kyai Hatib Bangil Parongpong, kemudian menikah dengan Dewi Salamah puteri dari K. Abdullah Modin Teja Bacorong Pamekasan. Dari perkawinannya mereka dikaruniai tiga orang anak, antara lain Nyai Narima (Nuriyam) isteri dari R. Bendara Bungso, Desa Batu Ampar Kecamatan Guluk-Guluk. Anak yang kedua Nyai Galu isteri dari Kyai Jalaludin, dan ketiga Kyai Fakih (K. Pekke) Lembung Barat Kecamatan Lenteng.

 

  1. Asal – Usul (Silsilah) dari Nyai Izza Isteri dari R. Moh. Saud (Bendara Saud)

Sayyid Jakfar Sadik atau Sunan Kudus, mempunyai putera bernama Panembahan Pakaos. Dari pernikahannya Panembahan Pakaos mempunyai putera bernama Sayyid Achmadul Baidawi atau Pangeran Katandur.

Sayyid Achmadul Baidawi mempunyai beberapa orang anak, dan yang cukup dikenal masyarakat antara lain Hatib Paranggan, Hatib Padusan, dan Hatib Sendang.

Hatib Padusan mempunyai anak antara lain Kyai Moh. Ali Barambang Desa Kalimook Kecamatan Kalianget, dan Nyai Djeddir Desa Lembung Barat Kecamatan Lenteng. Nyai Djeddir kawin dengan K. Abdullah (K. Nengngah) Nginbungin Kecamatan Dungkek. Putera dari hasil perkawinan Kyai Wangsadikara dari Mataram kawin dengan Nyai Berek puteri dari Hatib Baranggan.

Perkawinan K. Abdullah (Kyai Nengngah) dengan Nyai Djeddir mempunyai putera Kyai Djalaludin. Ia kemudian kawin dengan Nyai Galu dan mempunyai puteri bernama Nyai Izza (Saudara sepupu Bendara Saud, yang kemudian menjadi istrinya).

Berdasarkan garis keturunan yang diurainkan sebelumnya jelas, bahwa R. Moh. Saud dengan Pangeran Mandaraga Adipati Sumenep 1331 – 1339 M, R. Fatah Raja Demak 1478 – 1518 M, R. Rachmatullah (Sunan Ampel Surabaya), R. Santri (Syech Ali Murtada = Raja Pandhita Gersik), Sunan Djakfar Sadik (Sunan Kudus), dan Sunan Ainul Yakin (Sunan Giri Gersik).

Ketika Bendara Moh. Saud masih berumur 6 tahun, oleh ayahnya, R. Abdullah diserahkan kepada pamannya Kyai Fakih atau Kyai Pekke untuk dididik dan diberi pelajaran ilmu agama Islam.

Kyai Fakih atau Kyai Pekkeh dikenal sebagai alim ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Lembung Barat Kecamatan Lenteng . Pada masanya Kyai Fakih atau Kyai Pekkeh juga dikenal sebagai budayawan. Bahkan ia pernah memberi pelajaran Gending-Gendung di Yogyakarta.

Bendara Moh. Saud selama menjadi santri dikenal sebagai santri yang sangat cerdas, dan pintar sehingga ia sangat disayangi pamannya dan disegani santri yang lain. Karena kecerdasan dan kepintarannya kemudian ia diangkat sebagai pemimpin di Sumenep.

Setelah Kyai Fakih atau Kyai Pekke wafat pada bulan Ruwah 1101 H, maka R. Moh. Saud Bendara Moh. Saud sebagai pengasuh dan Guru Agama di Pondok Pesantren Lembung Barat. Ia sangat disegani oleh santri-santrinya, dan dikenal ahli dalam ilmu agama Islam, terutama Ilmu Tauhid. Hidupnya dikenal sangat sederhana. Untuk bepergian ke luar Desa Lembung Barat, seringkali ia menyamar sebagai penyabit rumput. Ia selalu membawa tempat rumput dari daun kelapa (gerunju-bahasa Madura), dan selalu memakai sandal dari kayu (peccak Bahasa Madura).

Langgar Kyai Pekke yang ditempati shalat dan tidur oleh Santri, sekarang sudah dibangun dan diubah menjadi Masjid Lembung Barat Kecamatan Lenteng. Sedangkan tempat air wudhu’ (Paddasan-Bahasa Madura), sampai sekarang masih belum mengalami perubahan terdapat di sebelah timur Pemakaman Kyai Pekke. Sedangkan di arah barat, letak pemakaman Nyai Ceddir dan Nyai Izza. Pemakaman tersebut perlu mendapat perbaikan karena sudah mengalami kerusakan.

 

Lampiran II

 

GELAR TITEL YANG DIPAKAI DI SUMENEP

 

Buku babat banyak menerangkan mengenai penggunaan gelar di kalangan bangsawan. Namun ada beberapa gelar yang dikenal, asalnya bukan merupakan gelar bangsawan. Misalnya, penggunaan gelar “Aria” sebenarnya bukan menerangkan gelar dari seseorang, melainkan menerangkan kebangsaannya. Arioers, menunjukkan asal bangsa ini datang ketanah jawa. Tanah (Landscbap) Aria terletak di daerah sungai Gangga di Hindustan (India).

Gelar “Panji”. Kata panji berarti bendera, maka pemegang bendera didalam peperangan disebut dengan perkataan pendek saja, yaitu Panji. Apabila orang itu bertitel Raden, maka disebut Raden Aria Panji. Pada zaman itu, apabila orang menjadi pemegang Panji (bendera) di medan peperangan, dianggap sebagai orang pemberani, karena panji-panji itu harus terlihat di benteng pertahanan musuh untuk menunjukkan ahwa musuh telah ditaklukkan.

“Raden”, merupakan gelar kebangsawan, berasal dari kata “Rah-hadi” (darah baik). Sebagian dari bangsa Arab, menganggap perkataan Raden asalnya dari bangsa Arab, menganggap perkataan Raden asalnya dari bahasa Arab “Radda”, yang berarti kedudukan yang berasal dari kebaikan atau ketinggian.

Kemudian gelar “Kyai” bukan semata-mata merupakan gelar, aan tetapi merupakan sebutan ke-istimewaan saja. Pada waktu terjadi percobaan pembunuhan oleh R. Purwanegara terhadap R. Moh. Saud (Bendara Moh. Saud), Peristiwa yang kemudian mengakibatkan terbunuhnya R. Purwanegara ditagan K. Sawunggaling. Karena mengundang pro dan kontra, maka oleh Ratu Ayu Rasmana Tirtanegara diinstruksikan kepada tidak setuju adanya peristiwa tersebut, supaya pulang ke daerah asalnya, ialah Pamekasan dan Sampang, dengan menanggalkan gelar kebangsawanannya, dan diperkenankan memakai gelar Kyai. Sedangkan bagi yang setuju supaya tetap tinggal di Sumenep. Setelah R. Moh. Saud (Bendara Moh. Saud) menjadi Adipati Sumenep, maka ingat kepada peristiwa tersebut, dan kemudian mengambil langkah-langkah antara lain :

  1. Memasyarakatkan Rasa malu, karena merupakan mata dari akal, dan termasuk bagian dari iman
  2. Mengubah gelar kebangsawanannya yang asalnya Rah-hadi (darah baik) yang disingkat menjadi Raden, diganti kedala bahasa Arab : Radin, sehingga mempunyai arti : merupakan do’a dan harapan agar keturunannya kelak akan menjadi orang sesuai dengan nama dan gelar yang dipakainya, Radin sesungguhnya singkatan dari bahasa Arab: “Roo-a din” artinya Roo’a = melihat, sedangkan Addin = Agama. Roo’adin atau Radin dapat diartikan Penjabaran dari Prilaku pemakainya selalu melihat dan berpedoman kepada agama. “Panji” asal kata arabnya ialah : fanji, artinya Penyelamat. Jadi Radin Panji, ialah prilakunya selalu melihat dan berpedoman pada norma-norma agama, dan mudah-mudahan menjadi orang penyelamat.

“Bagus” artinya : Penolong, jadi Radin Bagus arinya : Prilakunya selalu melihat dan berpedoman kepada norma-norma agama, dan menjadi orang penolong.

Jadi pemakaian gelar tersebut diatas, merupakan do’a dan harapan dari leluhur/orang tua agar keturunannya/anaknya kelak menjadi orang yang sesuai dengan nama gelarnya.

Bagi para ulama keturunannya, maka santri-santrinya menganggap bahasa jawa ndra (majikan, lorah, tuan, gusti) sedang putera dari ulama/guru tersebut disebut Bendara, merupakan perpaduan bahasa Arab dan Jawa. Bin mempunyai arti : anak laki-laki, sedang ndara mempunyai arti majikan (gusti, lorah, tuan) istilah ini masih tetap dipakai didaerah Madura , Jawa ( Situbondo, Besuki dan lain sebagainya) namun sebagai penghargaan dari para Ulama/guru, santri-santrinya dianggap anak, sehingga pada santri juga disebut Bindara, jadi para santrinya dianggap anak oleh para Ulama (Kyai / Guru ).

 

Lampiran III

 

NILAI FILOSOFI KERATON

DAN MASJID JAMIK SUMENEP

 

Keraton Sumenep berdiri diatas tanah milik pribadi Pangeran Natakusuma alias Panembahan Somala (di sebelah timur keraton lama milik Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara. Di depan keraton, ke arah selatan berdiri Pendopo Agung, dan di depannya berdiri Gedong Negeri yang didirikan oleh Pemerintah Belanda. Pembangunan Gedong Negeri itu, untuk menyaingi kewibawaan Keraton Sumenep, karena disinyalir oleh mata-mata Belanda bahwa Adipati Sumenep sering mengadakan rapat rahasia dengan para pejabat-pejabat yang menentang Belanda.

Disebelah timur Gedong Negeri tersebut berdiri pintu masuk Keraton Sumenep, yang disebut Labeng Mesem. Di pintu gerbang itu para penjaga bersikap rama-tamah kepada para tamu, sehingga para tamu selalu tersenyum. Di bagian pojok disebelah timur bagian selatan berdiri Taman Sare (tempat pemandian putera-puteri Adipati). Sedangkan di halaman belakang keraton sebelah timur berdiri dapur, sebelah barat berdiri sisir ( tempat tidur para pembantu keraton, emban, dayang-dayang puteri Adipati), di sebelah barat terdapat sumur. Di depan sumur agak ke arah barat berdiri Keraton Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara, dan di depannya berdiri pendapa. Tetapi di jaman pemerintahan Sultan Abdurrachman pendapa tersebut dipindahkan ke Asta Tinggi dan disitu didirikan Kantor Koneng. Di sebelah selatan Kantor Koneng, dipojok sebelah barat pintu masuk berdiri pendapa (paseban).

Pada mulanya antara keraton dengan Pendapa letaknya terpisah. Namun pada masa pemerintahan Sultan Abd. Rachman Pakunataningrat, kedua bangunan tersebut dijadikan satu deret. Di sebelah selatan Taman Sare berdiri Pendapa atau Paseban dan sekarang dijadikan toko Souvenir. Di sebelah selatan keraton terbentang jalan menuju Masje Jamik (ke arah barat), sedangkan ke arah timur menuju jalan Kalianget. Di sebelah timur Keraton adalah perkampungan, dan di arah timur jalan adalah Kampong Patemon. Artinya tempat pertemuan aliran air taman keraton dan aliran-aliran air taman milik rakyat dan taman lake’ (tempat pemandian prajurit keraton). Aliran air itu kemudian disalurkan ke kali Marengan. Dari jalan Dr. Sutomo ke arah timur terdapat jalan menurun, sebelum tikungan jalan berdiri pintu gerbang keluar atau Labang Galidigan. Di sebelah barat pintu keluar terdapat jalan menurun, bekas undakan tujuh.

Di sebelah selatan jalan undakan terdapat Sagaran atau laut kecil merupakan tempat bertamasya putera-puteri Adipati. Sagaran tersebut ditempati perumahan rakyat dan lapangan tennis. Disebelah barat lapangan tennis, berdiri kamarrata merupakan tempat kereta kencana, dan dibelakangnya berdiri kandang kuda lengkatp dengan dua taman. Taman di sebelah timur ditempati Buaya putih yang dipelihara oleh Adipati pada jaman itu. Sedangkan taman di sebelah barat merupakan tempat pemandian kuda. Kini, bagian belakang, Kamarrata didirikan Taman Kanak-Kanak, dan disebelah selatannya didirikan Gedung Olahraga atau lapangan bulutangkis. Di belakang lapangan bulutangkis didirikan perumahan rakyat. Di sebelah barat Kamarrata didirikan Pancaniti (undakan lima) di dekat Lonceng yang merupakan Gedung Pengadilan Keraton. Di sebelah barat Gedong Pengadilan Keraton oleh Pemerintah Hindia Belanda didirikan rumah-rumah Komandan Barisan.

Di sebelah selatan Alun-alun didirikan Tangsi Prajurit Keraton yang kemudian diubah menjadi Korp Barisan Sumenep, pada tahun 1831 M. Di depan tangsi merupakan tempat latihan para prajurit keraton atau Korp Barisan Sumenep. Sedang disebelah utara alun-alun berdiri Gedung bertingkat atau Pangkeng Maleng yang ditempati oleh Adipati dengan keluarganya untuk menyaksikan kegiatan olahraga. Disebelah barat dan timur Pangkeng Maleng berdiri pertokoan memanjang ke utara, dahulu berfungsi sebagai pasar keraton.

Daerah tersebut oleh Pangeran Natakusuma dihadiahkan kepada Lauw Pia cucu Lanuw Kun Thing, sebagai arsitek Kraton dan Mesjid Jamik Sumenep. Disebelah timur kawasan pasar merupakan perkampungan. Kemudian pada jaman pendudukan Jepang di sebelah timur perkampungan dibongkar dan dijadikan Pasar Kambing.

 

Nilai-Nilai di dalam Kompleks Keraton Sumenep

Ketika agama Islam masuk dan berkembang di Indonesia, oleh Walisanga nama-nama yang sudah ada diubah kembali dengan mempergunaka bahasa Arab. Perubahan nama yang dilakukan iu merupakan salah satu cara mereka berdakwah dan mengenalkan Islam ke tengan-tengah masyarakatnya.

Di bawah ini terdapat beberapa contoh nama yang diberikan oleh Kyai Musa al Makhfuld dalam Al Jami’ah 1962 M. dan dikutip oleh Umar Hasyim dalam bukunya Sunan Kalijaga :

Dalang berasal juga dari bahasa Arab, dari kata “Dalla” yang artinya menunjukkan kepada jalan yang benar. Sedangkan filosofi nama keempat punakawan Pandawa itu, sebagai berikut : Semar, dari bahasa Arab “Simaar” yang artinya paku. Yang dikatakan kebenaran Agama Islam adalah kokoh, paku yang sudah tertancap, Simaaruddunyaa…

Alun-alun bukanlah dari bahasa jawa Asli karena bahasa jawa asli dari alun-alun adalah bacira. Kata alun-alun muncul ketika jaman kerajaan Demak mulai berkuasa. Alun-alun dari bahasa arab Allaun, yang artinya banyak macam atau warna.diucapkan dua kali menjadi, Allaun-allaun menunjukkan tempat bersama segenap rakyat dan penguasa di pusat kota.

Waringin dari asal kata bahasa Arab juga yaitu dari kata “Wara’iin”, artinya orang yang sangat berhati-hati. Orang-orang yang berkumpul mulai rakyat sampai penguasa dipusat kota (alun-alun) itu sangat berhati-hati memelihara dirinya dan menjaga segala undang-undang. (Prof. Dr. Slamet Mulayana, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Mojopahit, Inti Idayu Press. Jakarta 1983 : 305).

Menurut cerita tutur dari sesepuh keraton Sumenep, bahwa alun-alun kota Sumenep berbentuk huruf Arab (Allah) yang diuraikan sebagai berikut :

  • Hufu Alif pertama ialah jalan (yang sekarang menjadi jalan pasar 17 Agustus), yang dipisahkan dengan selokan.
  • Huruf Lam pertama, adalah Alun-alun sebeah utara,
  • Huruf Lam kedua, adalah Alun-alun sebelah selatan,
  • Huruf Ha’ adalah tangsi.

Antara huru Lam pertama dan kedua dipisahkan dengan jalan menuju mesjid Jamik Sumenep, apabila huru Alif dipisah dan huruf Lam pertama, kedua dan Ha’ disatukan maka menjadi huruf Allah (     ). Sedangkan alun-alunnya sendiri asal kata “allaun-allaun”. Menunjukkan tempat bersama segenap rakyat dan penguasa dipusat kota, yaitu Penguasa, Pegawai Negeri, Buruh, Pedagang, Cerdik Pandai (Cendikiawan) maupun para petani. Di alun-alun bagian selatan dan di sebelah utara ada pohon beringin atau waringin, asal kata dari bahasa Arab Wara’iin yang artinya orang yang sangat berhati-hati. Jadi orang yang berkumpul di alun-alun, harus berhati-hati memelihara dirinya dan menjaga segala undang-undang dan peraturan.

Antara Keraton dengan mesjid terdapat hubungan makna filosofi dengan pusatnya alun-alun kota Sumenep, yang melambangkan Habblumminallah, Hablumminannas dan Hablumminal Alamin, maksudnya dari alun-alun menghadap kebarat (masjid) menandakan ketimur (keraton Sumenep) adalah hubungan dengan sesama manusia, sedangkan alun-alunnya sendiri adalah hubungan antara manusia dengan alam seisinya.

Orang-orang yang berkumpul di Alun-alun (di pusat kota), bilamana mengadakan Hablumminallah, Hablumminannas,dan Hablumminallaalamin, harus pelan-pelan dan berhati-hati.

Mesjid Jamik Sumenep dan sekelilingnya memakai pagai tembok dan pintu gerbang yang berbentuk Gapua, dimaksudkan agar para jamaah lebih hati-hati berkonsentrasi dalam melaksanakan shalat dan mendengarkan Khotbah. Pintu Mesjid Jamik Sumenep berbentuk gapura asal kata dari bahasa Arab “Hafura” artinya masuk ketempat pengampunan Allah. Di atas Gapura terdapat dua lubang terbuka (tidak tertutup) ini diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu diatas kedua lambang mata tersebut terdapat ukiran segilima memanjang ke atas yang diibaratkan kepada manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap ke arah barat (qiblat) namun dipisahkan oleh gambar pintu seperti pintu yang ada di bawahnya pintu masuk/keluar masjid, ini melangbangkan bahwa apabila masuk kedalam masjid melakukan shalat jum’at harus memakai tatakrama dan harus melihat jangan sampai memisahkan kedua orang yang duduk bersama dan ketika iman keluar menuju Mimbar jangan sampai berjalan melangkahi leher seseorang.

Di atas Gapura terdapat dua pintu kanan-kiri yang diibaratkan kepada telinga manusia sedang ukiran segi lima memanjang keatas seperti tersebut diatas, duduk dengan rapi, tidak mengangkat kaki (ajurukkong, Bhs. Madura), tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak boleh berbicara. Ini melambangkan tidak boleh berbicara dan tidak menegur untuk diam (sebab yang menegur itu sudah memberikan andil berbicara), serta tidak boleh duduk dengan mengangkat kaki (ajurukkong Bhs. Madura).

Sekililing Gapura tersebut, diukir berbentuk rantai, ini melambangkan semua umat islam harus bersatu, tidak boleh berpecah belah, dan menjadi satu di bawah bendera ukhuwah islamiyah, sesuai dengan wasiatnya bahwa Mesjid itu diwakafkan kepada umat islam, yang menegakkan sholat di jalan Allah, bukan karena nafsu setan.

Di dalam Masjid tersebut ditanami pohon sawo (Sabu Bhs. Madura) dan pohon tanjung. Menurut sejarahnya, semua Masjid atau Mushalla ditanami pohon Sawo (Sabu) dan Tanjung, yang melambangkan harapan dari pendirinya, yang mengandung maksud adalah :

  • Sabu adalah menyatukan dari Sa dan Bu, yang artinya Sa adalah Shalat dan Bu adalah jha’ bu-ambu.
  • Tanjung adalah penyatuan dari Tan dan Jung, yang artinya Tan adalah Tandha, dan Jung adalah
  • Masjid sendiri merupakan kegiatan agama Allah.

Apabila dijabarkan mengandung maksud dan harapan sebagai berikut :

“ Sholat ja’bu-ambu (Jha’ga’ Pegga’), tanda ajungjung tenggi kegiatan Agama Allah. Maka dalam Bahasa Indonesianya adalah : Shalat lima waktu jangan ditinggalkan (jangan putus-putus), sebagai tanda menjungjung tinggi Agama Allah.


Lampiran IV

 

PEMASYARAKATAN POLITIK AJALA SOTRA

 

Dalam rangka memasyarakatkan politik Ajala Sotra pada waktu itu, maka Sultan Abdurrachma Pakunataningrat menciptakan busana adat pria sehari-hari dengan diberi nama : Ganalan atau Billa Banten. Perlengkapan dari busana adat itu, terdiri dari :

  1. Ikat kepala yang diberi nama : Gantong Re’-kere’.

Gantong = gantung, Re’-kere’ = anak anjing baru lahir, bulu dan kulitnya adalah putih kemerah-merahan, mirip dengan kulit dan rambut orang Belanda. Jadi Re’-kere’ diumpamakan orang Belanda.

  1. Kain untuk baju dan sarung, adalah kain wanita yang bermotif kembang, sedang sarung adalah sarung wanita yang bermotif kembang juga (sarung Pacenan). Ini mengandung maksud bahwa politik ajala sotra ini sangat halus, dan berhati-hai, seperti halnya perasaan dan hati-hati seperti kaum wanita.
  2. Memakai abinan keris, yang mengandung maksud, bahwa politik ajala sotra ini, sangat tajam dan ampu.
  3. Memakai ikat pinggang dari kain, berwarna :
    1. Merah dan kuning diberi nama : kepodang nyocco’ sare, mempunyai arti Raja berseri,
    2. Merah dan hijau daun, diberi nama : kapodang nyocco’ daun, mempunyai arti Raja Murka,
  4. Memakai selop, dan bagian muka tertutup, yang mengandung maksud bahwa perjalanan politik gejala sotra ini, kalau dilaksanakan dengan halus dan hati-hati, akan berjalan dengan lancar dan selamat, dengan tidak mendapat rintangan dan hambatan apapun saja.

 

Menurut cerita tutur di lingkungan keluarga Keraton Sumenep diterangkan, bahwa Kapodhang nyocco’ sare dan kapodhang nyocco’ daun, oleh Pangeran Diponegoro dijadikan salah satu nama dan kidung-kidung yang diciptakannya. Sedangkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dijadikan nama pada ikat pinggang busana adat Ganalan (Billa Banten).

Kapodhang nyocco sare dan kapodang nyocco daun dijadikan alat komunikasi dan hubungan untuk menyampaikan surat-surat yang berisi strategi, taktik dan siasat perang baik dari Sultan Abdurrachman Pakunataningrat sendiri, maupun yang dari Belanda.

Di dalam strategi, taktik dan siasat dalam politik ajala sotra, Sultan Abdurrachman Pakunataningrat menjelaskan, bahwa kalau akan mengambil madu, janganlah diambil semuanya, karena lebahnya akan mengamuk. Ambillah sedikit demi sedikit, sampai seluruh madu dapat diperolehnya.

 

Lampiran V

KETURUNAN

SULTAN ABDURRACHMAN PAKUNATANINGRAT

 

Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mempunyai isteri 4 (empat) orang dengan putera-puteri sebanyak 33 orang sebagaimana tersebut di bawah ini :

  1. Ajeng Hafifah (Ratu Pamekasan) yaitu isteri dari Pangeran Aria Raja Prawiradiningrat, yaitu putera sulun dari Panembahan Pamekasan, Mangkudiningrat.
  2. Ajeng Aria Moh. Saleh Natanegara, atau disebut Panembahan Natakusuma II atau disebut dengan Panembahan Rare, karena dia sakit mati urat (baroerte) atau lumpuh, beliau pengganti ayahnya memimpin pemerintahan di Sumenep 1854 – 1879 M.
  3. Pangeran Kusuma Sirnaningalaga, Kolonel Barisan di Sumenep, rumahnya di Pasasore (Karangduak, Sumenep).
  4. Raden Bagus Abdurrachman (se Gendhi’ bahasa Madura).
  5. Pangeran Surya Sinerangingrana, Letna Kolonel Memorie, rumahnya di mesjid Laju Desa Kepanjen Kecamatan Kota Sumenep yang dikenal dengan sebutan Pangeran Letnan, nama kecilnya R. Hamzah.
  6. Pengeran Aria Suryaningayuda, (Pangeran Mariyem) Kolonel Alteleri Barisan Sumenep. Rumahnya di Pacenan, sedang kuburannya berada di Asta Bandunga-Besuki (Situbondo).
  7. Pangeran Candraningprang (Pangeran Langsir), Mayor Barisan Sumenep. Ia senang pada kesenian topeng.
  8. Pangeran Suryadiputra (Pangeran Adi), Bendahara (Baitul Mal) Keraton Sumenep, rumahnya di Desa Kepanjen Timur dan Kepanjen Sumenep nama kecilnya R. Moh. Mas’od.
  9. Pangeran Suryamataram, rumahnya di pasar sore Sumenep.
  10. Pangeran Kusumadiputra (Pangeran Suma), rumahnya di Desa Kepanjen Timur Desa Kepanjen, Ahli lukis.
  11. Pangeran Suryaamijaya (Pangeran Ami) rumahnya di kampung Bujanggaan Desa Kepanjen Kecamatan Kota Sumenep, nama kecilnya ialah R. Jakfar Sadik. Ia merupakan seorang pujangg keraton, dan sekretaris dari panembahan Moh. Saleh Natakusuma II. Keahlian yang dimiliki Sultan Abdurrachman Pakunatiningrat (ayahnya) diturunkan kepada Pangeran Suryaamijaya, ahli bahasa dan sastra. Bahasa yang dikuasainya ialah Bahasa Sansakerta, Jawa Kawi, Arab, Belanda dan Inggris.
  12. Aria Jayawinata, rumahnya di Kampung Baru Sumenep.
  13. Ario Gondokusumo, rumahnya di Pangarangan.
  14. Aria Canraadikusuma, rumahnya di Pangarangan.
  15. Aria Prawirakusuma, rumahnya di Pangarangan.
  16. Aria Atmakusuma, rumahnya di Pangarangan.
  17. Ario Tirtakusuma, rumahnya di Pangarangan.
  18. Ayu Raja Lasem, rumahnya di Kampung Trate.
  19. Ayu Raja Rembang.
  20. Ayu Pangeran Raja Nitiadiningrat Raja Pasuruan.
  21. Ayu Pangeran Raja Pekalongan, rumahnya di Bangselok bekas SMP Taman Dewasa (TD).
  22. Ayu Tumenggung Mangku Kusuma rumahnya di Kampung Baru Desa Kepanjen Sumenep, Riykberstaur Sumenep.
  23. Ayu Raja Semarang.
  24. Ayu Jayingranapati.
  25. Ayu Cakranegara.
  26. Ayu Mertanegara.
  27. Ajeng Hamidah.
  28. Ajeng Kamaliyah.
  29. Ajeng Uluwiyah, isteri dari Pangeran Diponegoro.
  30. Ayu Mertanegara.
  31. Ajeng Akhmadiyah.
  32. Bagus Said, dan
  33. Bagus Asim.

Puteri yang tertua dari Sultan Pakunataningrat di Sumenep, yang bernama R. Ajeng Hafifah yang bersuami Pangeran Raja Pamekasan yaitu putera yang tertua dari Panembahan Mangkudiningrat. Ia mempunyai putera bernama R. Bandjir. Putera ini dicalonkan untuk mengganti Panembahan di Pamekasan dengan diberi gelar Pangeran Raja Suryakusuma. Ia beristeri puteri dari Pangeran Raja Prawira Adinigrat I (Pangeran Sutiknya) di Besuki. Sedangkan putera Sultan Abd. Rachman Pakunataningrat, yang bernama Pangeran Suryaadiputra kawin dengan R. Ajeng Endang Kaliangi (puteri dari Pangeran Diponegoro), sendang Pangeran Surya Amijaya kawin dengan Dewi Ratih (puteri dari Pangeran Diponegoro). Perkawinan Pangeran Suryadiputra dengan Endang Kaliangi, tidak dikaruniai keturunan.

Selanjutnya untuk memenuhi wasiat dari Panembahan Sumala membenahi, memperbaiki, dan memperindah Asta Tinggi, antara lain :

  1. Membenahi dan mengatur penjaga Asta Tinggi untuk pemeliharaan selanjutnya, dengan dibagi menjadi 8 kelompok yang dipimpin oleh seorang Loloran, dan wakilnya disebut Kebayan. Setiap kelompok beranggotakan 12 orang dengan mendapat tanah percaton dari tanah milik pribadi dari Panembagan Sumala. Hasil dari tanah percaton itu sebagai upah dari jerih payahnya sebagai Penjaga Asta Tinggi. Juga termasuk kuburan Sayyid Yusuf Talango, Pangeran Katandur dan Sidingpuri.

Setiap kelompok Asta Tinggi diberi gelar Kaji, dan dibelakangnya diberi nama prasasti makam yang berada di belakang Asta Tinggi yang wafat pada waktu menjalankan tapanya. Nama-nama tersebut oleh sultan Abdurrachman Pakunataningrat diubah begitu rupa sehingga menjadi harapan darinya, agar makam yang ada di belakang Asta Tinggi diziarahi. Nama-nama kelompok tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kaji Sengnga :  artinya, senga’ (awas ketahui)
  2. Kaji Buddi :  artinya, budi (dibelakang)
  3. Kaji Nangger :  artinya, ada pohon nangger
  4. Kaji Makam :  artinya, didekat pohon nangger ada makam
  5. Kaji Jaja Bangsa :  artinya, yang membela kejayaan bangsa
  6. Kaji Jaja Abdur :  artinya, yang membela kejayaan agama
  7. Kaji Sekkar :  artinya, Ziarahi
  8. Kaji Langgar :  artinya, bawa ke langgar (ke kyai) untuk dido’akan.

Prasasti ini prasati Belanda yang melanggar perjanjian pada waktu perundingan.

Kalau nama-nama tersebut disimpulkan, maka berbunyi sebagai berikut :

Bahasa Madura ”Senga’ sopaja ekaonenge, ja’ ebudina Asta Tinggi paneka, bada bungkana Nangger, Eseddi’na bungkana nangger bada makam yang membela kejayaan Bangsa dan membela kejayaan agama, Ngarep sopaja esekkare (eziarahi) mon ta’ sempat aziarah, keba kyai soro duwa’agi”.

Bahasa Indonesia ”Awas supaya diketahui bahwa dibelakang Asta Tinggi ini, ada pohon nangger dan didekatnya ada makam, yang membela kejayaan bangsa dan kejayaan agama, harap supaya diziarahi. Bilamana tidak sempat berziarah, supaya datang ke langgar, minta bantuan dido’akan kepada Kyai (Ulama)”.

Ini adalah himbauan dan harapan dari Sultan Abdurrachman Pakunataningrat kepada ummat Islam di Sumenep dan kepada para peziarah, agar kuburan yang berada di belakang Asta Tinggi, jangan sampai dilupakan agar diziarahi juga.

  1. Melanjutkan pembangunan pintu gerbang yang masih belum selesai termasuk memperbaiki dan memperindah, termasuk pula memperluas dan mempertinggi pagar tembok Asta Tinggi, yang disesuaikan dengan tingginya pintu gerbang.

Pekerjaan ini masih belum selesai dan diteruskan penyelesaiannya oleh putranya Panembahan Moh. Saleh Natakusuma II (Adipati Sumenep : 1854 – 1879 M).

Tim Penulis : Ketua     : Drs. H. Iskandar Zulkarnain, MM

                            Anggota : H. D. Zawawi Imron

                                                 R. B. Ahmad Rifa’i Agil

                                                 R. B. Abdul Mukkaram, BA

                                                 Edhi Setiawan, SH

                                                 Ibnu Hajar, M.Pd

                                                 Hidayat Raharja, S.Pd

                                                 KH. Jamaludin Kafie

                                                 Tadjul Arifien R